Waktu akan mengikuti gladi wisuda S1 di sebuah aula Asrama Haji, Banda Aceh, Pak Warul memanggil saya ke atas podium dan mengajak saya duduk bersama di depan meja panjang. Kami berbincang lama tentang banyak hal, termasuk perkembangan kaderisasi PII Aceh dan beragam isu tentang pendidikan di Aceh. Waktu itu beliau adalah Rektor Universitas Abulyatama sekaligus Ketua MPD Aceh. Kami berbincang cukup lama hingga para calon wisudawan pulang semua.
Hal yang
membuat saya sangat terpesona dengan Pak Warul adalah ketika awal kuliah saya ke Perpustakaan Masjid Raya Baiturrahman,
Banda Aceh. Di sana saya menemukan sebuah buku berjudul Konstelasi
Pemikiran Pedagogik Ibn Khaldun: Perspektif Pendidikan Modern. Menurut
saya, judulnya sangat keren. Saya harus meminjam buku itu berkali-kali agar
bisa membacanya sampai selesai. Di sampul buku itu tertulis nama sang
pengarang, Prof. Dr. Warul Walidin AK, MA. Hal itu membuat siapa pun yang
sedang berada di jalur pendidikan formal bersemangat untuk melanjutkan
pendidikan hingga jenjang tertinggi. Apalagi asal daerah dan tempat beliau
lahir dan besar yang tertulis di sampul belakang buku membuat orang yang juga
berasal dari kampung seperti saya bisa percaya bahwa kalau kita berasal dari
kampung dan hidup dalam keterbatasan ekonomi, kita juga bisa menjadi orang
besar.
Betapa
beruntungnya saya beberapa waktu kemudian berkesempatan hadir di Dinas
Pendidikan Banda Aceh dan mendengarkan Prof. Warul memberikan kuliah umum
mengenai perkembangan pendidikan di Aceh. Bayangkan, orang yang bukunya kita
sukai dan namanya yang tertulis di sampul buku kita kagumi, ternyata bisa kita
temui secara langsung. Setelah seminar itu, saya mengobrol dengan beliau dan
sejak saat itu kami mulai sering menjalin komunikasi. Saat itu, sepertinya saya
sedang semester empat kuliah.
Saya sangat
menyukai buku yang berasal dari disertasi Prof. Warul karena sangat bermanfaat
bagi saya sebagai seorang instruktur dan perancang berbagai pelatihan di PII.
Sistem pendidikan yang berbasis peserta didik pada saat itu belum populer di
sekolah formal. Sementara itu, di PII, sistem tersebut sudah berlangsung secara
masif. Kanda Warul, yang ternyata merupakan instruktur PII pada masanya,
benar-benar berhasil mewujudkan sistem pendidikan berbasis peserta didik, baik
secara konseptual maupun praktis. Di Aceh, beliau adalah salah satu pemikir
pendidikan yang paling representatif.
Ketika Prof.
Warul menjadi Rektor UIN Ar-Raniry, saya sangat ingin bertemu beliau karena rindu untuk
berbincang. Namun, masa itu merupakan masa yang sulit. Saya sibuk kuliah di
Jakarta. Setelah kuliah pun, mobilitas saya terbatas karena satu dan lain hal.
Beberapa hari
setelah saya diamanahkan menjadi Kaprodi Magister Pendidikan Agama Islam, Prof.
Warul berkunjung ke Pascasarjana IAIN Langsa. Saya langsung membujuk beliau
untuk menjadi pembicara pada Forum Ilmiah Pascasarjana. Prof. Warul tampak
tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya melihat saya, junior sekaligus
muridnya, sudah menjadi orang yang dipercaya mengemban amanah akademik. Dugaan
saya, beliau tidak menyangka bahwa seorang mantan aktivis nekat di Banda Aceh
bisa menjadi Kaprodi.
Dengan IAIN
Langsa, Prof. Warul memiliki ikatan yang kuat. Beliau dekat dengan para
pimpinan IAIN Langsa dan juga banyak berkontribusi bagi perkembangan IAIN
Langsa. Bahkan, beliau pernah menjadi pengajar di Pascasarjana IAIN Langsa.
Tidak dapat dipungkiri, jasa beliau dalam pengembangan pendidikan di Aceh cukup
besar.
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments