Kamis, 29 Januari 2026

thumbnail

Rasa

 


Wujud adalah sesuatu yang paling jelas sehingga tidak membutuhkan penjelasan. Wujud juga tidak dapat didefinisikan karena definisi itu adalah melalui pembatasan dan deskripsi. Wujud itu tidak dapat didefinisikan, karena setiap definisi membutuhkan genus dan differensia. Sementara wujud itu tidak memiliki genus karena dia bukan batasan dari sesuatu dan tidak memiliki differensia karena wujud itu sendiri adalah paling khusus yang mana bahkan segala sesuatu terindividuasi dengannya. Wujud juga tidak dapat dideskripsikan karena tidak ada yang lebih jelas darinya dan tidak ada sesuatu yang sepadan dengannya, sementara deskripsi itu sendiri adalah menjelaskan dan menemukan padanan.

Usaha mendefinisikan wujud adalah perkara mustahil. Mengenal sesuatu adalah dengan memunculkan bayangan dari sesuatu dari realitas pada pikiran (mental), sementara tidak ada sesuatu apapun yang dapat menjadi padanan bagi wujud untuk dibayangkan dalam mental. Karena tidak memiliki padanan untuk menjadi sesuatu yang dibayangkan dalam mental itulah wujud tidak memiliki genus dan differensia.

Wujud itu adalah sesuatu yang sederhana, terindividuasi dengan zatnya sendiri, bukan pula genus bagi sesuatu. Wujud juga termasuk aksiden, baik aksiden umum maupun aksiden khusus. Apapun yang oleh mental dapat dianggap memiliki substansi dan aksiden, sebenarnya bukan hakikatnya, namun bayangan atas sesuatu, baik ia memiliki hakikat yang nyata maupun tidak. Jadi sesuatu yang dikategorikan, bukanlah hakikatnya, melainkan kerja mental yang menganalisisnya. Sementara wujud itu adalah hakikat sederhana yang bukan bagian dari sesuatu dan tidak menjadi pembagi bagi sesuatu, sehingga tidak dapat dianalisis secara kategorik.

Apapun yang dapat dianalisis dalam ranah mental adalah mahiyahnya sesuatu, bukan wujud(nya). Sementara wujud adalah mahiyah mutlak yang mana wujudnya adalah mahiyahnya itu sendiri, tidak dapat diklasifikasi secara mental.

Wujud itu bukan konsep umum sebagaimana konsep-konsep umum yang diabstraksikan dari berbagai partikular pada realitas eksternal. Ia bukan genus dan bukan spesies. Ia sangat jelas, tidak terdefinisikan, dan tidak tercakup kata-kata. Wujud hadir dengan dirinya, melalui dirinya, bukan melalui definisi atau penjelasan.

Wujud adalah satu, namun bukan dalam makna numerik. Perbedaan-perbedaan pada wujud bukan perbedaan hakiki melainkan perbedaan pada tingkatan, derajat, dan manifestasinya. Kemajemukan yang berasal dari keragaman tingkatan, derajat, dan manifestasi ini muncul karena perbedaan kapasitas dan kesiapan sehingga memunculkan berbagai kekhasan dan karakteristik.

Keterbatasan akal manusia membuatnya menganggap wujud adalah bagian dari konsep mental sebagaimana berbagai konsep mental. Konsep-konsep mental adalah bayangan dan representasi, sementara wujud adalah realitas itu sendiri. Ini adalah perkara yang sangat penting karena ternyata segala konsep-konsep mental itu adalah bayangan yang dicitrakan oleh mental dari wujud pada realitas eksternal. Dengan demikian, wujud yang tidak terbatas itu tidak berlaku atasnya hukum-hukum penalaran dan kategori-kategori disiplin ilmu, termasuk konsep-konsep seperti kesempurnaan dan kekurangsempurnaan.

Wujud adalah hakikat bagi segala sesuatu dan segala entitas. Hanya bila sesuatu itu memiliki hakikat yang nyata barulah dia memiliki dampak atau pengaruh. Wujud adalah hakikat itu sendiri. Wujud adalah satu dan hakiki. Kemajemukan berbagai entitas adalah karena perbedaan esensi (mahiyah)nya masing-masing. Pada setiap entitas, wujud yang hadir adalah wujud yang satu dan hakiki itu. Sementara makna dari ‘hakikat’ yang dipahami secara umum, sebenarnya adalah ketika suatu konsep terbangun setelah keunikannya muncul, misalnya ‘manusia’, ‘kuda’, ‘batu’ dan sebagainya. Setiap konsep itu memiliki dan merupakan suatu mahiyah. Jadi, makna ‘hakikat’ secara konseptual adalah keabsahan sesuatu menjadi konsep mental, yang sebenarnya konsep itu terbangun dari citra yang ditangkap akan atas wujud yang berada pada realitas eksternal.

Setiap entitas yang dapat dicitrakan mental dan terindividuasi adalah yang ditangkap pada realitas eksternal. Dalam hal ini penting memahami bagaimana sensitifnya pemikiran Mulla Sadra ketika dia mengatakan bahwa kemajemukan itu nyata. Setiap entitas yang berbeda yang mampu dikonsepkan adalah karena perbedaan mahiyahnya. Perbedaan mahiyah itu memang karena perbedaan atau kemajemukan pada realitas eksternal. Dalam hal ini, seolah Mulla Sadra sejalan dengan Ibn Sina yang menegaskan realitas eksternal yang menjadi wajubul wujud bi ghairihi adalah majemuk. Namun Mulla Sadra punya penegasan bahwa kemajemukan itu memang nyata, tetapi kemajemukan itu adalah pada perbedaan tingkatan, derajat, dan manifestasi wujud yang sejatinya tunggal, menyeluruh, dan melingkupi. Di sinilah distingsi penting metafisika Mulla Sadra yang membuatnya unik dibandingkan para filosof seperti Ibn Sina dan tidak identik dengan pemikiran tasawuf falsafi seperti Ibn ‘Arabi.

   Meskipun sesuatu yang hadir ke dalam konsep mental dipahami melalui cara akal memproyeksikannya, namun bayangan mental tersebut adalah sesuatu yang benar-benar berada pada realitas eksternal. Pada realitas eksternal, terlepas bagaimana gambaran pada mental, ianya ada (wujud). Kemudian ketika mental memahami bahwa terdapat banyak kesesuatuan (mahiyah), itu adalah karena pikiran melimitasi wujud menjadi berbagai keberadaan (mawjudat) disamping—sebagaimana pemikiran Mulla Sadra—wujud yang satu itu, pada realitas eksternal, juga menjadi kemajemukan (berdasarkan tingkatan, derajat, dan manifestasi) sekaligus tinggal.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About

recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.