Sentimen masa lalu harus dibuang bila telah menyadari bahwa kehidupan telah berubah dan tidak sama lagi. Peter hanyalah seorang yatim piatu yang dibesarkan bibinya, seorang janda yang tinggal di sebuah apartemen sempit di salah satu kota terbesar di dunia. Pastinya dia tenggelam dalam suatu komunitas besar, bahkan nyaris tidak ada meskipun dalam hitungan statistik. Jadi, kehidupan seorang pemuda demikian memang sama sekali tidak patut diperhitungkan. Namun, setiap orang ingin sebuah pengakuan, setidaknya untuk dianggap ada.
Setiap pemuda pasti demikian. Dia ingin hadir,
ingin tampil. Harapannya menjadi pusat perhatian, tetapi bila tidak, setidaknya
diakui bahwa dia ada dan keberadaannya diperhatikan. Setidaknya diperhatikan
oleh teman dekat dan mendapatkan pengakuan. Peter Parker versi Tom Holland
adalah seorang pemuda yang punya teman dekat dan jatuh hati pada teman satunya
lagi bernama MJ. Perempuan itu jatuh hati pada superhero bernama Spider-Man
yang sebenarnya adalah Peter sendiri.
Karena identitasnya terbongkar, Peter ingin
semua orang melupakan bahwa dirinya adalah Spider-Man. Tidak tahu kenapa dia
menyembunyikan identitasnya. Berbeda dengan Tony yang terang-terangan mengakui
dirinya adalah Iron Man. Ini tampak paradoks. Di satu sisi, bocah miskin itu ingin
diakui. Pada sisi lain, dia tidak mau orang tahu dirinya adalah superhero
besar, bahkan terbesar.
Ya. Terbesar. Spider-Man secara global adalah
superhero paling disukai. Dia simpel; hanya manusia yang berubah, punya
kekuatan lengket di dinding, tenaga yang besar, dan naluri yang tajam. Berbeda
dengan Superman yang merupakan alien dengan kekuatan yang kebangetan dan tidak
masuk akal. Itulah antara lain kenapa Spider-Man:
Brand New Day menjadi salah satu film terlaris. Ada beberapa alasan,
sepertinya. Pertama, karena ternyata sudah lima tahun film Spider-Man tidak
tayang sejak Spider-Man: No Way Home.
Kedua, film itu terkait seri Avengers,
yang mana film itu telah berlalu tujuh tahun. Ya. Tujuh tahun belakangan terasa
seperti satu tahun saja. Memang ada beberapa film Marvel setelah Avengers terakhir, seperti Wakanda Forever dan Brave New World.
Ngomong-ngomong, kenapa Marvel suka dengan “New Era”, ya: New Day, New World. Itu bukan kebetulan. Sepertinya dunia memang sedang diusahakan menuju era keseimbangan baru (pertama) pada abad ini. Misalnya, abad lalu era itu berlangsung dua kali dua puluh tahun, yakni 1925 hingga 1945, dan keseimbangan kedua, yakni 1975 hingga 1995. Abad ini juga sedang diusahakan. Itu bukan periode pasti; bisa bergeser lebih cepat atau lebih lambat beberapa tahun.
Sebab itulah kenapa beberapa hari belakangan sedang tranding orang-orang menyetel foto-foto mereka era 1980-an. Itu adalah era terbaik yang pernah ada. Dan sayangnya, mereka tidak menikmati hidup pada erah itu. sebagian belum lahir, sebagian masih bocah. Jadi, hanya bisa merekognisi melalui rekonstruksi AI.
Peter dilupakan temannya. Orang yang dia
cintai juga berpacaran dengan orang lain. Dia siang malam menjadi pahlawan.
Tetapi orang hanya mengenal Spider-Man. Sementara Peter Parker hanya seseorang
yang tidak dikenal, tidak punya teman, tidak punya pendamping. Sebatang kara.
Akhirnya, dia mencoba berteman dengan seorang mantan penjahat, dengan Bruce
Banner, dengan teman lama yang mulai berteman lagi, dan dengan MJ. Itulah hari
baru.
Cerita
itu sebenarnya adalah tentang setiap orang dari kita. Kita dilupakan oleh
orang-orang pada periode sebelumnya, kemudian menjajaki kehidupan baru pada era
baru. Kita kehilangan orang yang kita sayangi dan orang yang dapat kita
andalkan pergi, kemudian berkenalan dengan orang baru.
Saya terlalu ramah dengan orang-orang sehingga seolah-olah tidak ada batas
sama sekali. Saya sadar bahwa saya adalah seorang pedagang keliling sekaligus
seorang abdi negara. Karena itulah, saya ingin tidak ada jarak dengan siapa
pun. Tentu saja, saya juga sama sekali tidak gentar dengan orang yang
mengendarai Fortuner atau Pajero Sport. Menurut saya, semua orang sama. Namun,
ternyata tidak bisa begitu. Dunia tidak berjalan seperti itu.
Pernah suatu ketika, beberapa pelayan warung kopi berselisih tentang harga
kopi pancong. Yang satu bilang tujuh ribu, yang lain bilang enam ribu. Saya
bilang, “Sepertinya lima ribu.” Lalu, seorang lagi datang dan berkata, “Gratis
saja, tinggal cuci piring.”
Saya tersinggung.
Di situlah saya sadar bahwa memang seseorang harus diletakkan pada
tempatnya. Harus ada jarak, karena kita sendiri juga harus berada di tempat
kita. Sebab, bila tidak, seseorang bisa saja melakukan sesuatu seenak perutnya.
Ketika pertama kali tinggal di kompleks perumahan, saya sering menyapa orang
dengan ramah. Namun, beberapa orang justru bermuka masam sambil memandang
sandal saya yang memang hanya sandal jepit, celana saya yang sering tergulung,
dan baju saya yang kadang koyak. Saya diremehkan, dianggap gembel.
Terutama oleh beberapa oknum yang berpakaian coklat seperti PNS. Saya sempat heran, mengapa menjadi PNS harus sombong. Namun, kalau dipikir-pikir, mungkin dia sedang berusaha menempatkan dirinya pada tempatnya dan, pada saat yang sama, menempatkan saya pada tempat yang menurut pandangannya pantas bagi saya: seorang pedagang keliling yang berjalan membawa kantong plastik menyusuri pasar dan terminal.
Barangkali, Peter juga tidak ingin diketahui sebagai Spider-Man karena ia
ingin menempatkan dirinya yang sejati pada tempatnya: sebagai seorang bocah
yatim piatu yang miskin.
Spider-Man adalah kekuatannya, tetapi Peter Parker adalah kehidupannya.
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email



No Comments