Kamis, 30 April 2026

thumbnail

Kredit


Dulu ibu saya suka mengambil kredit supaya bagian dalam gudang bisa tampak seperti rumah. Kami tinggal di bekas gudang yang sebelumnya digunakan kakek saya sebagai tempat penyimpanan hasil bumi setelah dibeli di pasar Matangglumpangdua, untuk kemudian diangkut dengan Fuso dan dibawa ke Medan. Setelah kakek saya bangkrut, gudang itu difungsikan oleh ibu saya sebagai rumah bersama suami dan anak-anaknya. Saya lahir dan besar di situ.

Waktu saya masih sangat kecil, gudang yang kami jadikan rumah itu benar-benar tampak seperti gudang, termasuk bagian dalamnya, karena tidak memiliki perabotan apa pun. Ada sebuah sofa bekas milik nenek yang sudah lusuh dan menguning, terletak di salah satu pojok. Kondisinya yang sudah rusak membuatnya lebih mirip kandang ayam. Ayah saya sama sekali tidak punya rencana untuk membeli perabotan, apalagi barang-barang elektronik di rumah. Bahkan bila ada kerusakan pada bagian-bagian rumah, hanya diperbaiki sekadarnya. Saya menduga itu karena ayah sangat sadar bahwa kami hanya menumpang di rumah tersebut. Mengeluarkan uang terlalu banyak untuk rumah akan merugikan karena itu bukan miliknya. Membeli banyak perabotan juga akan menyulitkan bila harus pindah nanti.

Jadinya, ibu saya—manusia paling hemat di dunia itu—dengan menyisihkan sisa uang belanja yang berjumlah lima ribu rupiah per hari, memberanikan diri untuk mengambil kredit berbagai perabotan dan barang-barang elektronik. Ibu mengkredit sofa, meja makan, lemari hias, ranjang, parabola, tape, dan lainnya. Biasanya harga barang-barang itu sekitar lima ratus ribu rupiah. Setiap barang yang dikredit biasanya baru lunas setelah dua tahun. Barang-barang tersebut dikredit secara estafet: lunas yang satu, baru mengambil yang lain.

Kemarin terlintas dalam pikiran istri saya apakah ia akan berhenti kerja, mengingat jarak tempuh, intensitas pekerjaan yang semakin rumit, dan anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih. Malamnya, ia mengatakan bahwa bila jadi berhenti kerja, ia akan mengambil kredit. Dia sendiri belum tahu akan mengkredit apa. Istri saya bilang bahwa ibu rumah tangga yang tidak punya hubungan pertemanan luas dan tidak mengenal arisan akan melakukan kredit supaya ia tetap terhubung dengan dunia. Ungkapannya tersebut mengingatkan saya pada ibu saya yang merupakan seorang ibu rumah tangga biasa.


Berarti, bagi ibu, membayar kredit setiap bulan bukan sebuah bentuk dera sebagaimana pada masa penjajahan, melainkan justru itulah yang membuatnya terhubung dengan dunia yang sangat luas. Kredit membuat seseorang yang terisolasi—yakni seorang ibu rumah tangga biasa—terhubung dengan sistem dunia yang sedang berkembang. Kredit membuat seseorang menjadi bagian dari modernisme dan kemajuan zaman. Kredit juga membuat seseorang merasa menjadi bagian dari dunia yang sedang bergerak.

Dengan mengambil kredit, seorang ibu rumah tangga tampak sibuk, memiliki interaksi dengan orang-orang yang berpakaian rapi. Dengan mengambil kredit, minimal satu kali dalam sebulan, ibu rumah tangga memiliki kesempatan duduk rapi di hadapan meja kantor yang tertata, atau didatangi seseorang dengan pakaian rapi yang merupakan bagian aktif dari sebuah sistem besar untuk menemuinya.

Terhubung dengan dunia adalah kebutuhan manusia. Sebab itulah, meskipun sawo jauh lebih enak daripada apel, orang-orang tetap saja membeli apel. Bukan karena rasanya, melainkan karena apel yang datang dari negeri yang jauh—buah yang menjadi bagian penting dari komoditas pertanian global—menjadi penghubung seseorang dengan pasar global. Karena itu pula, seorang pemuda rela berjalan kaki dua kilometer setiap hari ke warung untuk membeli satu saset Brisk. Bukan karena khawatir rambutnya kusut, melainkan karena minyak rambut itu adalah bagian penting dari tren yang sedang berkembang. Warung kecil adalah unit terkecil dari pasar global. Datang ke warung menjadikan Anda terhubung dengan sistem pasar dunia dan tren merek global yang sedang bergerak.

 


Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About

recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.