Minggu, 09 Agustus 2026

thumbnail

Atmosfer Juara


 Para netizen selenge'an menghardik Mbappe dengan mengatakan bahwa selama keberadaannya di PSG membuat klub asal Paris itu malah tidak mendapatkan gelar Liga Champions. Argumentasi mereka, setelah Mbappe pindah ke Real Madrid, justru PSG juara dua kali berturut-turut. Messi dan Neymar juga turut dihardik. Mereka, sama seperti Mbappe, adalah pembawa sial ke PSG. Pernyataan itu seolah sebelum Messi-Neymar-Mbappe (MNM) hadir adalah langganan juara Liga Champions. Pret.


Padahal, kehadiran MNM yang pernah berkiprah di PSG itu sangat penting dalam rangka membangun mental juara dalam tim. Mereka adalah para pemain yang memiliki mental juara. Banyak pemain yang berkualitas, tetapi tidak punya mental juara. Buffon juga pernah singgah di PSG. Itu sangat bagus buat tim itu. Meskipun hanya satu musim di sana, kiper asal Italia itu telah memberikan satu masukan penting bagi tim PSG. Menurutnya, PSG punya semua peluang untuk menjadi juara Liga Champions, tetapi salahnya mereka tinggal di Paris. Kota itu membuat para pemain sibuk dengan urusan di luar sepak bola.


Sebelumnya, PSG hanya dikenal sebagai sebuah klub yang punya uang banyak, tapi tidak punya filosofi kuat dan tanpa mental juara. Kehadiran MNM membuat tim itu memiliki karakter. PSG yang sebelumnya hanya dilihat sebagai tim yang hanya mengandalkan uang, mulai disegani sebagai sebuah tim yang memiliki filosofi permainan dan mulai membangun mental juara. Hingga akhirnya berhasil menjadi juara Liga Champions secara berturut-turut.


Sebelum PSG ada Manchester City. Klub asal Inggris itu juga awalnya hanya dikenal sebagai klub yang tiba-tiba besar karena dibeli oleh juragan minyak asal Arab. Dan memang benar, punya banyak uang lalu membeli pemain-pemain mahal untuk setiap posisi tidak otomatis membuat sebuah klub menjadi juara. Yang dibutuhkan untuk menjadi juara adalah membangun tim yang bermental juara. Itu adalah urusan paling sulit dan menjadi penentu menjadi juara, juara Liga Champions.


Manchester City butuh waktu dua dekade untuk menjadi tim juara. Meskipun Liga Inggris sudah sering didapatkan, untuk menjadi juara sejati mereka harus berjuang keras. Dalam proses menjadi juara, yang sangat penting adalah membangun atmosfer juara, yakni membangun tim menjadi sebuah klub dengan mental juara. Dalam usaha itu, peran pemain dengan mental juara seperti Kompany, Silva, dan Aguero sangat penting. Merekalah yang telah menjadi pilar yang membangun dan menopang Manchester City menjadi tim dengan mental juara. Sebab itulah, meskipun setelah mereka pergi barulah Manchester City menjadi juara Liga Champions, namun yang menjadi legenda klub adalah mereka.


Para pemain yang bermental juara itu selama sekitar satu dekade telah membangun atmosfer juara bagi Manchester City. Keberadaan mereka persis seperti MNM di PSG. Jadi, menghina Mbappe karena setelah dia pergi barulah PSG juara dan seolah ketika berada di PSG dia menjadi penghalang klub itu menjadi juara Liga Champions, itu adalah kekonyolan ganda. Sarap. Kekonyolan pertama adalah menganggap seolah sebelum kedatangan Mbappe, PSG adalah langganan juara Liga Champions. Kekonyolan kedua, itu seperti menganggap Kompany adalah penghalang Manchester City meraih juara Liga Champions.

Kamis, 06 Agustus 2026

thumbnail

Al-Qur'an sebagai Dasar Hukum Islam

Al-Qur'an merupakan sumber utama ajaran Islam yang berfungsi sebagai pedoman moral sekaligus memberikan prinsip-prinsip dasar dalam mengatur kehidupan manusia. Meskipun demikian, hanya sebagian kecil ayat Al-Qur'an yang memuat ketentuan hukum secara eksplisit dan rinci. Sebagian besar kandungannya lebih menekankan pada nilai-nilai moral, keadilan, kemaslahatan, dan tuntunan etis yang menjadi landasan bagi kehidupan individu maupun masyarakat. Oleh karena itu, Al-Qur'an dipahami sebagai sumber utama keadilan yang memberikan arah bagi pembentukan sistem hukum Islam.

Seluruh hukum pada hakikatnya berasal dari Allah. Akan tetapi, dalam praktik kehidupan sosial, berbagai ketentuan yang berkembang dalam tradisi hukum Islam klasik, terutama yang berkaitan dengan hukum keluarga seperti poligami, perbudakan, dan sistem pelapisan sosial, perlu dikaji kembali sesuai dengan perkembangan zaman. Kajian tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah prinsip-prinsip dasar syariat, melainkan untuk memahami bagaimana nilai-nilai universal Al-Qur'an, seperti keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia, dapat diwujudkan dalam konteks masyarakat modern.

Dalam proses tersebut, para ahli hukum Islam (fuqaha) memiliki peran yang sangat penting. Tugas mereka bukan sekadar mengutip teks Al-Qur'an secara literal, tetapi menjadikan prinsip-prinsip umum yang terkandung di dalamnya sebagai pedoman yang dapat diterapkan pada berbagai persoalan kehidupan yang terus berkembang. Dengan demikian, ijtihad menjadi sarana untuk menjembatani antara ajaran normatif Al-Qur'an dengan realitas sosial yang dinamis. Hal ini juga menunjukkan bahwa ketentuan-ketentuan hukum dalam Al-Qur'an memiliki tingkat penjelasan yang berbeda-beda; ada yang bersifat sangat tegas dan rinci, sementara yang lain hanya memberikan prinsip-prinsip umum yang memerlukan penafsiran lebih lanjut.

Dalam bidang hukum keluarga, Al-Qur'an pada dasarnya memberikan fondasi atau kerangka dasar mengenai berbagai persoalan, terutama yang berkaitan dengan perkawinan, perceraian, hak dan kewajiban suami istri, serta kehidupan keluarga secara umum. Rincian mengenai pelaksanaan ketentuan-ketentuan tersebut kemudian dikembangkan melalui penafsiran para ulama, hadis Nabi, ijma', qiyas, dan berbagai metode ijtihad lainnya sehingga lahirlah sistem fikih yang lebih lengkap dan operasional.

Perkembangan hukum Islam merupakan hasil dari proses panjang yang mengintegrasikan keyakinan umat Islam terhadap wahyu Ilahi dengan upaya intelektual para ulama dalam memahami dan mengimplementasikannya. Al-Qur'an tetap diposisikan sebagai sumber hukum tertinggi yang memuat nilai-nilai universal dan ajaran ilahi, sedangkan fikih merupakan hasil pemahaman manusia terhadap sumber tersebut yang terus berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, hukum Islam tidak hanya dipandang sebagai kumpulan aturan yang bersifat statis, tetapi juga sebagai sistem yang berlandaskan wahyu dan mampu menjawab tantangan zaman melalui proses interpretasi yang bertanggung jawab,

Ahmad Yanis, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Langsa

 

Minggu, 26 Juli 2026

thumbnail

Bhoi

 


Setiap hari Selasa, pekan Geurugok pasti selalu ramai. Hari itu serombongan santriwati berkeliling pasar. Mereka diantar truk pick-up L-300 hitam untuk berbelanja. Santriwati-santriwati berbelanja kebutuhan sehari-hari. Tidak semuanya ikut pergi. Sebagian lagi menitipkan pada kawannya. Meskipun hampir setiap Selasa ada mobil yang dicarter, tetapi hampir pasti tidak semuanya rutin pergi. Bisa saja Selasa ini Maryani yang pergi, Selasa depan Nuraini, Selasa depannya lagi Rohani. Masing-masing bisa saling menitipkan belanjaan.

Biasanya para santri membeli odol dan sikat gigi. Sabun juga. Beberapa membeli kitab. Sangat sering kitab yang dibeli di hari pekan bukan kitab yang dianjurkan. Kitab-kitab itu dibeli untuk dibaca sendiri saja. Sementara kitab-kitab untuk pengajian memang sudah tersedia di dayah.

Hari ini Maryani punya beberapa titipan dari teman. Maimunah menitipkan odol. Rohani menitipkan tomat dan lada. Hikmah menitip dibelikan jagung beureutoh, sejenis makanan seperti popcorn yang diolah dari jagung, dimasukkan ke dalam sebuah wadah mirip meriam dan diberi api. Beberapa menit kemudian keluar ledakan keras pertanda jagung beureutoh sudah sedia. Semua titipan itu sudah dibeli Maryani. Tetapi ada satu yang belum dibeli yaitu kue bhoi titipan Nuraini. Bhoi adalah makanan yang rasanya mirip bolu. Adonannya dibakar di atas cetakan berbentuk bunga dan ikan. Makanan itu sangat terkenal di Geudong Pasee. Nuraini bukan orang Geudong. Tetapi dia sangat cinta pada bhoi. Dia bisa menghabiskan sampai dua puluh bhoi dalam sekali makan. Tentunya ditemani air sirup merah. Bila tidak bersama minuman, dia bisa mati tersedak.

Mengetahui waktu mereka tidak lama lagi, Maryani panik. Memang makanan adalah titipan yang tidak terlalu penting. Tetapi itu adalah titipan dari Nuraini, teman baiknya. Teman paling dekat selama mondok di dayah. Sebab itulah bhoi sudah ada sejak tiba di pasar. Tetapi benda itu sulit ditemukan. Makanya Maryani panik.

Di tengah kepanikan itu Maryani tidak sengaja menginjak barang dagangan seorang pedagang yang tidak punya meja untuk menggelar dagangannya. Pedagang itu sebenarnya berjualan keliling. Tetapi bila menemukan kerumunan pengunjung pasar dengan jumlah banyak, dia langsung mangkal di salah satu persimpangan pasar. Saat melihat ada yang menginjak barang dagangannya, si penjual sempat naik darah. Maryani jadi takut. Lalu melihat ke arah si pedagang dengan raut wajah penuh sesal dan harap maaf.

Melihat yang menginjak dagangannya adalah seorang perempuan muda, manis, wajahnya polos, maka si pedagang langsung kehilangan darahnya. Semua darah itu berkumpul di hati. Hatinya langsung menumbuhkan sebuah rasa yang sulit dijelaskan. Manusia menyebut perasaan itu adalah cinta. Cinta pada pandangan pertama. Sang pedagang yang bernama Ahmad itu kini darahnya penuh dengan cinta. Cinta yang diciptakan oleh hati saat darah-darah itu berkumpul di hati.

Sang mahaguru cinta, Khalil Gibran, berkata, cinta itu hanya hadir pada pandangan pertama. Bila tidak, ia tidak akan tumbuh hingga rambut memutih.

Dari marah langsung berubah cinta. Itulah perasaan Ahmad. Hatinya berkata, injak lagi daganganku itu. Seribu kali lagi.

"Maaf, Bang."

"Siapa nama?"

"Maryani."

"Sekolah di mana?"

"Tidak sekolah."

"Bagaimana bisa?"

"Mengaji di dayah."

"Sudah berapa lama?"

"Sudah sangat lama."

"Maksudnya?"

"Sudah di dayah sejak kecil."

"Luar biasa."

"Kenapa?"

Ahmad tidak punya pertanyaan lagi. Dia terpesona dengan gadis itu. Ahmad mencoba menarik napas. Berusaha keras. Berhasil. Setelah oksigen agak cukup di otak, Ahmad coba berpikir. Bila perempuan bersedia menjawab lima pertanyaan dari laki-laki, berarti dia juga punya rasa. Ahmad kaget dengan kejadian itu. Perempuan cantik, alim, dan sangat anggun punya perasaan kepadanya. Itu luar biasa. Padahal dia hanya seorang pedagang kecil.

"Maaf ya, Bang."

"Ya," jawab Ahmad cepat.

"Baiklah," jawab perempuan itu. Lalu dia mengangkat tangannya, setengah melambai. Senyum manis masih tersisa di bibirnya. Wajah itu semakin manis. Lalu Maryani berjalan lagi dengan cepat.

Ikuti dia. Ini cinta. Tidak boleh lenyap. Tidak ada dua di dunia perempuan seperti itu. Dan yang terpenting kamu jatuh cinta. Segera buru dia, perintah Ahmad pada dirinya.

Segera Ahmad mengemasi barang dagangannya. Dia memasukkan semua barang itu ke dalam dua plastik besar. Dilemparnya dua plastik itu ke punggung kirinya dengan digantung pada antara telunjuk dan ibu jari kiri. Disisirnya orang-orang di kerumunan pasar. Perempuan itu tidak terlihat. Terus dicarinya hingga pada sebuah persimpangan ditemukan. Menyadari ada yang mengikutinya, Maryani berbalik. Kembali dia memberi Ahmad sebuah senyum. Tetapi panik tidak bisa segera minggat dari wajah perempuan itu.

"Bhoi," seru perempuan itu.

Ahmad segera menunjuk sebuah toko kue tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Perempuan itu langsung berlari ke toko itu. Ahmad mencoba mengawasi supaya tidak lenyap dari pandangannya. Ahmad terus berdiri di tengah kerumunan orang. Ahmad terbawa perasaan. Tidak menyangka bisa bertemu dengan perempuan secantik itu. Bahkan yang lebih membuatnya tak sangka adalah, perempuan itu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaannya secara cepat. Ahmad yakin itu adalah pertanda bahwa perempuan itu juga punya rasa yang sama. Wah. Ahmad benar-benar merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia hari itu.

Ahmad mencoba merasionalkan pengalaman itu. Tepatnya kenapa perempuan itu juga punya rasa. Laki-laki itu mencoba mendeskripsikan dirinya: badannya tinggi, banyak perempuan menyukai pria tinggi. Wajahnya manis, setidaknya sudah beberapa orang mengatakan itu. Rambutnya menarik, itu sudah banyak orang bilang. Jadi wajar saja perempuan cantik itu tertarik padaku, pikirnya.

Tapi Ahmad coba terus berpikir. Jangan-jangan perempuan itu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan laki-laki itu karena posisinya sedang menjadi orang yang bersalah karena menginjak barang dagangannya. Nah, itu sangat mungkin juga, pikir Ahmad. Tetapi kenapa senyum perempuan itu sangat manis kepada dirinya? Mungkin karena memang perempuan itu tipe orang yang ramah. Jadi, dia bisa senyum manis kepada siapa pun.

Tersadar dari pikirannya, Ahmad melirik toko kue tempat perempuan itu masuk. Tidak terlihat lagi sosok Maryani. Dicarinya lagi. Diingatnya jilbab perempuan itu berwarna cokelat muda. Tidak ada. Seketika Ahmad dilanda panik. Dicoba pastikan ke dalam toko. Benar-benar tidak ada. Dicarinya ke beberapa penjuru hingga Ahmad tiba di pinggir jalan raya. Dilihatnya sebuah mobil pick-up L-300 berwarna hitam sedang menaikkan semua penumpangnya dan bersiap untuk berangkat. Semua penumpangnya gadis remaja. Ahmad sadar itu rombongan santriwati yang berbelanja ke Pasar Geurugok.

Diamatinya satu per satu. Nah. Dia menemukan Maryani yang telah duduk di dinding pick-up bersama santriwati lain. Ahmad menyeberang jalan untuk mendekati mobil itu. Maryani sempat melirik Ahmad. Tetapi segera buang muka sambil senyum manis. Jantung Ahmad terasa terbakar oleh dua hal. Pertama oleh senyum itu. Kedua karena tidak rela akan berpisah dengan perempuan itu.

Ahmad langsung lari ke parkiran mobil yang ada di kompleks masjid. Diraihnya engsel pintu mobil Katana biru. Sial. Mobil itu mogok. Lampu kontaknya tidak menyala. Ahmad diserang panik lagi. Kali ini bercampur takut. Tangan dan tubuhnya jadi gemetar. Tidak Tuhan, jangan sekarang, kumohon, pinta Ahmad dalam hatinya. Belum pernah dia berharap sebesar dan setulus itu. Tiba-tiba saja dia mendapat ide untuk menukar sekring-sekring yang terletak di bawah dashboard mobilnya. Ditukarnya sekring 30 paling kiri dan ditukar posisi dengan sekring 30 lain. Dicoba kembali putar kunci. Aneh, unik. Lampu kontaknya menyala. Ahmad bersyukur, sangat bersyukur. Dia sadar itu keajaiban besar. Jarang-jarang dia memperoleh keajaiban sebesar itu. Bahkan biasanya saat mobilnya mogok, sudah bernazar dan sudah salat tahajud sekalipun, mogok mobil itu tidak juga hilang. Mekanik bengkel-bengkel tentunya sudah menyerah sejak Katana tua itu berbelok masuk bengkel mereka. Dari luar saja kondisi mobil itu sudah membuat para mekanik merasakan firasat akan ditimpa sial. Setidaknya akan menguras waktu mereka jika mobil itu dipegang.

Pick-up L-300 itu belum menjauh. Ahmad coba mengejar. Berbelok mobil itu ke Jalan Elak di Krueng Mane. Lalu berbelok lagi ke kanan pada perempatan pertama. Terus diburu. Kini sudah memasuki jalan tidak beraspal. Sangat banyak persimpangan di jalan berbukit-bukit. Ahmad kehilangan jejak ban mobil. Dia berhenti di sebuah pertigaan menanjak. Tanjakannya sangat tinggi. Jalannya sangat berlumpur. Hujan baru saja turun di daerah itu. Ahmad turun dari mobil.

Dicoba selidiki apakah persimpangan curam itu meninggalkan jejak ban mobil. Ahmad tidak yakin. Dia putus asa. Lagi pula Ahmad tidak yakin mobilnya akan mampu mengatasi tanjakan itu. Lumpurnya sangat parah. Katananya bukan 4×4.

Kalau saja pengalaman Ahmad adalah film India, pasti sudah ada sebuah lagu saat itu. Tapi karena itu adalah pengalaman orang Aceh, lokasinya juga di Aceh. Tentunya harus ada sebuah lagu Aceh untuk itu.


Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...
Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...

Meuphoy matee nyoe cinta lon nyang phoen
ngon seuneulheuh
Masalah bhoi bek that gata meuweuh
Nyang peunteng mak ngen ayah ka geupeu
lheuh

Nyoe salah lon yoh toe han lon peureumeun
Nyoh ka jioeh baroe ulon meuweuh

Koen salah lon cinta lam hatee meualoen
Nyoe keuh Tuhan nyang peu-udep lam dada lon

Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...
Theung.. theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung... theung...


Link lagu: https://youtu.be/khOYErWU8mI







 

Minggu, 12 Juli 2026

thumbnail

Fansur adalah Ujong Pancu Peukan Bada Aceh Besar, Bukan Barus, Sumatera Utara

 


Konon, sejarah tidak selalu dibangun oleh bukti. Ia sering dibangun oleh kebiasaan mempercayai sesuatu yang telah berulang-ulang diucapkan. Semakin sering sebuah pendapat diulang, semakin besar pula peluangnya untuk dianggap kebenaran. Begitu jugalah yang terjadi dalam perdebatan tentang asal-usul Hamzah Fansuri dan letak negeri Fansur.

Bertahun-tahun lamanya, banyak sarjana menerima begitu saja anggapan bahwa Fansur adalah Barus di pesisir barat Sumatra. Anggapan itu tampak masuk akal sebab Barus sejak lama dikenal sebagai penghasil kapur barus, sementara Hamzah Fansuri sendiri pernah menulis, "Hamzah Fansuri di negeri Melayu, tempat kapur di dalam kayu." Tetapi benarkah bait itu memang dimaksudkan sebagai penanda tempat kelahiran? Tidak semestinya begitu.

Beberapa tahun belakangan, muncul temuan-temuan baru yang mengajak kita memandang persoalan ini dari sudut yang berbeda. Seorang sejarawan memaparkan kajian arkeologi bahwa peninggalan Islam tertua di Barus justru jauh lebih muda usianya dibandingkan nisan-nisan Islam di Pasai maupun di Gampong Pande, Banda Aceh. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa Fansur yang dikenal dalam sumber-sumber Arab bukanlah Barus, melainkan kawasan Ujong Pancu di pesisir Aceh Besar. Letaknya yang persis berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka menjadikan kawasan ini jauh lebih masuk akal sebagai bandar kosmopolitan, tempat kapal-kapal dari Arab, India, Persia, dan Tiongkok singgah berabad-abad lamanya.

Kalau begitu, nama "Fansuri" yang disandang Hamzah tidak lagi mesti dipahami sebagai nisbah kepada Barus. Ia justru bisa merujuk kepada Pancu atau Fansur, sebuah kota pelabuhan yang kini sebagian besar telah lenyap akibat abrasi pantai dan bencana tsunami yang berulang sepanjang sejarah. Dalam tradisi lisan masyarakat Ujong Pancu, keyakinan bahwa kawasan itu dahulu bernama Fansur masih bertahan sampai sekarang.

Pentingnya temuan ini mengemuka dalam sebuah seminar. Dalam forum itu, seorang sejarawan menyampaikan bahwa bukti arkeologi bawah laut mengindikasikan kawasan pesisir dari Ujong Pancu hingga Gampong Pande dan Alue Naga dahulu adalah daratan, yang kemudian mengalami abrasi dan tenggelam akibat perubahan geomorfologi. Berpijak pada temuan itu, sejarawan tersebut berpendapat bahwa identifikasi Fansur dengan Barus perlu ditinjau ulang. Maka, identifikasi Fansur dengan kawasan Ujong Pancu pun memperoleh pijakan historiografis dan arkeologis yang kian meyakinkan.

Salah satu persoalan historiografis penting dalam identifikasi Barus sebagai Fansur adalah adanya inskripsi pada makam Mu'azzam Shah di Barus yang memuat frasa min balad al-Fansur, "dari negeri Fansur." Andai Barus dan Fansur adalah tempat yang sama, penyebutan asal-usul semacam itu menjadi ganjil, sebab nisbah geografis pada sebuah epitaf lazimnya dipakai untuk menunjukkan daerah asal seseorang yang berbeda dari lokasi pemakamannya. Dengan demikian, inskripsi itu justru mengindikasikan bahwa Mu'azzam Shah dimakamkan di Barus, tetapi berasal dari wilayah lain yang dikenal sebagai Fansur. Dalam konteks inilah, bila Fansur diidentifikasi dengan kawasan Ujong Pancu, Peukan Bada, Aceh Besar, maka frasa min balad al-Fansur memperoleh penjelasan yang jauh lebih koheren secara historiografis. Mustahil rasanya bila dia orang Barus, lalu dimakamkan di Barus, tetapi masih pula disebutkan bahwa dia dari Barus. Pembacaan semacam ini sekaligus meneguhkan argumentasi bahwa Fansur adalah entitas geografis yang berbeda dari Barus. Maka, Mu'azzam Shah dapat dipahami sebagai tokoh yang berasal dari Fansur di Aceh Besar, yang kemudian dimakamkan di Barus.

 

Kamis, 11 Juni 2026

thumbnail

Piala Dunia 2026: Pentas Para Dewa


 Alhamdulillah. Semoga kita masih terus diberi umur panjang untuk kembali dapat menonton Piala Dunia 2026 hingga final yang mempertemukan Meksiko dan Portugal bulan Juli nanti.

Setiap Piala Dunia digelar, kita harus bersyukur karena Allah masih memberi kita tambahan umur empat tahun dan menjadi momen merenungkan apa saja amal yang telah kita lakukan selama umur empat tahun itu.

Saya masih ingat Piala Dunia 1994 yang digelar di Amerika Serikat ditayangkan TVRI. Waktu itu pertandingan biasanya sebelum subuh. Saya yang masih kelas 3 MIN mengendap-endap buka TV dengan volume 0, karena bila ketahuan bisa disemprot habis-habisan. Saya ingat Brazil melawan Rusia, Italia melawan Norwegia, Kamerun melawan Rumania, dan beberapa pertandingan lagi seperti Maradona yang saya kira waktu itu ditangkap karena narkoba, idola baru saya setelah Maradona tidak main lagi yakni Roberto Baggio yang gagal penalti. Siapa bilang sejarah tidak berulang, buktinya Piala Dunia 1994 berulang pada 2026: Norwegia kembali tampil, TVRI kembali menayangkan Piala Dunia, pertandingannya juga di Amerika Serikat. Bedanya saya tidak perlu lagi mengendap-endap karena takut ketahuan Ayah (Allahummaghfirlahu...).

Piala Dunia 1998 hanya dapat saya saksikan beberapa karena waktu itu sudah masuk pesantren. Karena belajar belum efektif, masih bisa menyaksikan beberapa pertandingan sebab asrama belum diperketat. Saya ingat Boban cat rambut 10 dan tidak menyangka Prancis menundukkan Ronaldo seperti memukul ayam mati. Waktu itu saya curiga itu setingan, namun waktu mengkaji dan menonton YouTube sekarang, memang Prancis sangat kuat, meskipun masih ada rumor Ronaldo diberi obat entah apa waktu malam. Yang pasti, namanya orang Brazil, kalau ke Eropa, apalagi Prancis, malam pasti tidak bisa tidur. Waktu itu saya benci Zidane karena dia cetak gol.

Piala Dunia 2002 saya menonton sangat banyak pertandingan. Bos saya waktu kami nonton bareng mewajibkan kami membela Senegal dengan alasan pemainnya muslim semua, jadilah kami seperti orang bodoh, namun pas pulang semua kagum pada kami. Ini pasti kebetulan. Itu saya duga yang membuat juara bertahan wajib ikut kualifikasi. Kami juga diwajibkan mendukung Turki karena muslim semua. Kecuali saat melawan Brazil sebab bos saya pengagum Cek Do. Cek Do juara, kami semua ditraktir mi kepiting.

Piala Dunia 2006 saya sedikit menonton karena sibuk mengelola training. Tapi sempat menonton si bocah pendek gondrong dimasukkan bermain untuk Argentina. Melihat dia bermain, saya berpikir kalau saja si bocah nomor punggung 19 itu jadi starter dan diberi dukungan dan kepercayaan penuh, Argentina pasti juara 2006. Saya suka Italia, tapi kesal karena Zidane dibuat kartu merah. Waktu itu saya sudah suka Zidane, suka sejak 2002 saat dia tendang rempong kalahkan Leverkusen di final Liga Champions.

Piala Dunia 2010 juga tidak banyak menonton, karena kesal Maradona tidak melaksanakan ide saya: bawa semua pemain di tim juara treble asuhan Mourinho dan tinggal tambahkan yang kurang. Hampir semua posisi ada pemain Argentina di Internazionale. Saya kesal dengan Kaka yang terlalu pede dan Robinho yang selengean. Mampus. Nani adalah manusia paling menyebalkan. Menurut saya Belanda harus minta maaf sambil guling-guling kalau mau juara Piala Dunia. Kalau tidak, sampai kiamat capaian tertinggi hanya runner-up. Itu teguran Tuhan.

Piala Dunia 2014 saya nonton di kampung. Meskipun Iran orang Syi'ah, masyarakat tetap mendukung karena yang dilawan adalah orang kafir. Saya kesal timnas Iran yang kecolongan dengan aksi solo Messi di menit akhir. Juga kasihan pada Messi yang gagal juara. Dari mana datangnya si bocah Goetze itu.

Romero sangat tangguh, tapi ditinggal pada Piala Dunia 2018. Akibatnya Argentina jadi pesakitan. Ternyata kekesalan saya kenapa bukan De Gea yang main pada Piala Dunia 2014 terjawab. Dia tidak punya mental yang kuat, jadi bulan-bulanan Ronaldo pada 2018.

Prancis juara, bahkan seandainya lapis kedua timnas itu yang dimainkan semua, kayaknya akan juara juga. Bayangkan ada Pogba dan Varane di usia yang pas.

Piala Dunia 2022 memang harus Argentina yang juara meskipun seribu voucher penalti harus diberikan, bila tidak dunia akan murung. Akan iba selamanya pada Messi. Luar biasa finalnya, pemainnya laki-laki semua, sedikit-sedikit pengecekan VAR, pertandingan berlangsung menegangkan namun nikmat. Saya pernah membayangkan siapa yang lebih hebat waktu itu antara Mbappe, Coman, dan Dembele. Rupanya Dembele tambah Coman masih belum mampu menyaingi kualitas Mbappe.

Piala Dunia 2026 adalah pentas para dewa. Argentina punya Messi, Brazil punya Neymar, Portugal punya C. Ronaldo. Meksiko punya Ochoa. Mereka itu tampil untuk memberikan energi bagi tim. Semoga di final Bang Dodo bisa cetak gol ke gawang kiper yang muncul empat tahun sekali itu.

Sabtu, 09 Mei 2026

thumbnail

Serangan Amerika Membuat Iran Semakin Kuat

 


Amerika justru telah membuat Iran semakin kuat. Selama empat puluh tujuh tahun, para pejuang Revolusi mendoktrinkan kebencian terhadap Amerika, sehingga mereka yang kini berusia hingga lima puluh tujuh tahun—yakni yang masih berusia sekitar sepuluh tahun ketika Revolusi dimulai—tumbuh menjadi generasi yang solid dan membawa semangat Revolusi yang tidak terpisahkan dari kebencian terhadap Amerika. Bahkan jika diasumsikan ada mereka yang kini berusia enam puluh tujuh tahun, atau berusia dua puluh tahun saat Revolusi berlangsung, yang pada awalnya tidak mendukung atau bahkan menentang Revolusi, sebagian dari mereka kemungkinan telah berubah pandangan selama empat puluh tujuh tahun itu, sementara sebagian lainnya, karena usia maupun keterbatasan akses, tidak lagi memiliki banyak ruang untuk bertindak. Dalam konteks ini, hampir dapat dikatakan bahwa rakyat Iran yang hidup hari ini adalah mereka yang dibesarkan dalam semangat Revolusi, dan semangat itu, sekali lagi, tidak dapat dipisahkan dari kebencian terhadap Amerika.

 

Dalam perjalanan Revolusi, terlebih dengan perkembangan teknologi digital, mulai muncul sebagian warga Iran yang mempertanyakan apakah kebencian terhadap Amerika selama ini hanyalah konstruksi ideologis yang ditanamkan untuk menjaga semangat Revolusi. Dari cara pandang semacam itu, lahir pula pemikiran bahwa semangat Revolusi yang terus diwariskan mungkin perlu ditinjau kembali. Karena itu, pada akhir tahun lalu muncul berbagai gerakan dan aksi massa yang mencoba mengguncang fondasi Revolusi. Pemerintah Iran tentu saja mengklaim bahwa gerakan tersebut digerakkan para provokator yang didalangi intelijen Israel dan Amerika. Namun, tampaknya keinginan untuk meninjau ulang Revolusi, atau setidaknya mempertanyakan kembali doktrin bahwa Amerika adalah ancaman utama, memang mulai tumbuh di kalangan sebagian anak muda Iran.

 

Dalam situasi itulah Amerika datang dan menyerang Iran. Peristiwa tersebut tentu saja menghapus keraguan sebagian warga Iran yang sebelumnya sempat berpikir bahwa kebencian terhadap Amerika hanyalah ilusi atau sekadar konstruksi ideologis Revolusi. Serangan itu membuat mereka yang ragu menjadi yakin, dan mereka yang sebelumnya sudah yakin menjadi semakin yakin, bahwa Amerika memang merupakan ancaman sebagaimana didoktrinkan selama empat puluh tujuh tahun—bukan isapan jempol, bukan pula doktrin semu, melainkan sesuatu yang nyata.

 

Iran tidak demikian. Jika Amerika memutuskan berperang secara terbuka dengan Iran, maka yang dihadapi bukan sekadar pemerintah atau kekuatan militer, melainkan generasi panjang yang dibentuk oleh semangat Revolusi selama puluhan tahun. Mereka yang kini berusia hingga lima puluh tujuh tahun adalah generasi yang sejak kecil hidup dalam narasi Revolusi dan ancaman Amerika. Karena itu, tekanan atau serangan dari luar justru akan memperkuat solidaritas nasional dan mempertebal keyakinan ideologis mereka. Dalam keadaan seperti itu, Iran tidak akan mudah dikalahkan, sebab yang dipertahankan bukan hanya negara, melainkan juga keyakinan yang telah ditanamkan selama empat puluh tujuh tahun.

 

Iran tidak demikian. Jika Amerika memutuskan berperang secara terbuka dengan Iran, maka yang dihadapi bukan sekadar pemerintah atau kekuatan militer, melainkan generasi panjang yang dibentuk oleh semangat Revolusi selama puluhan tahun. Perang itu, dalam bayangan pendukung Revolusi, bahkan baru akan berakhir ketika generasi yang sejak kecil dididik dalam semangat Revolusi telah habis seluruhnya. Dan andaipun yang tersisa hanyalah mereka yang berusia lebih tua dan mungkin memiliki pandangan anti-Revolusi, jumlahnya barangkali tidak akan banyak. Karena itulah, dalam cara pandang tersebut, Iran dianggap tidak akan bisa dikalahkan, sebab yang dipertahankan bukan hanya negara, melainkan keyakinan yang telah ditanamkan selama empat puluh tujuh tahun.

 

Dengan menyerang Iran, Amerika sesungguhnya telah memainkan permainan yang sulit diselesaikan. Serangan itu justru akan membuat semangat Revolusi semakin mengakar dan terus tersemai hingga generasi-generasi mendatang. Doktrin tentang kebencian terhadap Amerika dan bahaya yang ditimbulkannya menjadi semakin mudah ditanamkan. Sebelumnya, narasi mengenai ancaman Amerika dibangun lebih banyak melalui doktrin dan ingatan historis tanpa referensi aktual yang langsung dirasakan masyarakat. Namun demikian, narasi itu tetap berjalan secara lancar, mengakar, dan massif. Setelah serangan tersebut terjadi, referensi nyata untuk memperkuat doktrin itu menjadi semakin kuat dan mudah diterima oleh rakyat Iran.

Iran tidak bisa dikalahkan. Sensus penduduk mungkin mencatat bahwa rakyat Iran berjumlah sembilan puluh juta jiwa, tetapi pada hakikatnya mereka seolah menjadi satu tubuh yang digerakkan oleh semangat yang sama. Lihat saja ketika Amerika menyerang; dalam waktu relatif singkat, satu juta orang datang mendaftarkan diri sebagai relawan. Belum lagi keberadaan Pasukan Garda Revolusi, tentara aktif, serta rakyat sipil yang telah lama dibentuk dalam semangat yang serupa. Dalam keadaan seperti itu, yang dihadapi bukan lagi sekadar sebuah negara, melainkan keyakinan kolektif yang telah mengakar selama puluhan tujuh tahun.

 

Kamis, 30 April 2026

thumbnail

Kredit


Dulu ibu saya suka mengambil kredit supaya bagian dalam gudang bisa tampak seperti rumah. Kami tinggal di bekas gudang yang sebelumnya digunakan kakek saya sebagai tempat penyimpanan hasil bumi setelah dibeli di pasar Matangglumpangdua, untuk kemudian diangkut dengan Fuso dan dibawa ke Medan. Setelah kakek saya bangkrut, gudang itu difungsikan oleh ibu saya sebagai rumah bersama suami dan anak-anaknya. Saya lahir dan besar di situ.

Waktu saya masih sangat kecil, gudang yang kami jadikan rumah itu benar-benar tampak seperti gudang, termasuk bagian dalamnya, karena tidak memiliki perabotan apa pun. Ada sebuah sofa bekas milik nenek yang sudah lusuh dan menguning, terletak di salah satu pojok. Kondisinya yang sudah rusak membuatnya lebih mirip kandang ayam. Ayah saya sama sekali tidak punya rencana untuk membeli perabotan, apalagi barang-barang elektronik di rumah. Bahkan bila ada kerusakan pada bagian-bagian rumah, hanya diperbaiki sekadarnya. Saya menduga itu karena ayah sangat sadar bahwa kami hanya menumpang di rumah tersebut. Mengeluarkan uang terlalu banyak untuk rumah akan merugikan karena itu bukan miliknya. Membeli banyak perabotan juga akan menyulitkan bila harus pindah nanti.

Jadinya, ibu saya—manusia paling hemat di dunia itu—dengan menyisihkan sisa uang belanja yang berjumlah lima ribu rupiah per hari, memberanikan diri untuk mengambil kredit berbagai perabotan dan barang-barang elektronik. Ibu mengkredit sofa, meja makan, lemari hias, ranjang, parabola, tape, dan lainnya. Biasanya harga barang-barang itu sekitar lima ratus ribu rupiah. Setiap barang yang dikredit biasanya baru lunas setelah dua tahun. Barang-barang tersebut dikredit secara estafet: lunas yang satu, baru mengambil yang lain.

Kemarin terlintas dalam pikiran istri saya apakah ia akan berhenti kerja, mengingat jarak tempuh, intensitas pekerjaan yang semakin rumit, dan anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih. Malamnya, ia mengatakan bahwa bila jadi berhenti kerja, ia akan mengambil kredit. Dia sendiri belum tahu akan mengkredit apa. Istri saya bilang bahwa ibu rumah tangga yang tidak punya hubungan pertemanan luas dan tidak mengenal arisan akan melakukan kredit supaya ia tetap terhubung dengan dunia. Ungkapannya tersebut mengingatkan saya pada ibu saya yang merupakan seorang ibu rumah tangga biasa.


Berarti, bagi ibu, membayar kredit setiap bulan bukan sebuah bentuk dera sebagaimana pada masa penjajahan, melainkan justru itulah yang membuatnya terhubung dengan dunia yang sangat luas. Kredit membuat seseorang yang terisolasi—yakni seorang ibu rumah tangga biasa—terhubung dengan sistem dunia yang sedang berkembang. Kredit membuat seseorang menjadi bagian dari modernisme dan kemajuan zaman. Kredit juga membuat seseorang merasa menjadi bagian dari dunia yang sedang bergerak.

Dengan mengambil kredit, seorang ibu rumah tangga tampak sibuk, memiliki interaksi dengan orang-orang yang berpakaian rapi. Dengan mengambil kredit, minimal satu kali dalam sebulan, ibu rumah tangga memiliki kesempatan duduk rapi di hadapan meja kantor yang tertata, atau didatangi seseorang dengan pakaian rapi yang merupakan bagian aktif dari sebuah sistem besar untuk menemuinya.

Terhubung dengan dunia adalah kebutuhan manusia. Sebab itulah, meskipun sawo jauh lebih enak daripada apel, orang-orang tetap saja membeli apel. Bukan karena rasanya, melainkan karena apel yang datang dari negeri yang jauh—buah yang menjadi bagian penting dari komoditas pertanian global—menjadi penghubung seseorang dengan pasar global. Karena itu pula, seorang pemuda rela berjalan kaki dua kilometer setiap hari ke warung untuk membeli satu saset Brisk. Bukan karena khawatir rambutnya kusut, melainkan karena minyak rambut itu adalah bagian penting dari tren yang sedang berkembang. Warung kecil adalah unit terkecil dari pasar global. Datang ke warung menjadikan Anda terhubung dengan sistem pasar dunia dan tren merek global yang sedang bergerak.

 


About

recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.