Dulu ibu saya suka mengambil kredit supaya bagian dalam gudang bisa tampak seperti rumah. Kami tinggal di bekas gudang yang sebelumnya digunakan kakek saya sebagai tempat penyimpanan hasil bumi setelah dibeli di pasar Matangglumpangdua, untuk kemudian diangkut dengan Fuso dan dibawa ke Medan. Setelah kakek saya bangkrut, gudang itu difungsikan oleh ibu saya sebagai rumah bersama suami dan anak-anaknya. Saya lahir dan besar di situ.
Waktu saya masih sangat kecil,
gudang yang kami jadikan rumah itu benar-benar tampak seperti gudang, termasuk
bagian dalamnya, karena tidak memiliki perabotan apa pun. Ada sebuah sofa bekas
milik nenek yang sudah lusuh dan menguning, terletak di salah satu pojok.
Kondisinya yang sudah rusak membuatnya lebih mirip kandang ayam. Ayah saya sama
sekali tidak punya rencana untuk membeli perabotan, apalagi barang-barang
elektronik di rumah. Bahkan bila ada kerusakan pada bagian-bagian rumah, hanya
diperbaiki sekadarnya. Saya menduga itu karena ayah sangat sadar bahwa kami
hanya menumpang di rumah tersebut. Mengeluarkan uang terlalu banyak untuk rumah
akan merugikan karena itu bukan miliknya. Membeli banyak perabotan juga akan
menyulitkan bila harus pindah nanti.
Jadinya, ibu saya—manusia paling
hemat di dunia itu—dengan menyisihkan sisa uang belanja yang berjumlah lima
ribu rupiah per hari, memberanikan diri untuk mengambil kredit berbagai
perabotan dan barang-barang elektronik. Ibu mengkredit sofa, meja makan, lemari
hias, ranjang, parabola, tape, dan lainnya. Biasanya harga barang-barang itu
sekitar lima ratus ribu rupiah. Setiap barang yang dikredit biasanya baru lunas
setelah dua tahun. Barang-barang tersebut dikredit secara estafet: lunas yang
satu, baru mengambil yang lain.
Kemarin terlintas dalam pikiran
istri saya apakah ia akan berhenti kerja, mengingat jarak tempuh, intensitas
pekerjaan yang semakin rumit, dan anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih.
Malamnya, ia mengatakan bahwa bila jadi berhenti kerja, ia akan mengambil
kredit. Dia sendiri belum tahu akan mengkredit apa. Istri saya bilang bahwa ibu
rumah tangga yang tidak punya hubungan pertemanan luas dan tidak mengenal
arisan akan melakukan kredit supaya ia tetap terhubung dengan dunia.
Ungkapannya tersebut mengingatkan saya pada ibu saya yang merupakan seorang ibu
rumah tangga biasa.
Berarti, bagi ibu, membayar kredit setiap bulan bukan sebuah bentuk dera sebagaimana pada masa penjajahan, melainkan justru itulah yang membuatnya terhubung dengan dunia yang sangat luas. Kredit membuat seseorang yang terisolasi—yakni seorang ibu rumah tangga biasa—terhubung dengan sistem dunia yang sedang berkembang. Kredit membuat seseorang menjadi bagian dari modernisme dan kemajuan zaman. Kredit juga membuat seseorang merasa menjadi bagian dari dunia yang sedang bergerak.
Dengan mengambil kredit, seorang
ibu rumah tangga tampak sibuk, memiliki interaksi dengan orang-orang yang
berpakaian rapi. Dengan mengambil kredit, minimal satu kali dalam sebulan, ibu
rumah tangga memiliki kesempatan duduk rapi di hadapan meja kantor yang
tertata, atau didatangi seseorang dengan pakaian rapi yang merupakan bagian
aktif dari sebuah sistem besar untuk menemuinya.
Terhubung dengan dunia adalah
kebutuhan manusia. Sebab itulah, meskipun sawo jauh lebih enak daripada apel,
orang-orang tetap saja membeli apel. Bukan karena rasanya, melainkan karena
apel yang datang dari negeri yang jauh—buah yang menjadi bagian penting dari
komoditas pertanian global—menjadi penghubung seseorang dengan pasar global.
Karena itu pula, seorang pemuda rela berjalan kaki dua kilometer setiap hari ke
warung untuk membeli satu saset Brisk. Bukan karena khawatir rambutnya kusut,
melainkan karena minyak rambut itu adalah bagian penting dari tren yang sedang
berkembang. Warung kecil adalah unit terkecil dari pasar global. Datang ke
warung menjadikan Anda terhubung dengan sistem pasar dunia dan tren merek
global yang sedang bergerak.
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email


No Comments