Dengan kemiripan kosmologi antara Parmalim dan Islam Wahdatul Wujud, maka Kristen mudah didakwahkan ke Barus dan Tapanuli. Karena kosmologi Kristen juga memiliki kemiripan dengan kosmologi neoplatonik dan Parmalim sendiri. Dalam hal ini juga ajaran Budha, Hindu dan Ru juga tidak mengalami malasah dalam masyarakatnya.
Masyarakat Barus dan Tapanuli dapat hidup beritingan karena tidak hanya bersaudara sesama suku batak. Tidak hanya karena dalam satu marga terdapat penganut agama yang berbeda-beda. Itu hanya perkara aksidental saja. Yang membuat keberagamaan yang mejemu di Barus dan Tapanuli menjadi harmonis adalah keidentikan kosmologi.
Sebenarnya di Peureulak, islamisasi awal bercorak platonik atau neoplatonik seperti fi Barus. Tetapi ajaran itu tergerus di Aceh pada periode Raniri.
Sebenarnya perdebatan Fansuri dan Raniri adalah perdebatan dua kosmologi besar yakni Platonik dan Aristotelian.
Teologi Asyari yang dibela Raniri dibangun dengan epistemologi Aristoteles. Wahdatul Wujud Fansuri ditopang oleh epistemologi Neoplatonik. Sehingga perdebatan filsafat di Nusantara sebenarnya sangat canggih.
Barus adalah simbol dan patron multikulturalisme.
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email


No Comments