Jumat, 20 Februari 2026

thumbnail

Transformasi Bahasa Melayu Pasai menjadi Bahasa Persatuan Nasional

 


Bahasa Melayu Pasai—yang kemudian dikenal sebagai bahasa Jawi—pernah menjadi nadi peradaban intelektual Islam di Nusantara. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan pengetahuan. Para ulama besar seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Al-Sumatrani dengan sadar memilih bahasa ini agar ajaran tasawuf dan pemikiran Islam dapat dipahami oleh masyarakat yang tidak menguasai bahasa Arab atau Persia. Bahasa Pasai menjadi bahasa rakyat—mudah dipelajari, mudah dicerna, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pilihan serupa dilakukan oleh Abdurrauf As-Singkili ketika menulis Mir’at al-Tullab untuk masyarakat Aceh dan dipersembahkan kepada Sultanah Safiatuddin. Dengan bahasa Jawi yang “dibangsakan kepada bahasa Pasai”, kitab hukum itu menjelma menjadi rujukan luas—dari pelajar hingga istana. Di tangan para intelektual seperti Nuruddin Ar-Raniri dan ulama lainnya, bahasa Melayu Pasai naik derajat menjadi bahasa ilmiah dan religius yang otoritatif.

Dari pesisir Pattani hingga Makassar, dari Riau hingga Mindanao, bahasa ini mengalir bersama jaringan dagang dan dakwah. Ia menjadi lingua franca kawasan maritim, menyatukan beragam suku dan budaya. Bahkan di masa kolonial, bahasa Melayu—dalam aksara Jawi—berubah menjadi medium perlawanan. Organisasi seperti Sarekat Islam, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah memanfaatkannya sebagai bahasa kesadaran kolektif.

Warisan kesusastraannya pun gemilang: Asrar al-‘Arifin, Syarabul ‘Asyiqin, hingga Bustanus Salatin memperlihatkan bahwa bahasa ini sanggup memikul gagasan metafisika yang rumit sekaligus kisah sejarah yang agung. Dari rahim tradisi Pasai inilah bahasa Melayu berkembang, dimatangkan, lalu diteguhkan sebagai bahasa persatuan pada momentum Sumpah Pemuda.

Dengan demikian, jauh sebelum Indonesia merdeka, bahasa Melayu Pasai telah merintis persatuan kultural Nusantara. Ia menyatukan ilmu dan iman, pasar dan pesantren, teks dan konteks—hingga akhirnya menjelma menjadi bahasa Indonesia, simpul identitas bangsa yang majemuk.


Lebih lengkapnya kunjungi artikel berikut:

https://jurnal.stainidaeladabi.ac.id/index.php/syaikhona/article/view/368/192




Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About

recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.