Aho se segala kamu yang ghafilin
Yogya diketahui haqiqat al-washilin
Karena hakikat itu pakaian 'arifin
Menentukan jalan sekalian asyiqin
Manusia terlahir ke muka bumi telah
membawa sebuah janji yang telah diikrarkan, yakni penyaksian akan keesaan
Allah. Kesaksian itu membuat manusia melekat dengan kewajiban-kewajiban yang
telah ditetapkan Allah atasnya. Untuk itu, Al-Qur'an, petunjuk Nabi Muhammad,
dan hikmah harus senantiasa menjadi pedoman bagi manusia dalam rangka mengingat
ikrarnya dan melaksanakan segala kewajiban.
Al-Qur'an yang dijadikan imam
mengandung segala ketetapan tentang petunjuk bagi manusia dalam hidup. Sunnah
menggambarkan petunjuk itu secara lebih praktis. Sementara hikmah yang
dihasilkan dari mengaktifkan akal, kajian ilmu pengetahuan, dan perenungan filosofis,
memberi petunjuk bagi manusia untuk menyadari bahwa hakikat kehidupan adalah
menempuh jalan menuju wasilah Allah.
Orang yang meraih pengetahuan yang
tinggi adalah yang telah mencapai ma'rifat. Mereka yang disebut 'arifin itu
adalah yang telah menemukan makna terdalam dari wahyu Al-Qur'an, pemahaman akan
hadis Nabi, dan mengaktifkan akalnya dalam perenungan tertinggi hingga mencapai
pengetahuan yang nyata.
Dengan pengetahuan hakiki yang
telah diraih, maka mudahlah bagi insan pilihan untuk menempuh jalan menuju
wasilah Allah. Pengetahuan yang telah diraih merupakan puncak tertinggi dari
kebijaksanaan. Di sanalah tujuan hakiki dari kehidupan, yakni wasilah Allah,
didapatkan.
Haqiqat itu terlalu kamil
Barangsiapa tiada menurut dia terlalu jahil
Dari haqiqat itu jangan kau ghafil
Supaya dapat da'im beroleh washil
Manusia yang terlahir ke muka bumi
telah membawa sebuah janji yang diikrarkan, yakni penyaksian akan keesaan
Allah. Kesaksian itu menjadikan manusia terikat pada kewajiban-kewajiban yang
telah ditetapkan Allah atasnya. Oleh karena itu, Al-Qur'an, petunjuk Nabi
Muhammad, dan hikmah harus senantiasa menjadi pedoman bagi manusia dalam rangka
mengingat ikrarnya dan melaksanakan segala kewajiban.
Al-Qur'an yang dijadikan imam
mengandung berbagai ketetapan sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani
kehidupan. Sunnah menggambarkan petunjuk tersebut secara lebih praktis.
Sementara itu, hikmah yang lahir dari pengaktifan akal, kajian ilmu pengetahuan,
serta perenungan filosofis memberikan arahan bagi manusia untuk menyadari bahwa
hakikat kehidupan adalah menempuh jalan menuju wasilah Allah.
Orang yang meraih pengetahuan
tinggi adalah mereka yang telah mencapai ma'rifat. Mereka yang disebut 'arifin
adalah orang-orang yang telah menemukan makna terdalam dari wahyu Al-Qur'an,
memahami hadis Nabi, serta mengaktifkan akalnya dalam perenungan tertinggi
hingga mencapai pengetahuan yang nyata.
Dengan pengetahuan hakiki yang
telah diraih, menjadi mudah bagi insan pilihan untuk menempuh jalan menuju
wasilah Allah. Pengetahuan tersebut merupakan puncak tertinggi dari
kebijaksanaan. Di sanalah tujuan hakiki kehidupan, yakni wasilah Allah, dapat
dicapai.
Nabi Allah itu bangsanya Hasyim
Mendirikan din salat dan sha'im
Dari sekalian anbiya' ialah hakim
mutaba'atan nabi itulah fardhu yang lazim
Seperti orang yang tersesat di
hutan, begitulah manusia dalam kehidupan dunia: tidak tahu ke mana arah tujuan.
Diperlukan seseorang yang memahami jalan dengan baik untuk membimbingnya.
Begitulah manusia dalam kehidupan dunia, seperti orang yang tersesat karena
lupa akan ikrarnya dengan Allah saat berada di maqam asal, yakni sebelum hadir
ke dunia. Hanya dengan petunjuk dari Nabi Muhammad yang mengetahui jalan, umat
manusia dapat diselamatkan.
Petunjuk tauhid yang dibawa oleh
Nabi Muhammad menuntut kesaksian dalam segenap jiwa, termasuk dalam perbuatan.
Perbuatan merupakan indikator paling objektif dalam menunjukkan seluruh
aktivitas jiwa. Sebab itulah, seluruh perbuatan ibadah harus didasarkan pada
niat. Hanya dengan niat yang tulus, sebuah perbuatan ibadah dapat disebut
sebagai aktualisasi dari seluruh daya jiwa.
Ibadah-ibadah dalam Islam merupakan
bentuk kesempurnaan dari segala amal ibadah yang telah diajarkan oleh nabi-nabi
sebelumnya. Puasa dalam Islam, yang dalam perintah wajibnya dilaksanakan satu
bulan dalam setahun, yakni bulan Ramadhan, merupakan durasi yang sempurna
dibandingkan ragam durasi puasa dalam agama-agama sebelumnya. Demikian pula
salat, yang dalam perintah wajibnya dilakukan lima kali atau tujuh belas rakaat
dalam sehari, merupakan bentuk penyempurnaan ibadah salat, yang dalam ajaran
sebelumnya belum memiliki bentuk sesempurna sebagaimana dicontohkan oleh Nabi
Muhammad.
Nabi Muhammad adalah penutup para
rasul. Segala kebaikan dan pengorbanan nabi-nabi sebelumnya terhimpun secara
sempurna dalam diri beliau. Nabi-nabi terdahulu mendoakan azab bagi umat yang
tidak lagi dapat diajak dan diberi nasihat. Sementara itu, Nabi Muhammad
senantiasa mendoakan kebaikan bagi seluruh umatnya. Kebaikan beliau kepada umat
tiada terhitung. Pengorbanannya demi agar umat manusia memperoleh jalan yang
lurus merupakan pengorbanan yang luar biasa. Oleh karena itu, sudah sewajarnya
manusia mengikuti segala ajakan Nabi Muhammad dan meninggalkan apa saja yang
tidak beliau kehendaki bagi umatnya. Sebab seluruh pengorbanan dan ajakan
beliau tidak lain adalah demi kebaikan seluruh manusia di dunia dan akhirat.
Syahadat dan shalat amal yang 'azhim
Puasa dan zakat hajj bi al-ta'zhim
Inilah fardhu pada sekalian salim
Supaya dapat ke dalam jannat al-na'im
Prinsip utama menjadi seorang
muslim adalah iman. Di antara yang terpenting adalah cinta kepada Nabi
Muhammad. Cinta ini merupakan modal untuk menaati segala ajaran yang beliau
bawa. Wasilah terpenting adalah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi
Muhammad adalah rasul Allah. Salat merupakan aktualisasi dari cinta kepada
Allah dan Nabi Muhammad.
Syahadat awam adalah keyakinan akan
Allah dan rasul-Nya. Salat awam adalah sarana untuk mengingat Allah. Melalui
salat itulah jalan spiritual ditempuh hingga mencapai maqam spiritual
tertinggi, sehingga hadirlah syahadat sejati, yakni menyaksikan dengan segenap
jiwa akan keesaan Allah. Dengan demikian, salat menjadi dialog antara insan
yang menyaksikan dan Allah yang disaksikan.
Pada akhirnya, muncul makrifat
bahwa hanya Allah yang merupakan wujud sejati, sementara selain-Nya adalah
manifestasi keindahan-Nya. Demikian pula puasa dan haji, yang pada awalnya
merupakan aktualisasi keimanan awam, kemudian menjadi bentuk manifestasi keindahan
Ilahi.
Salat, puasa, dan haji merupakan
kewajiban mutlak atas setiap muslim. Salat menghimpun seluruh bentuk ibadah; di
dalamnya terdapat makna syahadat, puasa, dan haji. Salat juga merupakan sarana
menuju wasilah kepada Allah. Dalam hal ini, kesatuan wujud menjadi cita-cita
salat. Segala penghormatan, keberkatan, salawat, dan kebaikan hanyalah milik
Allah.
Fardhu dan sunnat segera kerjakan
Itulah 'amal menerangkan jalan
Barang yang haram jangan kau makan
Supaya suci nyawa dan badan
Segala ibadah fardu merupakan
keniscayaan yang harus dilaksanakan manusia agar jiwa dan raganya menjadi
hidup. Jiwa yang senantiasa dalam keadaan hidup akan terus terbuka jalannya
menuju perjalanan spiritual. Jiwa yang hidup dan aktif dalam perjalanan spiritual
akan terus menghendaki ibadah-ibadah agar semakin dekat menuju wasilah Allah.
Kebutuhan pokok bagi jiwa dan raga adalah ibadah-ibadah wajib, sementara
ibadah-ibadah sunah merupakan nutrisi yang melengkapinya.
Dengan terpenuhinya kebutuhan jiwa
dan raga melalui ibadah, jalan spiritual akan semakin terbuka lebar. Semangat
untuk menempuh jalan spiritual akan terus tumbuh apabila jiwa dan raga dipenuhi
dengan ibadah wajib dan dilengkapi dengan ibadah-ibadah sunah. Dengan
terpenuhinya ibadah wajib serta konsistensi dan peningkatan ibadah sunah,
segala hal menuju wasilah Allah akan menjadi lebih mudah.
Ibadah wajib dan sunah merupakan
pembuka jalan spiritual. Namun, banyak penempuh jalan tersebut yang terjebak
oleh berbagai godaan. Semakin tinggi sebatang pohon tumbuh, semakin kencang
angin yang menerpanya. Demikian pula seorang penempuh jalan spiritual: semakin
tinggi pencapaiannya, semakin banyak godaan yang datang. Oleh sebab itu,
sebagaimana pesan dalam syair Hamzah Fansuri, apa pun yang diharamkan hendaklah
dijauhi. Segala sesuatu yang berpotensi menyempitkan jalan menuju wasilah Allah
harus ditinggalkan.
Jasad yang sehat sangat dibutuhkan.
Kesehatan tidak hanya diukur melalui ilmu gizi, tetapi juga melalui syariat
Nabi Muhammad. Manusia dianjurkan untuk mengonsumsi yang halal dan baik. Semua
itu akan memudahkan jiwa dalam menempuh jalan spiritual.
Barang siapa kasih akan yang haram
Tempatnya jahannam siksanya dawam
Kata ini dari Hadis dan Kalam
Yang haram itu ba'id dari Dar al-Salam
Dalam kehidupan, segala kebaikan
perlu dibiasakan sejak dini. Dengan demikian, segala amal baik—baik dalam
bentuk ibadah, akhlak, maupun muamalah—akan terbiasa dilakukan dalam kerangka
kebaikan dan kemaslahatan. Seseorang yang dididik dalam kebaikan bahkan tidak
akan membalas keburukan yang ditimpakan orang lain kepadanya dengan keburukan
pula, karena ia tidak terbiasa dan tidak memiliki kecenderungan untuk melakukan
keburukan.
Orang-orang yang tidak mendapatkan
pendidikan pembiasaan kebaikan akan tumbuh dalam kegamangan. Akibatnya, potensi
untuk berbuat keburukan menjadi lebih besar. Orang demikian dapat terjerumus
dalam perbuatan-perbuatan buruk. Terkadang, keburukan yang telah menjadi
karakternya itu tidak segera mendapatkan balasan. Oleh sebab itu, berdasarkan
keadilan Allah, manusia yang demikian akan mempertanggungjawabkan
perbuatan-perbuatannya dengan menerima balasan, termasuk siksa jahannam.
Banyak saintis dan filosof tidak
dapat membuktikan secara empiris dan rasional adanya balasan atas segala amal
perbuatan setelah kematian. Namun, sebagian filosof berusaha merasionalisasikan
eksistensi eskatologi dengan berargumen bahwa tidak mungkin dalam kehidupan
dunia yang singkat ini seluruh balasan dan dampak perbuatan dapat terwujud
secara sempurna. Seseorang yang melakukan kezaliman tidak selalu mendapatkan
balasan yang setimpal di dunia, meskipun sebagian balasan mungkin telah ia
rasakan. Demikian pula, korban kezaliman tidak sepenuhnya memperoleh keadilan
atas apa yang telah direnggut darinya. Oleh karena itu, baik pelaku maupun
korban akan mendapatkan keadilan yang sempurna di akhirat kelak.
Kepastian adanya hari pembalasan
tidak dapat sepenuhnya dipuaskan hanya melalui argumentasi rasional. Keyakinan
akan adanya hari tersebut diterima secara bayani, yakni melalui pengetahuan
berbasis wahyu, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an dan hadis.
Dengan keadilan Allah, setiap orang
akan memperoleh balasan atas segala perbuatannya. Meskipun pembalasan yang
sempurna diyakini terjadi pada hari kiamat, orang-orang yang berbuat keburukan
pada hakikatnya tidak akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Mereka akan
diliputi perasaan bersalah, gelisah, menyesal, dan frustrasi. Apabila tidak
berusaha menebus kesalahan, pelaku keburukan akan terus menjauh dari
kebahagiaan dan keselamatan.
Barang siapa tiada mandi junub
Menjadi 'ashi pada 'alam al-ghuyub
Pada ahl al-ma'rifah terlalu 'uyub
Manakan sampai ke marqhub al-qulub
Apabila seseorang meninggal dunia
tanpa bertaubat dan meminta maaf, maka ia harus menanggung segala akibat dari
keburukan yang telah dilakukannya. Setiap keburukan yang berkaitan dengan
hubungan kepada Allah harus ditebus dengan taubat. Adapun keburukan yang
dilakukan terhadap sesama manusia wajib disertai dengan permohonan maaf.
Apabila seseorang telah larut dalam
keburukan dan tidak memiliki tekad untuk bertaubat serta meminta maaf, maka
keburukan itu akan menjadi identitas dirinya. Meskipun keburukan-keburukan
tersebut tidak diketahui oleh manusia lain, pada hakikatnya jiwanya telah
terjerumus dalam keburukan. Pada dimensi batin, dirinya telah jauh dari
kebaikan Ilahi.
Orang yang telah larut dalam
keburukan akan terus mengisi dirinya dengan berbagai keburukan. Padahal jalan
tersebut merupakan jalan yang sulit. Sebaliknya, jalan kebaikan adalah jalan
yang mudah dan senantiasa mendapatkan dukungan dari dalam diri. Hal ini karena
pada fitrahnya manusia diciptakan untuk menyempurnakan jiwanya agar menjadi
lebih bersih dan mampu mengaktualisasikan sifat-sifat Ilahi.
Tujuan aktualisasi manusia adalah
untuk mengenal Allah dengan pengetahuan yang sempurna sesuai dengan potensi
Ilahi yang dimilikinya. Pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan hudhuri yang
diperoleh melalui hati. Apabila diri senantiasa dipenuhi oleh keburukan, maka
hati akan menjadi keruh dan semakin keruh, sehingga tidak mampu menjadi sarana
pemantul keindahan Allah.
Hadis mashur terlalu bayyinah
Mengatakan dunya kesudahan sayyi'ah
Hubb al-dunya ra's khathi'ah
Tark al-dunya ra's kull al-ibadah
Masalah yang kerap dihadapi adalah
mengenal suatu nasihat agama, namun tidak mengetahui sumbernya dari mana. Pada
satu sisi, hal itu ada baiknya karena nasihat tersebut telah menjadi kebiasaan.
Namun, dimensi negatifnya muncul ketika situasi tertentu membuat seseorang
menegosiasikan nasihat itu. Misalnya, ketika seseorang dihadapinya memiliki
peluang besar untuk menumpuk kekayaan dunia, sejenak ia berhenti dengan
mengingat bahwa kecenderungan duniawi itu dilarang agama. Akan tetapi, peluang
di depan mata membuatnya tergoda. Ia pun berpikir, “Saya tidak tahu nasihat itu
dari mana, mungkin hanya tafsir guru mengaji saja, bukan dari dalil yang
jelas,” sehingga lama-kelamaan dianggap bukan sebagai dalil yang sahih.
Akhirnya, ia merasa jika melanggarnya sedikit tidak akan menjadi masalah.
Mengenai ungkapan bahwa dunia itu
keseluruhannya adalah kesalahan, mencintai dunia adalah pangkal kesalahan,
sementara menjauhi dunia adalah pangkal ibadah, menurut Hamzah Fansuri
merupakan dalil yang sahih berasal dari hadis Nabi. Namun, dalam pemahaman
keagamaan umum saat ini, banyak hadis yang tidak digolongkan sebagai hadis
sahih justru menjadi pegangan kaum sufi. Alasan pertamanya adalah karena
hadis-hadis yang sesuai dengan basis epistemologi tasawuf falsafi banyak yang
tidak digolongkan sebagai hadis sahih yang diterima secara umum. Alasan kedua
adalah karena kriteria penggolongan tingkat validitas hadis antara kaum sufi
dan studi hadis berbeda.
Dunia adalah makhluk, dan makhluk
adalah segala sesuatu selain Haqq Ta'ala. Segala sesuatu selain Haqq Ta'ala
tidak memiliki eksistensi sejati. Jiwa manusia adalah manifestasi Ilahi,
sehingga jiwa yang sejati tidak memiliki padanan dengan segala sesuatu selain
Haqq Ta'ala. Hakikat sejati manusia adalah eksistensi jiwanya. Oleh karena itu,
ketertarikan manusia terhadap dunia merupakan suatu kekeliruan.
Hanya dengan menjauhkan diri dari
kecenderungan duniawi, manusia dapat kembali pada kodratnya dalam kesatuan
Ilahiah. Dengan menjauhkan diri dari kecenderungan duniawi, manusia menemukan
jalan kembali kepada Ilahi melalui kebersihan hati dan ibadah. Hanya dengan
hati yang bersih, yakni jauh dari kecenderungan duniawi, segala iktikad dan
pelaksanaan ibadah menjadi bermakna. Sebab itulah menjauhi dunia disebut
sebagai pangkal ibadah. Jika masih memiliki kecenderungan duniawi, yakni segala
kecenderungan selain kepada Allah, maka ibadah yang dilakukan akan menghadapi
berbagai rintangan.
Hadis ini dari Nabi Al-Habib
Qala: kun fi
al-dunya ka anna ka gharib
Barang siapa
da'im kepada dunya qarib
Manakan dapat
menjadi habib
Orang-orang sering kali memberikan
fokus yang sangat besar pada praktik ibadah secara detail, disertai penjelasan
yang mendalam. Para ulama mendayagunakan segenap kemampuan mereka untuk
membahas perkara-perkara ibadah dengan penuh perhatian. Karena itu, mereka
sangat dihormati dan mendapatkan posisi yang tinggi dalam masyarakat.
Namun, tidak sedikit ulama yang
terjebak dalam ketertarikan dunia. Mereka tidak menyadari bahwa aktivitas yang
dijalankan justru menyeret mereka ke dalam kecenderungan duniawi, sementara
mereka masih menganggapnya sebagai kerja profetik. Kegiatan keagamaan pun
berpotensi berubah menjadi sekadar simbolisme. Fatwa-fatwa yang diberikan
terkadang mengandung unsur pengamanan kepentingan duniawi, meskipun dibungkus
dengan simbol-simbol agama.
Hamzah Fansuri mengingatkan manusia
agar senantiasa sadar bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Manusia
seharusnya menempatkan diri seperti orang asing di dunia ini. Segala fasilitas
duniawi semestinya didedikasikan sepenuhnya untuk kepentingan akhirat.
Orang-orang yang terjebak dalam
kecenderungan duniawi akan terhalang dalam ibadahnya, hatinya menjadi kotor,
dan amalnya berpotensi sia-sia. Keadaan demikian menjauhkan seseorang dari
Allah, sebab melepaskan diri dari kecenderungan duniawi hingga hati menjadi
bersih merupakan syarat penting diterimanya ibadah. Hanya dengan ibadah yang
tulus, kedekatan dengan Allah dapat diraih.
Barang siapa sampai kepada sifatnya sakhi
beroleh warits dari Baginda 'Ali
Mereka itu yang bakhil qawi
Manakan dapat menjadi wali
Orang yang telah terlepas dari
kecenderungan duniawi adalah mereka yang tidak lagi menjadikan segala sesuatu
selain Allah—seperti harta benda, pangkat, jabatan, dan popularitas—sebagai
bahan pertimbangan utama dalam hidup. Mereka tidak disibukkan oleh berbagai
detail materi. Pangkat yang tinggi bukanlah prioritas; demikian pula
popularitas justru dihindari karena dapat menyeret pada sikap memuja diri
sendiri.
Kasih sayang Allah dan kecintaan
Nabi merupakan kenikmatan tertinggi. Mengorbankan diri demi memperoleh rida
Allah dan kecintaan Nabi adalah kebahagiaan yang luar biasa. Siapa yang
dicintai Nabi, dialah yang memperoleh hikmah. Melalui dirinya, ilmu mengalir
sebagai pemuas dahaga orang-orang yang merindukan kasih sayang Allah.
Adapun orang yang hatinya masih
bertaut dengan dunia akan mengalami kesulitan dalam meraih kasih sayang Allah
dan syafaat Nabi Muhammad. Mereka beribadah dalam keadaan hati yang keruh,
sehingga pikiran menjadi tidak fokus dan kekhusyukan sulit tercapai.
Hanya dengan pelaksanaan syariat
yang sempurna seseorang dapat memasuki tarekat yang sarat dengan pengamalan
syariat tersebut. Tarekat yang dijalani secara konsisten dan berkesinambungan
akan mengantarkan seseorang pada hakikat perjalanan spiritual. Pada tahap ini,
berbagai hijab tersingkap, hingga yang tersisa hanyalah kesatuan yang lazim
disebut sebagai makrifat.
Sabda Rasul al-shaki habib Allah
Yakni: Shaki itu wali Allah
Barang siapa da'im ba'id Allah
Dunya akhirat dialah 'aduww Allah
Barang siapa yang hatinya telah
bersatu dengan Allah, tidak akan ada apa pun dari unsur duniawi yang membuatnya
tertarik. Hatinya selalu tenang dan dipenuhi dengan segenap kebahagiaan. Segala
persoalan duniawi yang membuat banyak orang sibuk, bagi mereka yang hatinya
telah menyatu dengan Allah bukanlah suatu persoalan. Ia hanya memiliki satu
fokus, yakni senantiasa menjaga kecintaan kepada Allah.
Orang yang telah menjadi kekasih
Allah tidak pernah memikirkan perkara duniawi. Hamzah Fansuri menjelaskan bahwa
mereka yang senantiasa mengusahakan kecintaan kepada Allah tidak pernah
memikirkan akan makan apa sebentar lagi, apalagi untuk berpikir akan makan apa
esok hari. Jika kebutuhan duniawi seperti makan saja tidak menjadi sesuatu yang
dipikirkan, apalagi perkara duniawi lainnya.
Hamzah Fansuri menunjukkan betapa
mereka yang hatinya menyatu dengan Allah sama sekali terlepas dari
kecenderungan duniawi. Perkara-perkara dunia yang menjerat kebanyakan manusia
justru menjauhkan mereka dari Allah. Sementara itu, kaum sufi adalah mereka
yang dalam hatinya hanya ada Allah. Dunia ini bersifat fana bagi mereka.
Adapun kebanyakan manusia telah
menjadikan dirinya sesat dari jalan yang benar. Dunia itu seperti lumpur hidup;
semakin hati terikat kepadanya, dunia akan terus menghisap dan menjauhkan dari
kemungkinan untuk selamat. Orang yang senantiasa sibuk dengan perkara duniawi
akan sulit merasakan ketenangan sejati, karena hatinya terus terikat pada
sesuatu yang bersifat sementara. Oleh karena itu, hanya dengan melepaskan
keterikatan terhadap dunia dan mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah,
seseorang dapat menemukan kebahagiaan yang hakiki.
Sabda rasul al-sakhi ḥabib Allah
Yakni: yang sakhi itu wali Allah
Barang siapa bakhil da’im ba’id Allah
Dunya akhirat ialah ‘aduwwu Allah
Nabi Muhammad telah menegaskan
bahwa mereka yang dermawan adalah kekasih Allah. Orang yang dermawan berarti
hatinya tidak bertaut dengan dunia. Mereka sadar bahwa harta merupakan titipan
dan bahkan dapat menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah. Sebab itulah,
siapa saja yang dermawan berarti ia adalah orang yang tidak menjadikan dunia
sebagai hijab antara dirinya dengan Allah. Siapa yang tidak berhijab dengan
Allah berarti menjadi orang yang dicintai-Nya.
Wali Allah adalah mereka yang tidak
memiliki jarak dengan Allah. Mereka pada hakikatnya merupakan penerus Nabi.
Namun, para wali tidak dapat diidentifikasi, karena yang mengenal wali Allah
hanyalah Allah sendiri.
Sementara itu, orang yang terlalu
besar cintanya kepada dunia sudah barang tentu jauh dari Allah. Harta benda
telah menjadi hijab antara dirinya dengan Allah. Ia telah terpedaya oleh
kenikmatan dunia dan gemar mengumpulkan harta. Orang demikian adalah mereka
yang dibenci Allah dan juga dijauhi manusia.
Orang yang kikir adalah orang yang
mengira bahwa segala kenikmatan dunia merupakan sumber kebahagiaan hakiki.
Padahal, sejatinya kenikmatan dunia itu menipu. Kenikmatan duniawi tidak lain
hanyalah sarana yang dapat menjauhkan diri dari Allah, sehingga membuat jiwa
tidak memperoleh ketenangan sejati.
Al-Sakhi ḥabib Allah wa-law kana fasiqan
Wa-l-bakhil ‘aduwwu Allah wa-law kana zahidan
Barang siapa sakhi kariman kamilan
Ialah sampai kepada ‘amalun shaliḥan
Orang dermawan, yakni mereka yang hati dan pikirannya
tidak bertaut dengan dunia, memiliki kemuliaan yang sangat tinggi di sisi
Allah. Bahkan orang dermawan itu jauh lebih mulia daripada mereka yang banyak
ibadahnya. Karena orang yang rajin beribadah belum tentu tidak memiliki hijab
dengan Allah. Bahkan sangat banyak orang yang hati dan pikirannya bertaut
dengan dunia namun pada lahirnya dia orang yang rajin beribadah. Orang demikian
tidak memiliki kualitas ibadah yang baik karena meskipun jasadnya sedang
melaksanakan ibadah, namun ibadahnya itu sulit diterima karena si pelaku ibadah
itu jauh hatinya dengan Allah.
Orang dermawan dapat melatih kesucian hati dengan
tindakan tersebut. Dengan membiasakan diri menjadi dermawan, terbangun
kesadaran bahwa harta dan segala perkara duniawi lainnya adalah titipan Allah
yang tidak boleh menjadi akrab dengan hati. Harta merupakan amanah yang akan
dipertanyakan Allah di hari akhirat. Hisab terkait harta dan kenikmatan duniawi
sangat berat di akhirat. Demikian pula orang yang dermawan itu biasanya
rezekinya akan ditambahkan oleh Allah. Orang dermawan akan menyadari bahwa
rezeki dari Allah adalah keberkatan dan harta benda beserta segala
kecenderungan duniawi lainnya dapat menjadi sarana yang membuat hijab dengan
Allah.
Orang yang dermawan sehingga menjadi sangat dekat dengan
Allah, ibadahnya yang sedikit langsung diterima Allah tanpa hijab. Kualitas
ibadahnya menjadi sangat tinggi. Orang yang sifat dermawan telah menjadi
karakter jiwa dan menjadi darah daging, tidak lain yang dia pikirkan kecuali
senantiasa terus mendekatkan diri dengan Allah. Mereka terus-menerus menjadi
sangat dengan dengan Allah melalui kedermawanan dan ibadah yang berkualitas. ` I
Orang dermawan kemudian sampai pada situasi hidup yang
senantiasa dalam kebaikan. Kebaikan awalnya tampak seperti sifat yang ia
sandang. Kemudian sifat baik yang dilakukan itu menjadi identitas dirinya.
Sehingga antara kedermawanan dengan kedirian orang dermawan itu tidak dapat
dipisahkan lagi. Bahkan orang-orang ketika mendengar kata dermawan akan
teringat pada si dermawan itu.
Mautmu berseru al-raḥil, al-raḥil!
Hai anak Adam umurmu qalil
Jangan kau lupakan haqiqat sabil
Supaya jadi sakhi seperti Khalil
Manusia yang akalnya telah matang
akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti dari mana manusia
berasal, apa yang sebenarnya harus dilakukan di dunia, dan akan ke mana setelah
meninggal dunia. Itu adalah pertanyaan alamiah sebagai tanda kematangan
pikiran. Pertanyaan itu bersifat metafisis dan jawabannya tentu dari perspektif
metafisika. Filsafat dan agama telah menyediakan jawabannya dalam versi
berbeda, namun memiliki napas yang sama.
Manusia memiliki kecenderungan
untuk meyakini bahwa setiap sesuatu yang dilakukan di dunia memiliki
konsekuensi di akhirat. Tidak adil kiranya jika manusia yang melakukan
kejahatan akan aman begitu saja setelah mati. Demikian juga orang yang
melakukan kebaikan, tidak mungkin tidak menerima hasil dari kebaikannya, baik
di dunia maupun di akhirat.
Dalam hal ini, manusia harus
senantiasa sadar bahwa tujuan sejati dari kehidupan dunia adalah mempersiapkan
diri sebaik mungkin agar di akhirat memperoleh kebahagiaan. Demikian pula,
manusia harus menghindari segala tindakan yang berkonsekuensi pada kemelaratan
di akhirat agar tidak menderita kelak. Kehidupan dunia yang sejenak harus
benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana mempersiapkan segala bekal menuju
akhirat. Segala tindakan manusia di dunia harus berlandaskan pada persiapan
kehidupan di akhirat kelak.
Dengan prinsip demikian, manusia
tidak hanya menjadikan ibadah sebagai sarana mempersiapkan diri menuju
kehidupan akhirat, tetapi juga menjadikan kedermawanan sebagai pakaian.
Kedermawanan benar-benar dapat menjadi sarana yang cukup efektif dalam rangka menyadarkan
manusia bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara menuju kehidupan
akhirat yang kekal. Dengan kesadaran ini pula, manusia dapat memiliki motivasi
untuk menyebarkan kebaikan dan berusaha mencegah keburukan sesuai dengan
kemampuannya.
Takabbur dan ghurur kerja syayá¹ani
Yaitulah jauh dari Raḥmani
Emas dan perak alat nafsani
Dimanakan sampai kepada rabbani
Apa yang disombongkan manusia
biasanya adalah sesuatu yang tidak menjadi ketertarikan jiwanya, yakni hal-hal
yang tidak berfaedah untuk pengembangan jiwa. Segala yang disombongkan itu
biasanya adalah perkara-perkara duniawi yang berpeluang menghijab manusia
dengan Allah. Ini adalah tindakan yang konyol karena justru hal-hal tersebut
seharusnya dihindari atau setidaknya dikendalikan sebagai sarana mendekatkan
diri kepada Allah.
Harta benda dan segala sarana
kecenderungan duniawi itu sejatinya menjadi sesuatu yang dihindari atau
setidaknya mampu dikendalikan sedemikian rupa sehingga menjadi sarana
mendekatkan diri kepada Allah. Ada sebagian orang yang menganggap segala harta
benda dan hal-hal yang terkait perkara duniawi adalah aib karena itu merupakan
segala hal yang dapat menghambat perkembangan jiwanya. Namun anehnya, ada orang
yang justru menjadikan hal-hal tersebut sebagai kebanggaan.
Kekacauan berpikir semacam itu
muncul dari ketidaksadaran atau kelupaan bahwa tujuan sejati manusia dalam
hidup di dunia adalah senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah,
menyucikan hati, dan menghindari segala perkara yang berpeluang menjauhkan diri
dari Allah. Sebab itu, orang-orang yang senantiasa sadar tentang tujuan sejati
manusia hidup di dunia akan menyayangkan orang-orang yang menjadi sombong
dengan harta benda dan hidup bermewah-mewahan.
Hamzah miskin amalnya thawil
Olehnya itu menjadi bakhil
Da’wanya tinggi kerjanya dalil
Manakan dapat dengan Rabb al-Jalil
Manusia yang ingin mendekatkan diri
kepada Allah harus senantiasa berusaha menjauh dari kecenderungan dunia. Dengan
menjauhkan diri dari kecenderungan duniawi, hijab dengan Allah akan hilang
sehingga ibadahnya menjadi berkualitas. Orang yang kikir akan kesulitan
melepaskan hijab dari Allah. Demikian pula, ibadahnya menjadi sulit diterima.
Orang yang sedikit ibadahnya
biasanya adalah mereka yang memiliki sifat kikir. Ketika beribadah, tidak
sampai kepada Allah. Tanpa disadari, hal itu membuat jiwanya kurang bahagia,
dan ketika mengarahkan diri pada kesibukan duniawi, ia justru menjadi lebih
bahagia di sana. Itu karena ia tidak menemukan kebahagiaan dalam beribadah.
Karena ibadahnya sulit tersampaikan, kenikmatan beribadah pun tidak dapat
dirasakan. Demikianlah, sifat kikir itu bertaut dengan keengganan beribadah,
sementara orang dermawan menemukan kenikmatan dalam ibadah karena hatinya tidak
bertaut dengan dunia.
Orang yang menikmati kecenderungan
duniawi adalah mereka yang merugi. Segala perbuatan mereka sia-sia karena semua
itu bukan kehendak jiwa. Hawa nafsu telah melingkupi orang yang kikir dan malas
beribadah. Jika mereka tidak melepaskan diri dari kecenderungan duniawi, di
akhirat nanti mereka akan merasakan kesulitan yang amat sangat.