Media sosial memberitakan banyak kejadian orang Jepang yang berteriak-teriak di tengah keramaian kota pada waktu pulang kerja. Orang-orang tidak menggubris dan membiarkan karena itu sudah biasa terjadi dan dialami banyak orang. Mereka memiliki beban kerja tinggi, kelelahan akut, dan frustrasi.
Orang
Jepang yang dianggap punya tradisi pekerja keras dan memiliki etos kerja tinggi
telah membuat mereka tidak berdaya di tengah-tengah kapitalisme. Mereka secara
mutlak dan tanpa celah telah terikat dengan sistem dari Barat itu. Orang-orang
dibesarkan untuk melayani sistem kapital: Bekerja sepanjang hari dan
mendapatkan banyak uang untuk kerja lembur.
Ya, orang
Jepang punya uang banyak karena diberikan gaji tinggi. Tetapi ke mana uang itu
dihabiskan? Tidak ke mana-mana kecuali sebagian dari mereka, seperti di Singapura:
membayar hak guna apartemen dengan harga sangat tinggi, membeli mobil super
mewah dengan cara membayar cicilan setiap bulan selama lima tahun. Setelah
cicilan mobil itu lunas, masa pakai mobil sudah habis dan harus dimusnahkan. Sebab
itulah orang Jepang lebih suka naik sepeda atau transportasi umum.
Orang Jepang,
dengan kesibukannya itu, tidak punya waktu untuk keluarga, mereka juga tidak
membangun rumah tangga, jangankan untuk bercinta, berkencan saja tidak. Akibatnya?
Populasi di Jepang merosot tajam. Desa-desa ditinggalkan, karena segalanya
bergantung kepada sistem kapital yang berpusat di perkotaan.
Anak-anak
yang pergi merantau ke kota tidak akan pernah kembali. Mereka terlalu sibuk.
Orang tua mereka sendirian dan kesepian lalu mati sendiri. Tidak lama lagi,
Jepang sudah tidak punya yang namanya pedesaan. Kereta api tidak perlu lagi
membangun rel yang jauh. Pipa gas rumah tangga juga tidak perlu panjang-panjang
lagi.
Anak-anak
yang tidak pernah kembali ke desa tidak akan pernah kembali membawa menantu,
apalagi membawa cucu. Mereka hanya akan sibuk bekerja. Lama-lama orang Jepang punah
bila itu terus terjadi.
Tidak ada
orang yang tega punya anak untuk kemudian setelah besar hanya menjadi mangsa
kapitalisme seperti dirinya. Lagi pula mereka tidak punya waktu untuk
membesarkan anak. Sebab itulah menjadi surga bagi perempuan Jepang ketika ada
imigran yang bekerja di Jepang menikahi perempuan jepang yang imut sementara
istrinya itu hanya fokus mengurus rumah dan membesarkan anak-anak. Mungkin saja
itulah satu-satunya cara agar orang Jepang agar tidak punah.
Reviewed by Miswari
on
17.35
Rating:
.jpg)
Tidak ada komentar: