Kamis, 02 April 2026

thumbnail

Puisi Kedelapan Hamzah Fansuri: Jalan Menuju Wasil Allah


Aho se segala kamu yang ghafilin

Yogya diketahui haqiqat al-washilin

Karena hakikat itu pakaian 'arifin

Menentukan jalan sekalian asyiqin

 

Manusia terlahir ke muka bumi telah membawa sebuah janji yang telah diikrarkan, yakni penyaksian akan keesaan Allah. Kesaksian itu membuat manusia melekat dengan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah atasnya. Untuk itu, Al-Qur'an, petunjuk Nabi Muhammad, dan hikmah harus senantiasa menjadi pedoman bagi manusia dalam rangka mengingat ikrarnya dan melaksanakan segala kewajiban.

Al-Qur'an yang dijadikan imam mengandung segala ketetapan tentang petunjuk bagi manusia dalam hidup. Sunnah menggambarkan petunjuk itu secara lebih praktis. Sementara hikmah yang dihasilkan dari mengaktifkan akal, kajian ilmu pengetahuan, dan perenungan filosofis, memberi petunjuk bagi manusia untuk menyadari bahwa hakikat kehidupan adalah menempuh jalan menuju wasilah Allah.

Orang yang meraih pengetahuan yang tinggi adalah yang telah mencapai ma'rifat. Mereka yang disebut 'arifin itu adalah yang telah menemukan makna terdalam dari wahyu Al-Qur'an, pemahaman akan hadis Nabi, dan mengaktifkan akalnya dalam perenungan tertinggi hingga mencapai pengetahuan yang nyata.

Dengan pengetahuan hakiki yang telah diraih, maka mudahlah bagi insan pilihan untuk menempuh jalan menuju wasilah Allah. Pengetahuan yang telah diraih merupakan puncak tertinggi dari kebijaksanaan. Di sanalah tujuan hakiki dari kehidupan, yakni wasilah Allah, didapatkan.

 

Haqiqat itu terlalu kamil

Barangsiapa tiada menurut dia terlalu jahil

Dari haqiqat itu jangan kau ghafil

Supaya dapat da'im beroleh washil

 

Manusia yang terlahir ke muka bumi telah membawa sebuah janji yang diikrarkan, yakni penyaksian akan keesaan Allah. Kesaksian itu menjadikan manusia terikat pada kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah atasnya. Oleh karena itu, Al-Qur'an, petunjuk Nabi Muhammad, dan hikmah harus senantiasa menjadi pedoman bagi manusia dalam rangka mengingat ikrarnya dan melaksanakan segala kewajiban.

Al-Qur'an yang dijadikan imam mengandung berbagai ketetapan sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Sunnah menggambarkan petunjuk tersebut secara lebih praktis. Sementara itu, hikmah yang lahir dari pengaktifan akal, kajian ilmu pengetahuan, serta perenungan filosofis memberikan arahan bagi manusia untuk menyadari bahwa hakikat kehidupan adalah menempuh jalan menuju wasilah Allah.

Orang yang meraih pengetahuan tinggi adalah mereka yang telah mencapai ma'rifat. Mereka yang disebut 'arifin adalah orang-orang yang telah menemukan makna terdalam dari wahyu Al-Qur'an, memahami hadis Nabi, serta mengaktifkan akalnya dalam perenungan tertinggi hingga mencapai pengetahuan yang nyata.

Dengan pengetahuan hakiki yang telah diraih, menjadi mudah bagi insan pilihan untuk menempuh jalan menuju wasilah Allah. Pengetahuan tersebut merupakan puncak tertinggi dari kebijaksanaan. Di sanalah tujuan hakiki kehidupan, yakni wasilah Allah, dapat dicapai.

Nabi Allah itu bangsanya Hasyim

Mendirikan din salat dan sha'im

Dari sekalian anbiya' ialah hakim

mutaba'atan nabi itulah fardhu yang lazim

 

Seperti orang yang tersesat di hutan, begitulah manusia dalam kehidupan dunia: tidak tahu ke mana arah tujuan. Diperlukan seseorang yang memahami jalan dengan baik untuk membimbingnya. Begitulah manusia dalam kehidupan dunia, seperti orang yang tersesat karena lupa akan ikrarnya dengan Allah saat berada di maqam asal, yakni sebelum hadir ke dunia. Hanya dengan petunjuk dari Nabi Muhammad yang mengetahui jalan, umat manusia dapat diselamatkan.

Petunjuk tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad menuntut kesaksian dalam segenap jiwa, termasuk dalam perbuatan. Perbuatan merupakan indikator paling objektif dalam menunjukkan seluruh aktivitas jiwa. Sebab itulah, seluruh perbuatan ibadah harus didasarkan pada niat. Hanya dengan niat yang tulus, sebuah perbuatan ibadah dapat disebut sebagai aktualisasi dari seluruh daya jiwa.

Ibadah-ibadah dalam Islam merupakan bentuk kesempurnaan dari segala amal ibadah yang telah diajarkan oleh nabi-nabi sebelumnya. Puasa dalam Islam, yang dalam perintah wajibnya dilaksanakan satu bulan dalam setahun, yakni bulan Ramadhan, merupakan durasi yang sempurna dibandingkan ragam durasi puasa dalam agama-agama sebelumnya. Demikian pula salat, yang dalam perintah wajibnya dilakukan lima kali atau tujuh belas rakaat dalam sehari, merupakan bentuk penyempurnaan ibadah salat, yang dalam ajaran sebelumnya belum memiliki bentuk sesempurna sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad adalah penutup para rasul. Segala kebaikan dan pengorbanan nabi-nabi sebelumnya terhimpun secara sempurna dalam diri beliau. Nabi-nabi terdahulu mendoakan azab bagi umat yang tidak lagi dapat diajak dan diberi nasihat. Sementara itu, Nabi Muhammad senantiasa mendoakan kebaikan bagi seluruh umatnya. Kebaikan beliau kepada umat tiada terhitung. Pengorbanannya demi agar umat manusia memperoleh jalan yang lurus merupakan pengorbanan yang luar biasa. Oleh karena itu, sudah sewajarnya manusia mengikuti segala ajakan Nabi Muhammad dan meninggalkan apa saja yang tidak beliau kehendaki bagi umatnya. Sebab seluruh pengorbanan dan ajakan beliau tidak lain adalah demi kebaikan seluruh manusia di dunia dan akhirat.

 

Syahadat dan shalat amal yang 'azhim

Puasa dan zakat hajj bi al-ta'zhim

Inilah fardhu pada sekalian salim

Supaya dapat ke dalam jannat al-na'im

Prinsip utama menjadi seorang muslim adalah iman. Di antara yang terpenting adalah cinta kepada Nabi Muhammad. Cinta ini merupakan modal untuk menaati segala ajaran yang beliau bawa. Wasilah terpenting adalah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah rasul Allah. Salat merupakan aktualisasi dari cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad.

Syahadat awam adalah keyakinan akan Allah dan rasul-Nya. Salat awam adalah sarana untuk mengingat Allah. Melalui salat itulah jalan spiritual ditempuh hingga mencapai maqam spiritual tertinggi, sehingga hadirlah syahadat sejati, yakni menyaksikan dengan segenap jiwa akan keesaan Allah. Dengan demikian, salat menjadi dialog antara insan yang menyaksikan dan Allah yang disaksikan.

Pada akhirnya, muncul makrifat bahwa hanya Allah yang merupakan wujud sejati, sementara selain-Nya adalah manifestasi keindahan-Nya. Demikian pula puasa dan haji, yang pada awalnya merupakan aktualisasi keimanan awam, kemudian menjadi bentuk manifestasi keindahan Ilahi.

Salat, puasa, dan haji merupakan kewajiban mutlak atas setiap muslim. Salat menghimpun seluruh bentuk ibadah; di dalamnya terdapat makna syahadat, puasa, dan haji. Salat juga merupakan sarana menuju wasilah kepada Allah. Dalam hal ini, kesatuan wujud menjadi cita-cita salat. Segala penghormatan, keberkatan, salawat, dan kebaikan hanyalah milik Allah.

 

Fardhu dan sunnat segera kerjakan

Itulah 'amal menerangkan jalan

Barang yang haram jangan kau makan

Supaya suci nyawa dan badan

 

Segala ibadah fardu merupakan keniscayaan yang harus dilaksanakan manusia agar jiwa dan raganya menjadi hidup. Jiwa yang senantiasa dalam keadaan hidup akan terus terbuka jalannya menuju perjalanan spiritual. Jiwa yang hidup dan aktif dalam perjalanan spiritual akan terus menghendaki ibadah-ibadah agar semakin dekat menuju wasilah Allah. Kebutuhan pokok bagi jiwa dan raga adalah ibadah-ibadah wajib, sementara ibadah-ibadah sunah merupakan nutrisi yang melengkapinya.

Dengan terpenuhinya kebutuhan jiwa dan raga melalui ibadah, jalan spiritual akan semakin terbuka lebar. Semangat untuk menempuh jalan spiritual akan terus tumbuh apabila jiwa dan raga dipenuhi dengan ibadah wajib dan dilengkapi dengan ibadah-ibadah sunah. Dengan terpenuhinya ibadah wajib serta konsistensi dan peningkatan ibadah sunah, segala hal menuju wasilah Allah akan menjadi lebih mudah.

Ibadah wajib dan sunah merupakan pembuka jalan spiritual. Namun, banyak penempuh jalan tersebut yang terjebak oleh berbagai godaan. Semakin tinggi sebatang pohon tumbuh, semakin kencang angin yang menerpanya. Demikian pula seorang penempuh jalan spiritual: semakin tinggi pencapaiannya, semakin banyak godaan yang datang. Oleh sebab itu, sebagaimana pesan dalam syair Hamzah Fansuri, apa pun yang diharamkan hendaklah dijauhi. Segala sesuatu yang berpotensi menyempitkan jalan menuju wasilah Allah harus ditinggalkan.

Jasad yang sehat sangat dibutuhkan. Kesehatan tidak hanya diukur melalui ilmu gizi, tetapi juga melalui syariat Nabi Muhammad. Manusia dianjurkan untuk mengonsumsi yang halal dan baik. Semua itu akan memudahkan jiwa dalam menempuh jalan spiritual.

 

 

Barang siapa kasih akan yang haram

Tempatnya jahannam siksanya dawam

Kata ini dari Hadis dan Kalam

Yang haram itu ba'id dari Dar al-Salam

 

Dalam kehidupan, segala kebaikan perlu dibiasakan sejak dini. Dengan demikian, segala amal baik—baik dalam bentuk ibadah, akhlak, maupun muamalah—akan terbiasa dilakukan dalam kerangka kebaikan dan kemaslahatan. Seseorang yang dididik dalam kebaikan bahkan tidak akan membalas keburukan yang ditimpakan orang lain kepadanya dengan keburukan pula, karena ia tidak terbiasa dan tidak memiliki kecenderungan untuk melakukan keburukan.

Orang-orang yang tidak mendapatkan pendidikan pembiasaan kebaikan akan tumbuh dalam kegamangan. Akibatnya, potensi untuk berbuat keburukan menjadi lebih besar. Orang demikian dapat terjerumus dalam perbuatan-perbuatan buruk. Terkadang, keburukan yang telah menjadi karakternya itu tidak segera mendapatkan balasan. Oleh sebab itu, berdasarkan keadilan Allah, manusia yang demikian akan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya dengan menerima balasan, termasuk siksa jahannam.

Banyak saintis dan filosof tidak dapat membuktikan secara empiris dan rasional adanya balasan atas segala amal perbuatan setelah kematian. Namun, sebagian filosof berusaha merasionalisasikan eksistensi eskatologi dengan berargumen bahwa tidak mungkin dalam kehidupan dunia yang singkat ini seluruh balasan dan dampak perbuatan dapat terwujud secara sempurna. Seseorang yang melakukan kezaliman tidak selalu mendapatkan balasan yang setimpal di dunia, meskipun sebagian balasan mungkin telah ia rasakan. Demikian pula, korban kezaliman tidak sepenuhnya memperoleh keadilan atas apa yang telah direnggut darinya. Oleh karena itu, baik pelaku maupun korban akan mendapatkan keadilan yang sempurna di akhirat kelak.

Kepastian adanya hari pembalasan tidak dapat sepenuhnya dipuaskan hanya melalui argumentasi rasional. Keyakinan akan adanya hari tersebut diterima secara bayani, yakni melalui pengetahuan berbasis wahyu, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an dan hadis.

Dengan keadilan Allah, setiap orang akan memperoleh balasan atas segala perbuatannya. Meskipun pembalasan yang sempurna diyakini terjadi pada hari kiamat, orang-orang yang berbuat keburukan pada hakikatnya tidak akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Mereka akan diliputi perasaan bersalah, gelisah, menyesal, dan frustrasi. Apabila tidak berusaha menebus kesalahan, pelaku keburukan akan terus menjauh dari kebahagiaan dan keselamatan.

 

Barang siapa tiada mandi junub

Menjadi 'ashi pada 'alam al-ghuyub

Pada ahl al-ma'rifah terlalu 'uyub

Manakan sampai ke marqhub al-qulub

 

Apabila seseorang meninggal dunia tanpa bertaubat dan meminta maaf, maka ia harus menanggung segala akibat dari keburukan yang telah dilakukannya. Setiap keburukan yang berkaitan dengan hubungan kepada Allah harus ditebus dengan taubat. Adapun keburukan yang dilakukan terhadap sesama manusia wajib disertai dengan permohonan maaf.

Apabila seseorang telah larut dalam keburukan dan tidak memiliki tekad untuk bertaubat serta meminta maaf, maka keburukan itu akan menjadi identitas dirinya. Meskipun keburukan-keburukan tersebut tidak diketahui oleh manusia lain, pada hakikatnya jiwanya telah terjerumus dalam keburukan. Pada dimensi batin, dirinya telah jauh dari kebaikan Ilahi.

Orang yang telah larut dalam keburukan akan terus mengisi dirinya dengan berbagai keburukan. Padahal jalan tersebut merupakan jalan yang sulit. Sebaliknya, jalan kebaikan adalah jalan yang mudah dan senantiasa mendapatkan dukungan dari dalam diri. Hal ini karena pada fitrahnya manusia diciptakan untuk menyempurnakan jiwanya agar menjadi lebih bersih dan mampu mengaktualisasikan sifat-sifat Ilahi.

Tujuan aktualisasi manusia adalah untuk mengenal Allah dengan pengetahuan yang sempurna sesuai dengan potensi Ilahi yang dimilikinya. Pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan hudhuri yang diperoleh melalui hati. Apabila diri senantiasa dipenuhi oleh keburukan, maka hati akan menjadi keruh dan semakin keruh, sehingga tidak mampu menjadi sarana pemantul keindahan Allah.

 

Hadis mashur terlalu bayyinah

Mengatakan dunya kesudahan sayyi'ah

Hubb al-dunya ra's khathi'ah

Tark al-dunya ra's kull al-ibadah

 

Masalah yang kerap dihadapi adalah mengenal suatu nasihat agama, namun tidak mengetahui sumbernya dari mana. Pada satu sisi, hal itu ada baiknya karena nasihat tersebut telah menjadi kebiasaan. Namun, dimensi negatifnya muncul ketika situasi tertentu membuat seseorang menegosiasikan nasihat itu. Misalnya, ketika seseorang dihadapinya memiliki peluang besar untuk menumpuk kekayaan dunia, sejenak ia berhenti dengan mengingat bahwa kecenderungan duniawi itu dilarang agama. Akan tetapi, peluang di depan mata membuatnya tergoda. Ia pun berpikir, “Saya tidak tahu nasihat itu dari mana, mungkin hanya tafsir guru mengaji saja, bukan dari dalil yang jelas,” sehingga lama-kelamaan dianggap bukan sebagai dalil yang sahih. Akhirnya, ia merasa jika melanggarnya sedikit tidak akan menjadi masalah.

Mengenai ungkapan bahwa dunia itu keseluruhannya adalah kesalahan, mencintai dunia adalah pangkal kesalahan, sementara menjauhi dunia adalah pangkal ibadah, menurut Hamzah Fansuri merupakan dalil yang sahih berasal dari hadis Nabi. Namun, dalam pemahaman keagamaan umum saat ini, banyak hadis yang tidak digolongkan sebagai hadis sahih justru menjadi pegangan kaum sufi. Alasan pertamanya adalah karena hadis-hadis yang sesuai dengan basis epistemologi tasawuf falsafi banyak yang tidak digolongkan sebagai hadis sahih yang diterima secara umum. Alasan kedua adalah karena kriteria penggolongan tingkat validitas hadis antara kaum sufi dan studi hadis berbeda.

Dunia adalah makhluk, dan makhluk adalah segala sesuatu selain Haqq Ta'ala. Segala sesuatu selain Haqq Ta'ala tidak memiliki eksistensi sejati. Jiwa manusia adalah manifestasi Ilahi, sehingga jiwa yang sejati tidak memiliki padanan dengan segala sesuatu selain Haqq Ta'ala. Hakikat sejati manusia adalah eksistensi jiwanya. Oleh karena itu, ketertarikan manusia terhadap dunia merupakan suatu kekeliruan.

Hanya dengan menjauhkan diri dari kecenderungan duniawi, manusia dapat kembali pada kodratnya dalam kesatuan Ilahiah. Dengan menjauhkan diri dari kecenderungan duniawi, manusia menemukan jalan kembali kepada Ilahi melalui kebersihan hati dan ibadah. Hanya dengan hati yang bersih, yakni jauh dari kecenderungan duniawi, segala iktikad dan pelaksanaan ibadah menjadi bermakna. Sebab itulah menjauhi dunia disebut sebagai pangkal ibadah. Jika masih memiliki kecenderungan duniawi, yakni segala kecenderungan selain kepada Allah, maka ibadah yang dilakukan akan menghadapi berbagai rintangan.

 

    Hadis ini dari Nabi Al-Habib

     Qala: kun fi al-dunya ka anna ka gharib

     Barang siapa da'im kepada dunya qarib

    Manakan dapat menjadi habib

 

Orang-orang sering kali memberikan fokus yang sangat besar pada praktik ibadah secara detail, disertai penjelasan yang mendalam. Para ulama mendayagunakan segenap kemampuan mereka untuk membahas perkara-perkara ibadah dengan penuh perhatian. Karena itu, mereka sangat dihormati dan mendapatkan posisi yang tinggi dalam masyarakat.

Namun, tidak sedikit ulama yang terjebak dalam ketertarikan dunia. Mereka tidak menyadari bahwa aktivitas yang dijalankan justru menyeret mereka ke dalam kecenderungan duniawi, sementara mereka masih menganggapnya sebagai kerja profetik. Kegiatan keagamaan pun berpotensi berubah menjadi sekadar simbolisme. Fatwa-fatwa yang diberikan terkadang mengandung unsur pengamanan kepentingan duniawi, meskipun dibungkus dengan simbol-simbol agama.

Hamzah Fansuri mengingatkan manusia agar senantiasa sadar bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Manusia seharusnya menempatkan diri seperti orang asing di dunia ini. Segala fasilitas duniawi semestinya didedikasikan sepenuhnya untuk kepentingan akhirat.

Orang-orang yang terjebak dalam kecenderungan duniawi akan terhalang dalam ibadahnya, hatinya menjadi kotor, dan amalnya berpotensi sia-sia. Keadaan demikian menjauhkan seseorang dari Allah, sebab melepaskan diri dari kecenderungan duniawi hingga hati menjadi bersih merupakan syarat penting diterimanya ibadah. Hanya dengan ibadah yang tulus, kedekatan dengan Allah dapat diraih.

 

Barang siapa sampai kepada sifatnya sakhi

beroleh warits dari Baginda 'Ali

Mereka itu yang bakhil qawi

Manakan dapat menjadi wali

 

Orang yang telah terlepas dari kecenderungan duniawi adalah mereka yang tidak lagi menjadikan segala sesuatu selain Allah—seperti harta benda, pangkat, jabatan, dan popularitas—sebagai bahan pertimbangan utama dalam hidup. Mereka tidak disibukkan oleh berbagai detail materi. Pangkat yang tinggi bukanlah prioritas; demikian pula popularitas justru dihindari karena dapat menyeret pada sikap memuja diri sendiri.

Kasih sayang Allah dan kecintaan Nabi merupakan kenikmatan tertinggi. Mengorbankan diri demi memperoleh rida Allah dan kecintaan Nabi adalah kebahagiaan yang luar biasa. Siapa yang dicintai Nabi, dialah yang memperoleh hikmah. Melalui dirinya, ilmu mengalir sebagai pemuas dahaga orang-orang yang merindukan kasih sayang Allah.

Adapun orang yang hatinya masih bertaut dengan dunia akan mengalami kesulitan dalam meraih kasih sayang Allah dan syafaat Nabi Muhammad. Mereka beribadah dalam keadaan hati yang keruh, sehingga pikiran menjadi tidak fokus dan kekhusyukan sulit tercapai.

Hanya dengan pelaksanaan syariat yang sempurna seseorang dapat memasuki tarekat yang sarat dengan pengamalan syariat tersebut. Tarekat yang dijalani secara konsisten dan berkesinambungan akan mengantarkan seseorang pada hakikat perjalanan spiritual. Pada tahap ini, berbagai hijab tersingkap, hingga yang tersisa hanyalah kesatuan yang lazim disebut sebagai makrifat.

Sabda Rasul al-shaki habib Allah

Yakni: Shaki itu wali Allah

Barang siapa da'im ba'id Allah

Dunya akhirat dialah 'aduww Allah

 

Barang siapa yang hatinya telah bersatu dengan Allah, tidak akan ada apa pun dari unsur duniawi yang membuatnya tertarik. Hatinya selalu tenang dan dipenuhi dengan segenap kebahagiaan. Segala persoalan duniawi yang membuat banyak orang sibuk, bagi mereka yang hatinya telah menyatu dengan Allah bukanlah suatu persoalan. Ia hanya memiliki satu fokus, yakni senantiasa menjaga kecintaan kepada Allah.

Orang yang telah menjadi kekasih Allah tidak pernah memikirkan perkara duniawi. Hamzah Fansuri menjelaskan bahwa mereka yang senantiasa mengusahakan kecintaan kepada Allah tidak pernah memikirkan akan makan apa sebentar lagi, apalagi untuk berpikir akan makan apa esok hari. Jika kebutuhan duniawi seperti makan saja tidak menjadi sesuatu yang dipikirkan, apalagi perkara duniawi lainnya.

Hamzah Fansuri menunjukkan betapa mereka yang hatinya menyatu dengan Allah sama sekali terlepas dari kecenderungan duniawi. Perkara-perkara dunia yang menjerat kebanyakan manusia justru menjauhkan mereka dari Allah. Sementara itu, kaum sufi adalah mereka yang dalam hatinya hanya ada Allah. Dunia ini bersifat fana bagi mereka.

Adapun kebanyakan manusia telah menjadikan dirinya sesat dari jalan yang benar. Dunia itu seperti lumpur hidup; semakin hati terikat kepadanya, dunia akan terus menghisap dan menjauhkan dari kemungkinan untuk selamat. Orang yang senantiasa sibuk dengan perkara duniawi akan sulit merasakan ketenangan sejati, karena hatinya terus terikat pada sesuatu yang bersifat sementara. Oleh karena itu, hanya dengan melepaskan keterikatan terhadap dunia dan mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah, seseorang dapat menemukan kebahagiaan yang hakiki.

Sabda rasul al-sakhi ḥabib Allah

Yakni: yang sakhi itu wali Allah

Barang siapa bakhil da’im ba’id Allah

Dunya akhirat ialah ‘aduwwu Allah

 

Nabi Muhammad telah menegaskan bahwa mereka yang dermawan adalah kekasih Allah. Orang yang dermawan berarti hatinya tidak bertaut dengan dunia. Mereka sadar bahwa harta merupakan titipan dan bahkan dapat menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah. Sebab itulah, siapa saja yang dermawan berarti ia adalah orang yang tidak menjadikan dunia sebagai hijab antara dirinya dengan Allah. Siapa yang tidak berhijab dengan Allah berarti menjadi orang yang dicintai-Nya.

Wali Allah adalah mereka yang tidak memiliki jarak dengan Allah. Mereka pada hakikatnya merupakan penerus Nabi. Namun, para wali tidak dapat diidentifikasi, karena yang mengenal wali Allah hanyalah Allah sendiri.

Sementara itu, orang yang terlalu besar cintanya kepada dunia sudah barang tentu jauh dari Allah. Harta benda telah menjadi hijab antara dirinya dengan Allah. Ia telah terpedaya oleh kenikmatan dunia dan gemar mengumpulkan harta. Orang demikian adalah mereka yang dibenci Allah dan juga dijauhi manusia.

Orang yang kikir adalah orang yang mengira bahwa segala kenikmatan dunia merupakan sumber kebahagiaan hakiki. Padahal, sejatinya kenikmatan dunia itu menipu. Kenikmatan duniawi tidak lain hanyalah sarana yang dapat menjauhkan diri dari Allah, sehingga membuat jiwa tidak memperoleh ketenangan sejati.

 

Al-Sakhi ḥabib Allah wa-law kana fasiqan

Wa-l-bakhil ‘aduwwu Allah wa-law kana zahidan

Barang siapa sakhi kariman kamilan

Ialah sampai kepada ‘amalun shaliḥan

 

Orang dermawan, yakni mereka yang hati dan pikirannya tidak bertaut dengan dunia, memiliki kemuliaan yang sangat tinggi di sisi Allah. Bahkan orang dermawan itu jauh lebih mulia daripada mereka yang banyak ibadahnya. Karena orang yang rajin beribadah belum tentu tidak memiliki hijab dengan Allah. Bahkan sangat banyak orang yang hati dan pikirannya bertaut dengan dunia namun pada lahirnya dia orang yang rajin beribadah. Orang demikian tidak memiliki kualitas ibadah yang baik karena meskipun jasadnya sedang melaksanakan ibadah, namun ibadahnya itu sulit diterima karena si pelaku ibadah itu jauh hatinya dengan Allah.

Orang dermawan dapat melatih kesucian hati dengan tindakan tersebut. Dengan membiasakan diri menjadi dermawan, terbangun kesadaran bahwa harta dan segala perkara duniawi lainnya adalah titipan Allah yang tidak boleh menjadi akrab dengan hati. Harta merupakan amanah yang akan dipertanyakan Allah di hari akhirat. Hisab terkait harta dan kenikmatan duniawi sangat berat di akhirat. Demikian pula orang yang dermawan itu biasanya rezekinya akan ditambahkan oleh Allah. Orang dermawan akan menyadari bahwa rezeki dari Allah adalah keberkatan dan harta benda beserta segala kecenderungan duniawi lainnya dapat menjadi sarana yang membuat hijab dengan Allah.

Orang yang dermawan sehingga menjadi sangat dekat dengan Allah, ibadahnya yang sedikit langsung diterima Allah tanpa hijab. Kualitas ibadahnya menjadi sangat tinggi. Orang yang sifat dermawan telah menjadi karakter jiwa dan menjadi darah daging, tidak lain yang dia pikirkan kecuali senantiasa terus mendekatkan diri dengan Allah. Mereka terus-menerus menjadi sangat dengan dengan Allah melalui kedermawanan dan ibadah yang berkualitas. `           I 

Orang dermawan kemudian sampai pada situasi hidup yang senantiasa dalam kebaikan. Kebaikan awalnya tampak seperti sifat yang ia sandang. Kemudian sifat baik yang dilakukan itu menjadi identitas dirinya. Sehingga antara kedermawanan dengan kedirian orang dermawan itu tidak dapat dipisahkan lagi. Bahkan orang-orang ketika mendengar kata dermawan akan teringat pada si dermawan itu.

 

 

Mautmu berseru al-raḥil, al-raḥil!

Hai anak Adam umurmu qalil

Jangan kau lupakan haqiqat sabil

Supaya jadi sakhi seperti Khalil

Manusia yang akalnya telah matang akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti dari mana manusia berasal, apa yang sebenarnya harus dilakukan di dunia, dan akan ke mana setelah meninggal dunia. Itu adalah pertanyaan alamiah sebagai tanda kematangan pikiran. Pertanyaan itu bersifat metafisis dan jawabannya tentu dari perspektif metafisika. Filsafat dan agama telah menyediakan jawabannya dalam versi berbeda, namun memiliki napas yang sama.

Manusia memiliki kecenderungan untuk meyakini bahwa setiap sesuatu yang dilakukan di dunia memiliki konsekuensi di akhirat. Tidak adil kiranya jika manusia yang melakukan kejahatan akan aman begitu saja setelah mati. Demikian juga orang yang melakukan kebaikan, tidak mungkin tidak menerima hasil dari kebaikannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam hal ini, manusia harus senantiasa sadar bahwa tujuan sejati dari kehidupan dunia adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin agar di akhirat memperoleh kebahagiaan. Demikian pula, manusia harus menghindari segala tindakan yang berkonsekuensi pada kemelaratan di akhirat agar tidak menderita kelak. Kehidupan dunia yang sejenak harus benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana mempersiapkan segala bekal menuju akhirat. Segala tindakan manusia di dunia harus berlandaskan pada persiapan kehidupan di akhirat kelak.

Dengan prinsip demikian, manusia tidak hanya menjadikan ibadah sebagai sarana mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat, tetapi juga menjadikan kedermawanan sebagai pakaian. Kedermawanan benar-benar dapat menjadi sarana yang cukup efektif dalam rangka menyadarkan manusia bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara menuju kehidupan akhirat yang kekal. Dengan kesadaran ini pula, manusia dapat memiliki motivasi untuk menyebarkan kebaikan dan berusaha mencegah keburukan sesuai dengan kemampuannya.

 

 

 

Takabbur dan ghurur kerja syayá¹­ani

Yaitulah jauh dari Raḥmani

Emas dan perak alat nafsani

Dimanakan sampai kepada rabbani

 

Apa yang disombongkan manusia biasanya adalah sesuatu yang tidak menjadi ketertarikan jiwanya, yakni hal-hal yang tidak berfaedah untuk pengembangan jiwa. Segala yang disombongkan itu biasanya adalah perkara-perkara duniawi yang berpeluang menghijab manusia dengan Allah. Ini adalah tindakan yang konyol karena justru hal-hal tersebut seharusnya dihindari atau setidaknya dikendalikan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Harta benda dan segala sarana kecenderungan duniawi itu sejatinya menjadi sesuatu yang dihindari atau setidaknya mampu dikendalikan sedemikian rupa sehingga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ada sebagian orang yang menganggap segala harta benda dan hal-hal yang terkait perkara duniawi adalah aib karena itu merupakan segala hal yang dapat menghambat perkembangan jiwanya. Namun anehnya, ada orang yang justru menjadikan hal-hal tersebut sebagai kebanggaan.

Kekacauan berpikir semacam itu muncul dari ketidaksadaran atau kelupaan bahwa tujuan sejati manusia dalam hidup di dunia adalah senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah, menyucikan hati, dan menghindari segala perkara yang berpeluang menjauhkan diri dari Allah. Sebab itu, orang-orang yang senantiasa sadar tentang tujuan sejati manusia hidup di dunia akan menyayangkan orang-orang yang menjadi sombong dengan harta benda dan hidup bermewah-mewahan.

 

 

Hamzah miskin amalnya thawil

Olehnya itu menjadi bakhil

Da’wanya tinggi kerjanya dalil

Manakan dapat dengan Rabb al-Jalil

 

Manusia yang ingin mendekatkan diri kepada Allah harus senantiasa berusaha menjauh dari kecenderungan dunia. Dengan menjauhkan diri dari kecenderungan duniawi, hijab dengan Allah akan hilang sehingga ibadahnya menjadi berkualitas. Orang yang kikir akan kesulitan melepaskan hijab dari Allah. Demikian pula, ibadahnya menjadi sulit diterima.

Orang yang sedikit ibadahnya biasanya adalah mereka yang memiliki sifat kikir. Ketika beribadah, tidak sampai kepada Allah. Tanpa disadari, hal itu membuat jiwanya kurang bahagia, dan ketika mengarahkan diri pada kesibukan duniawi, ia justru menjadi lebih bahagia di sana. Itu karena ia tidak menemukan kebahagiaan dalam beribadah. Karena ibadahnya sulit tersampaikan, kenikmatan beribadah pun tidak dapat dirasakan. Demikianlah, sifat kikir itu bertaut dengan keengganan beribadah, sementara orang dermawan menemukan kenikmatan dalam ibadah karena hatinya tidak bertaut dengan dunia.

Orang yang menikmati kecenderungan duniawi adalah mereka yang merugi. Segala perbuatan mereka sia-sia karena semua itu bukan kehendak jiwa. Hawa nafsu telah melingkupi orang yang kikir dan malas beribadah. Jika mereka tidak melepaskan diri dari kecenderungan duniawi, di akhirat nanti mereka akan merasakan kesulitan yang amat sangat.

 

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About

recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.