Saya optimistis dengan masa depan
pendidikan di Indonesia. Karena banjir, saya pulang ke rumah orang tua. Di
sana, anak saya yang sejak kecil sudah tinggal bersama neneknya kini sudah
kelas 2 SMA. Di sana, saya kekurangan buku bacaan. Sehari tidak membaca, saya
bisa depresi. Seminggu tidak melakukan itu, mungkin saya sudah bisa dibawa ke
Banda.Saya memperhatikan buku-buku yang
tersedia di rumah ibu. Ada Tuntunan Salat. Saya sudah membacanya ribuan
kali. Di kamar anak saya, saya menemukan buku pelajarannya. Saya membuka buku
fisika. Banyak sekali rumusnya, seperti melihat ke dalam botol tinta. Saya
membuka buku Bahasa Indonesia. Materinya luar biasa—tentang persuasi, wacana,
narasi, dan sebagainya. Menariknya, setiap materi langsung disajikan dalam
bentuk semacam studi kasus. Luar biasa cara belajar sekarang. Dulu, pendekatan
kita sangat kaku. Saya juga membuka buku Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti. Materinya tentang toleransi dan sebagainya. Saya membaca buku sejarah;
isinya sangat menarik, mulai dari imperialisme Eropa hingga Pergerakan
Nasional.
Materi-materi dalam buku SMA, bila
dipelajari dan dikuasai dengan baik, membuat seseorang yang hanya lulusan SMA
memiliki wawasan dan pengetahuan yang setara dengan alumni sarjana di luar
negeri. Perbedaannya hanya pada tingkat sarjana yang pembelajarannya lebih
spesifik. Saya juga pernah mempelajari seluruh pelajaran SMP. Kedalaman
materinya setara dengan SMA di luar negeri.
Dari segi level materi,
pembelajaran di Indonesia itu luar biasa. Namun, mengapa kualitas siswa di
Indonesia secara umum kurang membanggakan? Itu disebabkan faktor lain, salah
satunya pengajar. Secara umum, pengajar di sekolah kurang kreatif dalam menemukan
strategi dan pendekatan pembelajaran yang menarik. Peserta didik “nakal” adalah
tantangan, bukan hambatan. Namun, reward untuk pengajar masih kurang memadai
sehingga belum mendorong mereka mencurahkan segenap potensi dan kemampuannya.
Belakangan ini, hampir semua
pengajar telah memperoleh reward yang lebih baik. Semoga hal itu dapat
mendukung mereka mengerahkan daya untuk menghasilkan pendidikan dan pengajaran
yang lebih berkualitas. Pelatihan dan penguatan keahlian pengajar, baik secara
individu maupun kolektif, perlu menjadi perhatian penting. Pengajar tidak layak
dibebani administrasi dan laporan dalam berbagai aplikasi yang jumlahnya tak
terhitung. Pengajar tidak boleh sibuk dengan berbagai aplikasi. Tugas mereka
adalah memperhatikan perkembangan setiap peserta didik. Jika sibuk dengan
beragam administrasi dan aplikasi, tidak ada waktu untuk mengasah kompetensi
diri dan memantau perkembangan peserta didik.
Ketika kinerja diukur berdasarkan
absen dan bukti foto, masalah muncul. Mereka yang sibuk bekerja tidak sempat
berfoto. Sebaliknya, mereka yang sibuk berfoto tidak sempat bekerja. Mereka
yang fokus mengawal absen tidak sempat bekerja. Dan mereka yang sibuk bekerja
tidak sempat mengisi absen.
Saya yakin bahwa yang membedakan
kualitas sekolah pada umumnya dengan sekolah internasional berkualitas tinggi
di Indonesia bukan terletak pada level materi pembelajarannya, melainkan pada
kualitas pengajar dan fasilitas yang dimiliki. Oleh karena itu, selain
meningkatkan kualitas tenaga pengajar, fasilitas, sarana, dan prasarana
pendidikan juga perlu mendapat perhatian serius.
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email
No Comments