Amerika justru telah membuat Iran semakin kuat. Selama empat puluh tujuh tahun, para pejuang Revolusi mendoktrinkan kebencian terhadap Amerika, sehingga mereka yang kini berusia hingga lima puluh tujuh tahun—yakni yang masih berusia sekitar sepuluh tahun ketika Revolusi dimulai—tumbuh menjadi generasi yang solid dan membawa semangat Revolusi yang tidak terpisahkan dari kebencian terhadap Amerika. Bahkan jika diasumsikan ada mereka yang kini berusia enam puluh tujuh tahun, atau berusia dua puluh tahun saat Revolusi berlangsung, yang pada awalnya tidak mendukung atau bahkan menentang Revolusi, sebagian dari mereka kemungkinan telah berubah pandangan selama empat puluh tujuh tahun itu, sementara sebagian lainnya, karena usia maupun keterbatasan akses, tidak lagi memiliki banyak ruang untuk bertindak. Dalam konteks ini, hampir dapat dikatakan bahwa rakyat Iran yang hidup hari ini adalah mereka yang dibesarkan dalam semangat Revolusi, dan semangat itu, sekali lagi, tidak dapat dipisahkan dari kebencian terhadap Amerika.
Dalam perjalanan Revolusi,
terlebih dengan perkembangan teknologi digital, mulai muncul sebagian warga
Iran yang mempertanyakan apakah kebencian terhadap Amerika selama ini hanyalah
konstruksi ideologis yang ditanamkan untuk menjaga semangat Revolusi. Dari cara
pandang semacam itu, lahir pula pemikiran bahwa semangat Revolusi yang terus
diwariskan mungkin perlu ditinjau kembali. Karena itu, pada akhir tahun lalu
muncul berbagai gerakan dan aksi massa yang mencoba mengguncang fondasi
Revolusi. Pemerintah Iran tentu saja mengklaim bahwa gerakan tersebut
digerakkan para provokator yang didalangi intelijen Israel dan Amerika. Namun,
tampaknya keinginan untuk meninjau ulang Revolusi, atau setidaknya
mempertanyakan kembali doktrin bahwa Amerika adalah ancaman utama, memang mulai
tumbuh di kalangan sebagian anak muda Iran.
Dalam situasi itulah Amerika
datang dan menyerang Iran. Peristiwa tersebut tentu saja menghapus keraguan
sebagian warga Iran yang sebelumnya sempat berpikir bahwa kebencian terhadap
Amerika hanyalah ilusi atau sekadar konstruksi ideologis Revolusi. Serangan itu
membuat mereka yang ragu menjadi yakin, dan mereka yang sebelumnya sudah yakin
menjadi semakin yakin, bahwa Amerika memang merupakan ancaman sebagaimana
didoktrinkan selama empat puluh tujuh tahun—bukan isapan jempol, bukan pula
doktrin semu, melainkan sesuatu yang nyata.
Iran tidak demikian. Jika
Amerika memutuskan berperang secara terbuka dengan Iran, maka yang dihadapi
bukan sekadar pemerintah atau kekuatan militer, melainkan generasi panjang yang
dibentuk oleh semangat Revolusi selama puluhan tahun. Mereka yang kini berusia
hingga lima puluh tujuh tahun adalah generasi yang sejak kecil hidup dalam narasi
Revolusi dan ancaman Amerika. Karena itu, tekanan atau serangan dari luar
justru akan memperkuat solidaritas nasional dan mempertebal keyakinan ideologis
mereka. Dalam keadaan seperti itu, Iran tidak akan mudah dikalahkan, sebab yang
dipertahankan bukan hanya negara, melainkan juga keyakinan yang telah
ditanamkan selama empat puluh tujuh tahun.
Iran tidak demikian. Jika
Amerika memutuskan berperang secara terbuka dengan Iran, maka yang dihadapi
bukan sekadar pemerintah atau kekuatan militer, melainkan generasi panjang yang
dibentuk oleh semangat Revolusi selama puluhan tahun. Perang itu, dalam
bayangan pendukung Revolusi, bahkan baru akan berakhir ketika generasi yang
sejak kecil dididik dalam semangat Revolusi telah habis seluruhnya. Dan
andaipun yang tersisa hanyalah mereka yang berusia lebih tua dan mungkin
memiliki pandangan anti-Revolusi, jumlahnya barangkali tidak akan banyak.
Karena itulah, dalam cara pandang tersebut, Iran dianggap tidak akan bisa
dikalahkan, sebab yang dipertahankan bukan hanya negara, melainkan keyakinan
yang telah ditanamkan selama empat puluh tujuh tahun.
Dengan menyerang Iran, Amerika
sesungguhnya telah memainkan permainan yang sulit diselesaikan. Serangan itu
justru akan membuat semangat Revolusi semakin mengakar dan terus tersemai
hingga generasi-generasi mendatang. Doktrin tentang kebencian terhadap Amerika
dan bahaya yang ditimbulkannya menjadi semakin mudah ditanamkan. Sebelumnya,
narasi mengenai ancaman Amerika dibangun lebih banyak melalui doktrin dan
ingatan historis tanpa referensi aktual yang langsung dirasakan masyarakat.
Namun demikian, narasi itu tetap berjalan secara lancar, mengakar, dan massif.
Setelah serangan tersebut terjadi, referensi nyata untuk memperkuat doktrin itu
menjadi semakin kuat dan mudah diterima oleh rakyat Iran.
Iran tidak bisa dikalahkan.
Sensus penduduk mungkin mencatat bahwa rakyat Iran berjumlah sembilan puluh
juta jiwa, tetapi pada hakikatnya mereka seolah menjadi satu tubuh yang
digerakkan oleh semangat yang sama. Lihat saja ketika Amerika menyerang; dalam
waktu relatif singkat, satu juta orang datang mendaftarkan diri sebagai
relawan. Belum lagi keberadaan Pasukan Garda Revolusi, tentara aktif, serta
rakyat sipil yang telah lama dibentuk dalam semangat yang serupa. Dalam keadaan
seperti itu, yang dihadapi bukan lagi sekadar sebuah negara, melainkan
keyakinan kolektif yang telah mengakar selama puluhan tujuh tahun.
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments