Selasa, 24 Maret 2026

thumbnail

Optimisme Masa Depan Pendidikan

 

Saya optimistis dengan masa depan pendidikan di Indonesia. Karena banjir, saya pulang ke rumah orang tua. Di sana, anak saya yang sejak kecil sudah tinggal bersama neneknya kini sudah kelas 2 SMA. Di sana, saya kekurangan buku bacaan. Sehari tidak membaca, saya bisa depresi. Seminggu tidak melakukan itu, mungkin saya sudah bisa dibawa ke Banda.

Saya memperhatikan buku-buku yang tersedia di rumah ibu. Ada Tuntunan Salat. Saya sudah membacanya ribuan kali. Di kamar anak saya, saya menemukan buku pelajarannya. Saya membuka buku fisika. Banyak sekali rumusnya, seperti melihat ke dalam botol tinta. Saya membuka buku Bahasa Indonesia. Materinya luar biasa—tentang persuasi, wacana, narasi, dan sebagainya. Menariknya, setiap materi langsung disajikan dalam bentuk semacam studi kasus. Luar biasa cara belajar sekarang. Dulu, pendekatan kita sangat kaku. Saya juga membuka buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Materinya tentang toleransi dan sebagainya. Saya membaca buku sejarah; isinya sangat menarik, mulai dari imperialisme Eropa hingga Pergerakan Nasional.

Materi-materi dalam buku SMA, bila dipelajari dan dikuasai dengan baik, membuat seseorang yang hanya lulusan SMA memiliki wawasan dan pengetahuan yang setara dengan alumni sarjana di luar negeri. Perbedaannya hanya pada tingkat sarjana yang pembelajarannya lebih spesifik. Saya juga pernah mempelajari seluruh pelajaran SMP. Kedalaman materinya setara dengan SMA di luar negeri.

Dari segi level materi, pembelajaran di Indonesia itu luar biasa. Namun, mengapa kualitas siswa di Indonesia secara umum kurang membanggakan? Itu disebabkan faktor lain, salah satunya pengajar. Secara umum, pengajar di sekolah kurang kreatif dalam menemukan strategi dan pendekatan pembelajaran yang menarik. Peserta didik “nakal” adalah tantangan, bukan hambatan. Namun, reward untuk pengajar masih kurang memadai sehingga belum mendorong mereka mencurahkan segenap potensi dan kemampuannya.

Belakangan ini, hampir semua pengajar telah memperoleh reward yang lebih baik. Semoga hal itu dapat mendukung mereka mengerahkan daya untuk menghasilkan pendidikan dan pengajaran yang lebih berkualitas. Pelatihan dan penguatan keahlian pengajar, baik secara individu maupun kolektif, perlu menjadi perhatian penting. Pengajar tidak layak dibebani administrasi dan laporan dalam berbagai aplikasi yang jumlahnya tak terhitung. Pengajar tidak boleh sibuk dengan berbagai aplikasi. Tugas mereka adalah memperhatikan perkembangan setiap peserta didik. Jika sibuk dengan beragam administrasi dan aplikasi, tidak ada waktu untuk mengasah kompetensi diri dan memantau perkembangan peserta didik.

Ketika kinerja diukur berdasarkan absen dan bukti foto, masalah muncul. Mereka yang sibuk bekerja tidak sempat berfoto. Sebaliknya, mereka yang sibuk berfoto tidak sempat bekerja. Mereka yang fokus mengawal absen tidak sempat bekerja. Dan mereka yang sibuk bekerja tidak sempat mengisi absen.

Saya yakin bahwa yang membedakan kualitas sekolah pada umumnya dengan sekolah internasional berkualitas tinggi di Indonesia bukan terletak pada level materi pembelajarannya, melainkan pada kualitas pengajar dan fasilitas yang dimiliki. Oleh karena itu, selain meningkatkan kualitas tenaga pengajar, fasilitas, sarana, dan prasarana pendidikan juga perlu mendapat perhatian serius.

 

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About

recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.