Sabtu, 09 Mei 2026

thumbnail

Serangan Amerika Membuat Iran Semakin Kuat

 


Amerika justru telah membuat Iran semakin kuat. Selama empat puluh tujuh tahun, para pejuang Revolusi mendoktrinkan kebencian terhadap Amerika, sehingga mereka yang kini berusia hingga lima puluh tujuh tahun—yakni yang masih berusia sekitar sepuluh tahun ketika Revolusi dimulai—tumbuh menjadi generasi yang solid dan membawa semangat Revolusi yang tidak terpisahkan dari kebencian terhadap Amerika. Bahkan jika diasumsikan ada mereka yang kini berusia enam puluh tujuh tahun, atau berusia dua puluh tahun saat Revolusi berlangsung, yang pada awalnya tidak mendukung atau bahkan menentang Revolusi, sebagian dari mereka kemungkinan telah berubah pandangan selama empat puluh tujuh tahun itu, sementara sebagian lainnya, karena usia maupun keterbatasan akses, tidak lagi memiliki banyak ruang untuk bertindak. Dalam konteks ini, hampir dapat dikatakan bahwa rakyat Iran yang hidup hari ini adalah mereka yang dibesarkan dalam semangat Revolusi, dan semangat itu, sekali lagi, tidak dapat dipisahkan dari kebencian terhadap Amerika.

 

Dalam perjalanan Revolusi, terlebih dengan perkembangan teknologi digital, mulai muncul sebagian warga Iran yang mempertanyakan apakah kebencian terhadap Amerika selama ini hanyalah konstruksi ideologis yang ditanamkan untuk menjaga semangat Revolusi. Dari cara pandang semacam itu, lahir pula pemikiran bahwa semangat Revolusi yang terus diwariskan mungkin perlu ditinjau kembali. Karena itu, pada akhir tahun lalu muncul berbagai gerakan dan aksi massa yang mencoba mengguncang fondasi Revolusi. Pemerintah Iran tentu saja mengklaim bahwa gerakan tersebut digerakkan para provokator yang didalangi intelijen Israel dan Amerika. Namun, tampaknya keinginan untuk meninjau ulang Revolusi, atau setidaknya mempertanyakan kembali doktrin bahwa Amerika adalah ancaman utama, memang mulai tumbuh di kalangan sebagian anak muda Iran.

 

Dalam situasi itulah Amerika datang dan menyerang Iran. Peristiwa tersebut tentu saja menghapus keraguan sebagian warga Iran yang sebelumnya sempat berpikir bahwa kebencian terhadap Amerika hanyalah ilusi atau sekadar konstruksi ideologis Revolusi. Serangan itu membuat mereka yang ragu menjadi yakin, dan mereka yang sebelumnya sudah yakin menjadi semakin yakin, bahwa Amerika memang merupakan ancaman sebagaimana didoktrinkan selama empat puluh tujuh tahun—bukan isapan jempol, bukan pula doktrin semu, melainkan sesuatu yang nyata.

 

Iran tidak demikian. Jika Amerika memutuskan berperang secara terbuka dengan Iran, maka yang dihadapi bukan sekadar pemerintah atau kekuatan militer, melainkan generasi panjang yang dibentuk oleh semangat Revolusi selama puluhan tahun. Mereka yang kini berusia hingga lima puluh tujuh tahun adalah generasi yang sejak kecil hidup dalam narasi Revolusi dan ancaman Amerika. Karena itu, tekanan atau serangan dari luar justru akan memperkuat solidaritas nasional dan mempertebal keyakinan ideologis mereka. Dalam keadaan seperti itu, Iran tidak akan mudah dikalahkan, sebab yang dipertahankan bukan hanya negara, melainkan juga keyakinan yang telah ditanamkan selama empat puluh tujuh tahun.

 

Iran tidak demikian. Jika Amerika memutuskan berperang secara terbuka dengan Iran, maka yang dihadapi bukan sekadar pemerintah atau kekuatan militer, melainkan generasi panjang yang dibentuk oleh semangat Revolusi selama puluhan tahun. Perang itu, dalam bayangan pendukung Revolusi, bahkan baru akan berakhir ketika generasi yang sejak kecil dididik dalam semangat Revolusi telah habis seluruhnya. Dan andaipun yang tersisa hanyalah mereka yang berusia lebih tua dan mungkin memiliki pandangan anti-Revolusi, jumlahnya barangkali tidak akan banyak. Karena itulah, dalam cara pandang tersebut, Iran dianggap tidak akan bisa dikalahkan, sebab yang dipertahankan bukan hanya negara, melainkan keyakinan yang telah ditanamkan selama empat puluh tujuh tahun.

 

Dengan menyerang Iran, Amerika sesungguhnya telah memainkan permainan yang sulit diselesaikan. Serangan itu justru akan membuat semangat Revolusi semakin mengakar dan terus tersemai hingga generasi-generasi mendatang. Doktrin tentang kebencian terhadap Amerika dan bahaya yang ditimbulkannya menjadi semakin mudah ditanamkan. Sebelumnya, narasi mengenai ancaman Amerika dibangun lebih banyak melalui doktrin dan ingatan historis tanpa referensi aktual yang langsung dirasakan masyarakat. Namun demikian, narasi itu tetap berjalan secara lancar, mengakar, dan massif. Setelah serangan tersebut terjadi, referensi nyata untuk memperkuat doktrin itu menjadi semakin kuat dan mudah diterima oleh rakyat Iran.

Iran tidak bisa dikalahkan. Sensus penduduk mungkin mencatat bahwa rakyat Iran berjumlah sembilan puluh juta jiwa, tetapi pada hakikatnya mereka seolah menjadi satu tubuh yang digerakkan oleh semangat yang sama. Lihat saja ketika Amerika menyerang; dalam waktu relatif singkat, satu juta orang datang mendaftarkan diri sebagai relawan. Belum lagi keberadaan Pasukan Garda Revolusi, tentara aktif, serta rakyat sipil yang telah lama dibentuk dalam semangat yang serupa. Dalam keadaan seperti itu, yang dihadapi bukan lagi sekadar sebuah negara, melainkan keyakinan kolektif yang telah mengakar selama puluhan tujuh tahun.

 

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About

recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.