Kamis, 13 Agustus 2026

thumbnail

PROF. DR. WARUL WALIDIN AK, MA.

 


Waktu akan mengikuti gladi wisuda S1 di sebuah aula Asrama Haji, Banda Aceh, Pak Warul memanggil saya ke atas podium dan mengajak saya duduk bersama di depan meja panjang. Kami berbincang lama tentang banyak hal, termasuk perkembangan kaderisasi PII Aceh dan beragam isu tentang pendidikan di Aceh. Waktu itu beliau adalah Rektor Universitas Abulyatama sekaligus Ketua MPD Aceh. Kami berbincang cukup lama hingga para calon wisudawan pulang semua.

Hal yang membuat saya sangat terpesona dengan Pak Warul adalah ketika awal kuliah  saya ke Perpustakaan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Di sana saya menemukan sebuah buku berjudul Konstelasi Pemikiran Pedagogik Ibn Khaldun: Perspektif Pendidikan Modern. Menurut saya, judulnya sangat keren. Saya harus meminjam buku itu berkali-kali agar bisa membacanya sampai selesai. Di sampul buku itu tertulis nama sang pengarang, Prof. Dr. Warul Walidin AK, MA. Hal itu membuat siapa pun yang sedang berada di jalur pendidikan formal bersemangat untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi. Apalagi asal daerah dan tempat beliau lahir dan besar yang tertulis di sampul belakang buku membuat orang yang juga berasal dari kampung seperti saya bisa percaya bahwa kalau kita berasal dari kampung dan hidup dalam keterbatasan ekonomi, kita juga bisa menjadi orang besar.

Betapa beruntungnya saya beberapa waktu kemudian berkesempatan hadir di Dinas Pendidikan Banda Aceh dan mendengarkan Prof. Warul memberikan kuliah umum mengenai perkembangan pendidikan di Aceh. Bayangkan, orang yang bukunya kita sukai dan namanya yang tertulis di sampul buku kita kagumi, ternyata bisa kita temui secara langsung. Setelah seminar itu, saya mengobrol dengan beliau dan sejak saat itu kami mulai sering menjalin komunikasi. Saat itu, sepertinya saya sedang semester empat kuliah.

Saya sangat menyukai buku yang berasal dari disertasi Prof. Warul karena sangat bermanfaat bagi saya sebagai seorang instruktur dan perancang berbagai pelatihan di PII. Sistem pendidikan yang berbasis peserta didik pada saat itu belum populer di sekolah formal. Sementara itu, di PII, sistem tersebut sudah berlangsung secara masif. Kanda Warul, yang ternyata merupakan instruktur PII pada masanya, benar-benar berhasil mewujudkan sistem pendidikan berbasis peserta didik, baik secara konseptual maupun praktis. Di Aceh, beliau adalah salah satu pemikir pendidikan yang paling representatif.

Ketika Prof. Warul menjadi Rektor UIN Ar-Raniry, saya sangat ingin bertemu beliau karena rindu untuk berbincang. Namun, masa itu merupakan masa yang sulit. Saya sibuk kuliah di Jakarta. Setelah kuliah pun, mobilitas saya terbatas karena satu dan lain hal.

Beberapa hari setelah saya diamanahkan menjadi Kaprodi Magister Pendidikan Agama Islam, Prof. Warul berkunjung ke Pascasarjana IAIN Langsa. Saya langsung membujuk beliau untuk menjadi pembicara pada Forum Ilmiah Pascasarjana. Prof. Warul tampak tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya melihat saya, junior sekaligus muridnya, sudah menjadi orang yang dipercaya mengemban amanah akademik. Dugaan saya, beliau tidak menyangka bahwa seorang mantan aktivis nekat di Banda Aceh bisa menjadi Kaprodi.

Dengan IAIN Langsa, Prof. Warul memiliki ikatan yang kuat. Beliau dekat dengan para pimpinan IAIN Langsa dan juga banyak berkontribusi bagi perkembangan IAIN Langsa. Bahkan, beliau pernah menjadi pengajar di Pascasarjana IAIN Langsa. Tidak dapat dipungkiri, jasa beliau dalam pengembangan pendidikan di Aceh cukup besar.

 

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About

recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.