Kamis, 11 Juni 2026

thumbnail

Piala Dunia 2026: Pentas Para Dewa


 Alhamdulillah. Semoga kita masih terus diberi umur panjang untuk kembali dapat menonton Piala Dunia 2026 hingga final yang mempertemukan Meksiko dan Portugal bulan Juli nanti.

Setiap Piala Dunia digelar, kita harus bersyukur karena Allah masih memberi kita tambahan umur empat tahun dan menjadi momen merenungkan apa saja amal yang telah kita lakukan selama umur empat tahun itu.

Saya masih ingat Piala Dunia 1994 yang digelar di Amerika Serikat ditayangkan TVRI. Waktu itu pertandingan biasanya sebelum subuh. Saya yang masih kelas 3 MIN mengendap-endap buka TV dengan volume 0, karena bila ketahuan bisa disemprot habis-habisan. Saya ingat Brazil melawan Rusia, Italia melawan Norwegia, Kamerun melawan Rumania, dan beberapa pertandingan lagi seperti Maradona yang saya kira waktu itu ditangkap karena narkoba, idola baru saya setelah Maradona tidak main lagi yakni Roberto Baggio yang gagal penalti. Siapa bilang sejarah tidak berulang, buktinya Piala Dunia 1994 berulang pada 2026: Norwegia kembali tampil, TVRI kembali menayangkan Piala Dunia, pertandingannya juga di Amerika Serikat. Bedanya saya tidak perlu lagi mengendap-endap karena takut ketahuan Ayah (Allahummaghfirlahu...).

Piala Dunia 1998 hanya dapat saya saksikan beberapa karena waktu itu sudah masuk pesantren. Karena belajar belum efektif, masih bisa menyaksikan beberapa pertandingan sebab asrama belum diperketat. Saya ingat Boban cat rambut 10 dan tidak menyangka Prancis menundukkan Ronaldo seperti memukul ayam mati. Waktu itu saya curiga itu setingan, namun waktu mengkaji dan menonton YouTube sekarang, memang Prancis sangat kuat, meskipun masih ada rumor Ronaldo diberi obat entah apa waktu malam. Yang pasti, namanya orang Brazil, kalau ke Eropa, apalagi Prancis, malam pasti tidak bisa tidur. Waktu itu saya benci Zidane karena dia cetak gol.

Piala Dunia 2002 saya menonton sangat banyak pertandingan. Bos saya waktu kami nonton bareng mewajibkan kami membela Senegal dengan alasan pemainnya muslim semua, jadilah kami seperti orang bodoh, namun pas pulang semua kagum pada kami. Ini pasti kebetulan. Itu saya duga yang membuat juara bertahan wajib ikut kualifikasi. Kami juga diwajibkan mendukung Turki karena muslim semua. Kecuali saat melawan Brazil sebab bos saya pengagum Cek Do. Cek Do juara, kami semua ditraktir mi kepiting.

Piala Dunia 2006 saya sedikit menonton karena sibuk mengelola training. Tapi sempat menonton si bocah pendek gondrong dimasukkan bermain untuk Argentina. Melihat dia bermain, saya berpikir kalau saja si bocah nomor punggung 19 itu jadi starter dan diberi dukungan dan kepercayaan penuh, Argentina pasti juara 2006. Saya suka Italia, tapi kesal karena Zidane dibuat kartu merah. Waktu itu saya sudah suka Zidane, suka sejak 2002 saat dia tendang rempong kalahkan Leverkusen di final Liga Champions.

Piala Dunia 2010 juga tidak banyak menonton, karena kesal Maradona tidak melaksanakan ide saya: bawa semua pemain di tim juara treble asuhan Mourinho dan tinggal tambahkan yang kurang. Hampir semua posisi ada pemain Argentina di Internazionale. Saya kesal dengan Kaka yang terlalu pede dan Robinho yang selengean. Mampus. Nani adalah manusia paling menyebalkan. Menurut saya Belanda harus minta maaf sambil guling-guling kalau mau juara Piala Dunia. Kalau tidak, sampai kiamat capaian tertinggi hanya runner-up. Itu teguran Tuhan.

Piala Dunia 2014 saya nonton di kampung. Meskipun Iran orang Syi'ah, masyarakat tetap mendukung karena yang dilawan adalah orang kafir. Saya kesal timnas Iran yang kecolongan dengan aksi solo Messi di menit akhir. Juga kasihan pada Messi yang gagal juara. Dari mana datangnya si bocah Goetze itu.

Romero sangat tangguh, tapi ditinggal pada Piala Dunia 2018. Akibatnya Argentina jadi pesakitan. Ternyata kekesalan saya kenapa bukan De Gea yang main pada Piala Dunia 2014 terjawab. Dia tidak punya mental yang kuat, jadi bulan-bulanan Ronaldo pada 2018.

Prancis juara, bahkan seandainya lapis kedua timnas itu yang dimainkan semua, kayaknya akan juara juga. Bayangkan ada Pogba dan Varane di usia yang pas.

Piala Dunia 2022 memang harus Argentina yang juara meskipun seribu voucher penalti harus diberikan, bila tidak dunia akan murung. Akan iba selamanya pada Messi. Luar biasa finalnya, pemainnya laki-laki semua, sedikit-sedikit pengecekan VAR, pertandingan berlangsung menegangkan namun nikmat. Saya pernah membayangkan siapa yang lebih hebat waktu itu antara Mbappe, Coman, dan Dembele. Rupanya Dembele tambah Coman masih belum mampu menyaingi kualitas Mbappe.

Piala Dunia 2026 adalah pentas para dewa. Argentina punya Messi, Brazil punya Neymar, Portugal punya C. Ronaldo. Meksiko punya Ochoa. Mereka itu tampil untuk memberikan energi bagi tim. Semoga di final Bang Dodo bisa cetak gol ke gawang kiper yang muncul empat tahun sekali itu.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About

recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.