Ditemani
secangkir sirup Cap Mawar dan beberapa kue lebaran, Apa Cantoi santai sejenak.
Dia sudah bersiap ke DotoCoffee. Jengki juga sudah bersih mengkilap. Rambut Apa
Cantoi lebih mengkilap. Dulu dia suka pakai Brisk. Kini lebih suka Nurhayati.
Hari yang indah bertemu dengan orang yang spesial, itu membuat hidup sangat
bergairah.
Beberapa waktu kemudian, Apa Cantoi sudah di salah satu
meja DotoCoffee. Dia duduk di bagian depan, tidak jauh dari bambu kuning kecil
yang dihias rapi pada bagian depan kafe itu. Selain dedaunannya dapat mencegah
debu, pemandangan keluar melalui celah celah batang dan dedaunan imut
bambu-bambu kuning kecil membuat suasana menjadi lebih terkesan private dan
menambah daya eksotik kafe yang digemari anak muda itu.
Setengah jam menunggu, sambil menikmati espresso panas
kental, Ratna datang dan membuat jantung Apa Cantoi nyaris copot ketika menatap
perempuan tinggi putih itu. Ranta mengenakan celana jins ketat dengan baju
longgar ada merah-merahnya. Jilbab dipasang ketat dengan ujungnya diputar ke
leher. Seketika Apa Cantoi terkenang memori sekitar dua dekade lalu saat
pinggir sungai bawah jembatan Pantai Kalong masih penuh muda mudi hari Minggu
dan hari lebaran. Ada Coca-cola, Fanta, dan Sprite yang disusun bertingkat pada
rak yang menjadi dinding warung-warung. Bagi yang suka kelapa muda juga ada.
Makanan favorit di sana adalah rujak. Mau pesan mie goreng: goreng basah atau goreng
kering juga ada.
Apa Cantoi dan
Ratna mandi air sungai yang dingin di bawah hangat matahari. Rambut Ratna yang
basah menciptakan pesona yang mengagumkan dengan pipi merah merona dan bibir
bergincu merah muda. Di DotoCoffee hari itu, pipi Ratna memang tidak selembut
dua dekade lalu, tetapi pancaran aura kecantikan semakin menggoda. Ada pesona
yang semakin memikat seiring berjalannya waktu.
Ratna memilih
duduk di samping Apa Cantoi. Mereka berdua mengobrol sambil mengintip celah
batang bambu-bambu kuning kecil, Ratna menyerahkan sebuah undangan kepada Apa
Cantoi. Itu adalah undangan pelatihan dan pengembangan kapasitas alumni sekolah
di bawah Departemen Hukum. Acaranya minggu depan di Takengon.
Apa Cantoi
membuka undangan yang didesain seperti undangan pernikahan. Tempatnya di sebuah
hotel tidak jauh dari danau Laut Tawar.
“Ini pasti akan
sangat menyenangkan,” kata Apa Cantoi.
“Acaranya satu
minggu,” jawab Ratna. “Pulang pelatihan juga akan diberikan bingkisan dan dana
transportasi.”
Apa Cantoi
bertanya apakah Ratna juga akan ada di sana. Perempuan itu mengatakan bahwa dia
adalah salah satu panitia dan akan terlibat sebagai narasumber salah satu
materi.
Ratna melihat
raut bahagia Apa Cantoi yang tidak dapat disembunyikan.
“Tapi Ratna
tidak akan sepanjang kegiatan berada di Takengon,” ungkap perempuan itu. “Sepertinya
harus bolak balik Lhokseumawe—Takengon selama kegiatan karena penyelenggarannya
kan berbasis di Takengon.”
Apa Cantoi menyeruput espresso yang telah dipesan. Ratna
memesan matcha latte dan menyesapnya secara perlahan dari cup transparan
melalui pipet yang lebih besar dari umumnya.
Mengayuh
sepeda ke rumah, di bawah terik, sama sekali tidak terasa. Rupanya Apa Cantoi
sudah berada di teras rumahnya. Gembira sekali dia. Bahagia di dalam dada
begitu meluap.
Apa Cantoi
berangkat dua hari sebelum hari pembukaan acara. Dia ingin menikmati setiap
jengkal perjalanan itu. Takengon adalah kota impian orang-orang pesisir. Ada
Danau Laut Tawar di sana. Sungai tidak jauh dari warung Apa Suh airnya sebagian
dari danau Laut Tawar. Apa Cantoi membayangkan bila ada kendaraan air yang
mendukung, bisa saja dia ke Takengon melalui sungai itu. Tetapi itu tidak
mungkin. Ada beberapa bendungan sepanjang aliran. Juga pada beberapa lokasi,
bebatuan tidak bisa ditembus.
Pada hari
keberangkatan, Apa Cantoi memutuskan melalui jalur warung kopi Apa Suh. Tidak lupa dia mengambil tas kain jins
bermerek Aimaco ukuran sedang yang dibeli kemarin. Rupanya saat bertemu Ratna
beberapa hari lalu, Apa Cantoi diberikan sejumlah uang. “Buat persiapan,” kata
Ratna sambil menyodorkan sebuah amplop di atas meja. Apa Cantoi menggeser kembali amplop berisi
uang yang lumayan tebal itu. Persis seperti bupati menggeser kembali uang yang
disodorkan bos tambang di lokasi yang sangat jauh dari sini.
“Jangan,” kata
Apa Cantoi malu.
“Buat ongkos,”
bujuk Ratna sambil senyum manis.
Apa Cantoi
berpikir. Benar juga butuh uang, Kalau tidak bagaimana bisa ke Takengon.
“Lebihnya buat
membeli pakaian dan lain,” kata Ratna dengan tatapan manis yang membuat Apa
Cantoi terpesona. “Lagi pula, butuh pegangan selama di sana.”
Apa Cantoi pun
mantap mengambil uang itu. Tak kuasa dengan ketulusan Ratna. Tak kuasa pula
dengan jeritan kantongnya yang kosong.
Kemarin dia ke
Bintang Kejora. Dia membeli sebuah kemeja kotak-kota merah, sebuah celana kain
hitam, kemeja putih lengan panjang, tas bahan kain jins merek Amaco ukuran
sedang. Tidak ketinggalan celana Favo impian. Dia juga membeli sekotak celana
dalam Champiro bentuk bokser, sebuah sandal Dodoni hitam tali tiga, dan dua
potong kaos putih lengan pendek yang digemari merek Hings. Apa Cantoi berpikir,
ternyata manusia bisa saja membuat ragam estimasi dan merencanakan berbagai hal
serta mengambil-langkah-langkah tertentu. Namun hasilnya tetap saja telah
ditentukan oleh Tuhan. Apa Cantoi ingat bagaimana dia sangat menginginkan
celana Favo. Dia telah mengumpulkan uang dalam waktu yang lalu. Rupanya masih
kurang. Bekerja hampir sepanjang bulan puasa, setelah uang terkumpul, harus
diberikan kepada Jusmadi. Namun ternyata Tuhan punya rencana. Tuhan punya
banyak cara untuk membahagiakan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Bagi Tuhan
itu semua sangat mudah. Dia benar-benar Mahakuasa. Apa Cantoi jadi teringat
pepatah India: Bila Tuhan hendak memberi, Dia akan memberikan sangat banyak.
Tampaknya
memang nilai kehidupan itu terletak pada sebuah usaha, suatu proses, bukan dari
hasil yang didapatkan. Karena rupanya hasilnya itu sangat mudah bagi Tuhan
untuk mengabulkan. Apa Cantoi juga sempat ke toko sebelah Bintang kejora yakni
toko Maba. Di sana dia membeli minyak rambut jenis pomade merek Gatsby botol
coklat. Dibelinya pula sampo merek Clear. Semua belanjaan itu, kecuali yang
langsung dikenakan, telah dimasukkan ke dalam tas Aimaco yang juga dibeli
kemarin di Bintang Kejora.
Hari itu Apa
Cantoi sudah stedi dengan celana Favo, kemeja kotak-kotak merah, dan
sandal Dodoni tali tiga warna hitam. Sandal Dodoni itu telah diimpikan Apa
Cantoi sejak kecil. Dia pernah ke rumah saudarnya dan dan melihat sepupunya
mengenakan Dodoni tali tiga hitam. Sejak saat itu Apa Cantoi berhasrat suatu
hari nanti dapat memiliki Dodoni tiga tali hitam. Pernah waktu muda, Apa Cantoi
hampir memilikinya.
Waktu itu, Apa
Cantoi diminta pergi ke Medan untuk bekerja di kedal kelontong. Dia diberikan
sejumlah uang sebagai ongkos dan untuk membeli berbagai perlengkapan. Saat ke
Bintang Kejora, Apa Cantoi membeli satu kaos berkerah ada lambang payung kecil
di dada sebelah kiri. Ada sebuah saku di bawah logo itu. Kemudian Apa Cantoi
membeli dua celana jins. Satu mereknya Lea, satunya lagi Levi's. Tidak lupa
sebuah kemeja kain lengan pendek berwarna gelap dari bahan kain yang lembut.
Tentu saja dia membeli tas kain jins merek Aimaco. Uniknya, Apa Cantoi
dipesankan untuk membeli tas demikian yang berukuran sedang. Karena uang yang
diberikan masih banyak sisa, Apa cantoi membeli sebotol minyak wangi
Casablanca, sebotol Brisk, sebotol Clear, dan sekotak tisu Mandom. Tidak lupa dia
membeli sebuah sisir kecil dan tali pinggang Dunhill yang kepalanya bertutup.
Kemarin Apa
Cantoi ke Bintang Kejora, tidak lagi tersedia beberapa kebutuhan kosmetik pria.
Dia mencari tali pinggang Dunhill kepala bertutup juga tidak ada lagi. Dompet
Dunhill masih ada, tetapi produk lama. Apa Cantoi belakangan kurang membutuhkan
dompet karena dia lebih suka memakai tas selempang kecil. Dia punya merek Eiger
bewarna hijau.
Apa Cantoi
kembali teringat saat dia membeli tas merek Aimaco ukuran sedang sebelum ke
Medan dulu. Dia mengingat kenapa dipesan merek demikian dan kenapa harus ukuran
itu. Itu tampak agak masuk akal karena umumnya waktu itu untuk perjalanan jauh,
orang-orang umumnya memakai merk itu. Tetapi pesanan ukuran sedang juga tampak
wajar karena kalau ukurannya terlalu besar, itu bisanya dipakai oleh sekeluarga
saat berjalan jauh. Laki-laki yang bepergian sendiri umumnya memakai ukuran
sedang. Ukuran kecil juga ada yang memakai, tetapi hanya untuk perjalanan antar
kabupaten.
Apa Cantoi
telah mengunci pintu rumah. Dia melewati rumah Kak Boyti. Maida yang duduk di
beranda rumah memberi senyum kepada pria itu. Apa Cantoi larut dalam pikirannya
sendiri saat sambil mengayuh sepeda. Dia mulai sadar bahwa terdapat kemungkinan
tasnya ditukar oleh seseorang di tengah jalan sehingga saat bus diberhentikan
di salah satu kawasan di Langkat, dia harus sekolah sepuluh tahun di bawah
Departemen Hukum. Dia harus tinggal di sebuah kawasan yang letaknya beberapa
belas kilometer dari Pusat pasar Medan.
Apa Cantoi
bertanya-tanya kemungkinan di mana tas dia ditukar.
Dalam proses menuju sekolah itu, Apa Cantoi sama sekali
tidak ingin melakukan klarifikasi apapun. Di dalam hatinya ada rasa syukur
karena bukan didakwa terlibat dengan gerakan tertentu yang saat itu sedang
marak. Dia menerima takdir unik itu begitu saja. Antara lain karena tidak
mungkin pulang kampung setelah berpamitan kepada semua orang. Jadi menurutnya,
meskipun tidak bekerja, sekolah pun jadi. Asalkan jangan muncul di kampung. Itu
sangat memalukan. Pula, Apa Cantoi berestimasi, kampungnya itu sudah kurang
layak untuknya. Kurang lebih sepuluh tahun Apa Cantoi bersekolah di sana. Saat
dia kembali, semuanya telah berubah.
Presiden yang telah memimpin negaranya selama tiga
dekade telah berganti. Padahal orang-orang waktu itu tidak punya bayangan bahwa
presiden itu bisa diganti. Bahkan saat Apa Cantoi kembali, rupanya sudah
terjadi pergantian presiden sebanyak lima kali. Ini membuat Apa Cantoi heran
tingkat tinggi. Bayangkan sebelumnya presiden itu-itu saja selama berpuluh-puluh
tahun hingga orang sama sekali tidak mampu membayangkan bapak presiden itu bisa
diganti. Bahkan mungkin banyak orang mengira dia telah menjadi presiden sejak
bumi ini ada dan akan terus menjadi presiden selamanya: tidak mungkin berganti;
menjadi berganti lima kali dalam satu dekade. Rupanya presiden bukan cuma bisa
diganti, tetapi bisa digonta-ganti.
Problem yang
lebih besar dihadapi pikiran Apa Cantoi waktu itu tentu bukan urusan politik
yang mana itu merupakan urusan orang Jakarta. Yang ada dalam pikiran Apa Cantoi
adalah dimana tasnya itu tertukar. Apa Cantoi coba mengenang kembali malam
keberangkatannya ke Jakarta. Dia sore hari duduk di warung Silek untuk makan
indomi.
Di warung Silek, sore hari beberapa anak muda duduk di
pinggir jalan Matang Tanjong. Mereka hanya sekedar
duduk di bangku panjang depan warung. Anak muda di sana sore hari datang dari
rumah mereka berjalan kaki setelah mandi bersih, mengenakan celana jins, baju
kaos baru, sandal favorit. Si Pon Misalnya, setelah membeli sandal baru merek Adidas
seharga Tujuh Puluh Ribu Rupiah, mandi mengenakan Lea dan kaos putih berwarna
putih dengan gambar logo Levi's di bagian depan. Kaos itu sudah dilap dengan
tisu pewangi Mandom. Dia tidak lupa memasukkan dompet bagian kanan kantong
belakang Lea-nya, lengkap dengan sisir kecil. Si Pon juga sudah memakai
Casablanca beberapa kali semprot. Takut kehilangan wangi di jalan karena dia
harus berjalan lima ratus meter dari rumahnya di Lorong
Pisang Monyet, tisu Mandom disimpan di kantong belakang sebelah kiri.
Rambutnya sudah disisir rapi setelah memakai Tancho. Katanya, dia tidak cocok
pakai Brisk. Padahal Brisk adalah favorit para anak muda karena selain membuat
rambut jadi rapi, juga aromanya wangi.
Sore itu,
sebelum ke Medan, Apa Cantoi berjalan ke warung Silek yang berjarak lebih
sekitar dua ratus meter ke arah utara. Dia sudah mandi dan mengenakan sepasang
baju baru yang telah dibeli di Bintang Kejora yakni kaos berkerah dengan
lambang payung kecil dan celana jins merek Lea lengkap tali pinggang Dunhill
kepala bertutup. Sandalnya juga yang baru dibeli yakni Dodoni hitam tali dua
juga dipakai. Tisu Mandom dibuka dan diambil selembar lalu dimasukkan ke dalam
Aimaco ukuran sedang. Minyak wangi Casablanca dan Brisk dipakai lalu ikut
dimasukkan ke dalam tas kain jins itu bersama Clear, celana jins merek Levi’s
dan kemeja lengan pendek berwarna gelap.
Di warung Silek, Apa Cantoi mentraktir beberapa pemuda di sana. Apa
Cantoi makan indomi bersama sasparilla merek Dardanilla. Pemuda minum limun
seolah baru turun dari Land Cruiser: sangat elit.
Karena Apa
Cantoi yang mentraktir, semua orang di warung Silek mendengar perkataannya. Sudah
menjadi hukum alam, siapa yang membayar, dialah yang paling banyak bicara.
Siapa yang paling banyak berbicara, dialah yang membayar. Apa Cantoi mengatakan
akan ke Medan untuk bekerja di sana. Sore itu semua orang takjub. Padahal
beberapa malam sebelumnya, Apa Cantoi juga telah menyampaikan itu di warung
Silek saat para pemuda sedang menonton Layar Emas yang kali itu sedang
menayangkan Jurrasic Park. Tetapi tidak ada yang peduli. Bukan karena filmnya
asyik, karena sebagus apapun film yang diputar, orang-orang lebih suka
mengobrol daripada mengamati film. Itu hanya karena mereka bayar masing-masing.
Pemuda-pemuda yang hadir di warung Silek malam hari tentu sedang berisi
kantongnya. Musim panen hampir semua pemuda sedang punya uang, yakni hasil
mengangkat padi dari sawah. Biasanya mereka pesan indomi yang dimasak
menggunakan bumbu mie. Uang seribu sudah lebih dari cukup: sepeporsi indomi,
sebotol limun, dan beberapa batang rokok.
Malam hari Apa
Cantoi sudah tiba di Kota Peusangan. Warung Kopi Datang Lagi tutup malam hari.
Apa Cantoi terlebih dahulu ke warung kopi Siang Malam untuk makan dan minum
secangkir kopi. Tas Aimaco diletakkan di atas meja. Waktu itu, kalau malam ada
yang mengopi dengan meletakkan tas di atas meja, dia akan dikagumi karena kalau
bukan telah datang, berarti akan pergi ke tempat yang jauh. Kalau itu malam
hari, hampir dapat dipastikan dia menuju atau pulang dari Medan. Orang yang
bepergian jauh berarti punya pengalaman lebih luas dan pastinya punya
pengetahuan lebih banyak. Pada posisi itulah orang yang pergi jauh sangat
dihormati karena pengetahuannya dan sangat disegani karena pengalamannya. Sebab
itulah, di kampung-kampung waktu itu, menantu idaman adalah supir angkutan
umum. Selain karena selalu tampil rapi, mereka adalah orang yang berperjalanan
jauh, minimal ke kota kecamatan setiap hari.
Apa Cantoi menyantap sate di Siang Malam sebelum berangkat.
Daging digunakan adalah daging kambing. Rasanya sangat khas sehingga kemudian
terkenal di seluruh Indonesia. Salah satu hal yang membuat Apa Cantoi terkejut
dan kurang terima adalah setelah dia pulang dari sekolah di bawah Departemen
Hukum, daging yang digunakan adalah sapi. Meski demikian, minat masyarakat,
khususnya generasi baru, tidak berkurang. Tak dapat dipungkiri, sebagian
generasi lama banyak yang kecewa. Sate kambing kota itu tinggal kenangan.
Selain karena
meletakkan tas di atas meja, memesan sate menambah karisma Apa Cantoi di Siang
Malam. Meskipun, banyak pelanggan yang kurang mengenalnya. Karena, Siang Malam
biasanya menjadi langganan mengopi para toke pinang: orang orang menengah ke
atas di Kota Peusangan. Di antara sedikit yang mengenal, Toke Suman adalah
salah satu yang mengenalnya. Toke Suman tidak
minder di hadapan orang yang meletakkan tas di atas meja karena dia paham bahwa
paling-paling orang demikian hanya akan ke Medan. Sementara dia sendiri pernah
ke Jakarta.
Pulang dari
mencari pinang di pedalaman, Toke Suman kerap singgah di Siang Malam untuk
melepas lelah dengan menikmati secangkir kopi. Sesekali dia memesan martabak
atau roti cane untuk dibawa pulang. Toke Suman menyapa Apa Cantoi. Setelah
mereka mengobrol beberapa lama, sambil akan pulang, Toke Suman menghantar Apa
Cantoi ke terminal yang sebenarnya bisa ditempuh hanya dengan menyeberang jalan
lalu jalan sedikit ke arah barat. Tetapi dihantar dengan mobil itu sangat
penting, agar para petugas di terminal lebih respek terhadap calon
penumpangnya.
Tiba di
terminal, Apa Cantoi ke loket dan membeli tiket bus Pelangi kelas atas. Dua Belas
Ribu Rupiah ke Medan. Bangku dua satu. Itu sangat mahal karena untuk kelas
biasa sebenarnya hanya Delapan Ribu Rupiah. Saat itu Apa Cantoi coba mengingat
ingat saat sedang menunggu bus di terminal apakah dia masih memagang tasnya.
Apa Cantoi
mengingat-ingat apakah mungkin Toke Suman yang menukar tasnya. Apa Cantoi ingat
saat hendak naik ke Chevrolet Luv Longbed, dia mengambil sendiri tas dari atas
meja, menjinjing dan memasukkannya ke mobil. Apa mungkin dia meletakkan tas itu
di bak pickup, bukan dibawa ke kabin. Apa Cantoi lupa. Ada kemungkinan tasnya
tertukar dengan tas Toke Suman. Lagi pula orang itu datangnya tiba-tiba dan
menawarkan bantuan menghantar ke terminal. Tetapi Apa Cantoi jadi terpikir
apakah dia dapat memastikan bahwa dia masih bersama tas Aimaconya saat menunggu
bus di terminal.
Loket dan bangku
tunggu penumpang terletak di tengah-tengah terminal yang bersebelahan dengan
bioskop PHR. Ujung barat terminal adalah lokasi mangkal angkutan umum arah
Jangkar via Matang Segi. Sama seperti angkutan ke Jangkar via Jalan Jangkar,
angkutan umum ke Jangkar via Jalan Matang Segi adalah Chevrolet Luv Longbed
yang dipasang dua bangku panjang dari kayu yang punya sandaran dibuat dari
kayu. Dipasang berhadap-hadapan. Ujung
selatan adalah lokasi mangkal angkutan umum ke Tanjung yang menggunakan jenis
kendaraan yang sama namun lebih heroik karena tidak ada tambahan bangku dari
kayu. Meski demikian, angkutan umum ke Tanjung dan Kepala Jalan lebih aktif
ngetem di Bawah Angsana.
Apa Cantoi
berusaha keras mengingat apakah dia bersama tas Aimaco ketika sudah berada di
terminal. Dia berusaha keras, tapi kurang berhasil. Dia membayangkan tidur di
sebuah bangku terminal dengan menjadikan Aimaco sebagai bantal. Tetapi Apa
Cantoi ragu. Itu tidak mungkin. Karena bus Pelangi cepat datang, tidak perlu
menunggu lama hingga harus rebahan di atas bangku terminal.
Kenangan
terakhir yang diingat Apa Cantoi adalah dia mengangkat tas Aimaco dan
membawanya serta naik mobil Toke Suman. Tidak mungkin tas itu diletakkan di bak
karena biasanya Chevrolet Luv toke dipasang terpal penutup. Apalagi itu malam
hari, tentu tidak ada muatan. Apa Cantoi menduga-duga, apa mungkin sebenarnya tasnya
tertinggal di mobil Toke Suman. Ketika tiba di Langkat, dia mengaku bahwa
Aimaco entah punya siapa sebagai miliknya.
Dengan jengkinya menyusuri lorong Dusun Mutiara, Apa
Cantoi tiba di warung kopi Apa Suh. Dia singgah sejenak, menikmati segelas
kopi. Sebenarnya yang lebih esensial, dia ingin menikmati suasana ujung Mata
Air. Apa Cantoi ingin menikmati paduan irama embusan angin yang menyentuh
dedaunan kelapa yang membuat pohon itu bergoyang-goyang, dipadukan suara aliran
sungai menghantam bebatuan. Sungai itu menjadi batas Mata Air dan Meudang Kumbang
Meudang Ara. Rupanya ada Ampon Banta di warung Kopi Apa Suh.
Ampon Banta
sedikit banyak mengetahui secara simpang siur kejadian yang dialami Apa Cantoi
saat hendak ke Medan. Secara umum orang-orang percaya Apa Cantoi pernah sekitar
satu dekade ke Medan untuk bekerja. Namun Apa Cantoi sadar bahwa ada
desas-desus bahwa dia sekolah di bawah Departemen Hukum. Apa Cantoi tentu sadar
bahwa Ampon Banta adalah orang terpandang dengan ilmu dan pengalaman yang
mendalam. Orang yang ilmunya mendalam tentu saja bisa membedakan antara
kesimpangsiuran dan berita, orang seperti itu bahkan mengetahui perbedaan
antara berita dan fakta. Duduk semeja dengan Ampon Banta, Apa Cantoi agak
terbuka dengan Ampon Banta. Dia bercerita tentang pengalamannya ke Medan lebih lebih
dua dekade lalu.
Ampon Banta
tidak ingin terlalu mengorek detail tema tersebut karena terdapat kemungkinan
Apa Cantoi akan kurang nyaman. Ampon Banta mengatakan bahwa dia pernah
mendengar cerita, orang-orang yang bermaksud membawa barang haram, salah satu
strateginya adalah dengan menempatkan barang itu pada satu bus, kemudian dia
sendiri berangkat dengan bus lain untuk selanjutnya mengambil barang haram itu
di lokasi tujuan.
Kemudian Apa
Cantoi menceritakan agendanya di Takengon nanti.
“Itu sangat
penting,” jawab Ampon Banta.
Sebenarnya Apa
Cantoi singgah di warung kopi Apa Suh juga dengan maksud untuk mengumumkan
kepada orang-orang bahwa dia akan ke Takengon. Itu akan mengesankannya sebagai
orang penting. Bukankah orang penting itu sering pergi ke luar kota.
Apa Cantoi sebenarnya ingin lebih lama menikmati suasana
alam ujung timur Mata Air. Dia tidak
buru-buru karena memang acara baru dimulai lusa. Tetapi kedai kopi Apa Suh yang
sedang kurang ramai, membuat Apa Cantoi kurang berhasil mengumumkan bahwa dia
akan ke luar kota. Tetapi itu tidak terlalu bermasalah. Karena biasanya pemilik
warung kopi akan menceritakan sesuatu kepada pelanggan lain, pelanggan lain
akan berbagi cerita dengan pelanggan lainnya, demikian seterusnya. Apa Cantoi
meraih jengki dan bergerak ke arah utara. Dia benar-benar menikmati suasana
asri di sepanjang jalan. Rumah-rumah hanya satu dua. Selebihnya adalah
semak-semak dan kebun warga.
Tiba di simpang
kedang kopi simpang Kedai Angsana, Apa Cantoi memasang standar jengki dan
memesan kopi. Pengunjung lain warung kopi memerhatikan sepeda Apa Cantoi. Di
boncengan sepeda diletakkan Aimaco sedang yang menunjukkan bahwa empunya
sepeda akan ke luar provinsi. Apa Cantoi mengobrol ringan dengan pengunjung
lainnya.
“Ke Takengon,”
desah Apa Cantoi penuh bangga namun ingin terlihat seperti mengeluh, agar
terkesan perjalanan jauh sudah biasa dia lakukan. Klarifikasi itu penting
karena orang-orang bisa saja mengira Apa Cantoi akan ke luar provinsi.
“Bereh,
Apa,” jawab salah seorang.
“Hanya
mengikuti kursus,” ungkap Apa Cantoi. “Mungkin sekitar satu minggu
Setelah
membayar kopi dirinya dan beberapa orang di warung kopi, Apa Cantoi berlalu.
Membayarkan kopi menunjukkan seseorang sedang banyak uang. Penuh kebanggaan.
Apa Cantoi
balik sedikit ke arah Sungai Kuli lalu tiba kembali di jalan sisi sungai.
Rupanya di sana sedang dipasang rangka persiapan peternakan ayam kampung. Apa
Cantoi ingat dulu orang-orang tidak mengenal ayam kampung. Namun sekarang
ternak ayam itu sangat berperan mengatasi krisis pangan.
Apa Cantoi tiba
di jembatan Pantai Kalong dan tertegun. Terkenang kembali masa-masa paling
indah bersama Ratna di sana. Rupanya pada sisi bukit sudah dibuat sebuah pondok
sederhana dua tingkat namun eksotis. Dia singgah dan memesan teh dingin dan mie
kuah. Rasanya luar biasa. Suasana di lantai dua sungguh indah meskipun tidak
luas. Dia duduk di sebuah meja menghadap jembatan. Aliran sungai menciptakan
irama yang indah. Tetapi hanya sesekali saja karena banyak kendaraan
berlalu-lalang.
Setelah
menikmati mie, sambil minum teh dingin, Apa Contoi coba menikmati suasana
Pantai Kalong hari itu. Indah memang. Tetapi kenangan masa lalu yang sering
muncul. Dia dan Ratna ke pantai seberang sungai. Berdua menikmati suasana,
memesan Coca-Cola, Fanta, atau Sprite ditambah es batu yang dimasukkan ke dalam
gelas. Lalu mereka memilih meja paling ujung yang disediakan, paling dekat
dengan aliran sungai. Menikmati senja dengan memandangi aliran sungai dan kebun
kates di bukit seberang sungai, mereka berdua larut dalam suasana.
Ingin
sekali Apa Cantoi kembali ke suasana itu. Ingin sekali dia waktu berputar
kembali. Dunia yang dia dapatkan setelah lebih satu dekade saat kembali,
benar-benar berbeda. Masa muda telah hilang. Tetapi ada satu hal yang membuat
dia bahagia dan tersenyum. Yakni orang yang di sampingnya waktu menikmati senja
di seberang sungai itu dulu adalah orang yang sama. Apa Cantoi tersenyum. “Ratna.”
Setelah membayar,
Apa Cantoi kembali mengayuh jengkinya. Padahal dia bisa ke Kota Peusangan
melalui Rawa Kecil. Namun itu tidak dilakukan. Dia lebih memilih melalui Pantai
Kalong. Suasana perjalanan melalui jalan sepi, lebih menarik baginya. Di atas
itu, dia ingin memanggil kenangan masa lalu. Kenangan itu sangat mahal baginya.
Mengayuh sepeda puluhan kilometer bukan masalah. Apalagi melalui pantai kalong hanya
selisih beberapa kilometer saja.
Apa Cantoi
berjalan melalui pinggir irigasi. Sebelah kanannya adalah aliran yang dibangun
untuk mengairi sawah. Sementara sebelah kirinya, dulu adalah bebukitan yang
ditumbuhi ilalang panjang di kaki bukit dekat jalan dan di atas bukit banyak
tumbuh bambu dengan berbagai jenis. Sekarang kaki bukit suda diganti dengan
banyak rumah. Bahkan beberapa sisi bukit sudah dikeruk. Bisa jadi akan membuat
rumah lagi maupun membangun gudang. Seberang irigasi ada sebuah gudang yang
sudah ada sejak Apa Cantoi masih remaja. Itu adalah gudang pinang milik salah
seorang paling kaya di Kota Peusangan. Toke Suman adalah bagian dari usaha
pinang orang kaya itu.
Pada sisi kanan
ujung irigasi sebelah kanan adalah terminal baru. Seingat Apa Cantoi, dia
pulang dari pendidikan di bawah Departemen Hukum, terminal itu sudah berdiri. Saat
berangkat, via terminal lama, saat pulang via terminal baru.
Apa Cantoi tidak
ke terminal itu. Dia akan ke warung kopi Datang Lagi. Dia akan menitipkan
sepeda di sana. Lagi pula dia berencana berangkat tidak melalui terminal. Itu
tampak terlalu formal. Dia ingin menyetop kendaraan umum di jalan. Perjalanan
jauh seperti itu lebih tampak nuansa petualangannya. Lagi pula Apa Cantoi di
warung kopi Datang lagi, merasa perlu mensosialisasikan keberangkatannya ke
Takengon.
Apa Cantoi
dapat melajukan sepedanya dengan kencang di tengah pasar Kota Peusangan meski
itu hari Kamis. Nyaris tidak ada pengunjung sama sekali. Hanya ada toko-toko
yang buka. Para penjual hanya duduk termenung di depan toko. Dulu waktu Apa
Cantoi belum berangkat sekolah di bawah Departemen Hukum, setiap hari kamis,
termasuk Kamis pertema setelah lebaran, orang-orang selalu ramai di pasar,
persis seperti sedang konser Rhoma Irama. Waktu Apa Cantoi belum lama pulang,orang-orang
masih ramai. Namun hari itu, pasar sepi seperti kuburan.
Tiba di Warung
Kopi Datang lagi, hari sudah siang. Sepi. Hanya ada Apa Pan, penjual kopi dan
Apa Randus.
Apa Cantoi
minta izin menyimpan sepeda dan langsung menyandarkannya ke dinding bawah
tangga.
“Ke mana, Apa?”
tanya Apa Randus?
“Takengon,”
jawab Apa Cantoi girang.
“Luar biasa.”
“Ada pelatihan satu minggu.”Apa Cantoi
senyum bahagia.
“Luar biasa
memang, Apa!”
Mereka mengopi sambil
ngobrol.
“Ada lihat
Jusmadi?”
“Mungkin masih
mudik.”
“Enggak. Dia
sudah pulang mudik,” jawab Apa Randus. Kopi diseruput dan melanjutkan, “Ke
Banda dia.”
“Beliau memang
hebat.”
Tertawa Apa
Randus dengan tanggapan Apa Cantoi.
Apa Cantoi
heran. Apa Randus kembali menyeruput kopi, lalu berkata, “Ada sidang dia.”
“Hebat Bapak
itu. Bisa sidang ke kampus di Banda.”
Pecah tertawa
apa Randus. Apa Cantoi semakin heran.
“Dia disidang
bukan menyidang.”
Apa Cantoi
bertambah lagi herannya. Setahu Apa Cantoi, Jusmadi sudah menyelesaikan semua
jenjang pendidikannya.
“Sidang administrasi.”
Apa Randus tidak
melanjutkan, mengingat Apa Cantoi mungkin tidak akan paham.
Sebenarnya Apa Randus juga tidak terlalu paham. Jadi
mereka mengarahkan pembicaraan pada tema lain.
“Sekarang hari
Kamis sudah sangat sepi, ya,” kata Apa Cantoi.
“Ya begitu,”
Apa Randus melanjurkan, “Orang-orang toko menjual dagangan sangat mahal.
Sekarang tidak bisa begitu. Di internet bahkan orang tahu modalnya berapa.
Harga di internet jauh lebih murah. Barang di toko mahal semua. Haga sewa toko,
listrik, gaji karyawan, beli rak, desain toko, semuanya dibebankan kepada
pembeli melalui harga barang yang dijual.”
Apa Cantoi pamit dan berjalan ke arah jalan raya Medan
Banda Aceh. Niat hati berjalan sedikit ke arah barat untuk menunggu angkutan
umum. Tetapi dari seberang jalan seseorang memanggilnya. Dia penasaran dan
menyeberang. Rupanya Apa Rajab. Kemudian Apa Rajab mengajak Apa Cantoi ke
warung Kopi Siang Malam. Di sana rupanya sudah duduk Apa Subra. Mereka bertiga
mengobrol.
“Jadi juga
rupanya Apa Cantoi ke Takengon?”
“Iya.”
“Jadi semua
orang sudah tahu, tapi kami tidak dikabari?”
Apa Cantoi
melirik Apa Rajab yang sedang kesal. Kemudian pandangan dialihkan ke wajah Apa
Subra yang matanya sedang melotot. Dia sangat mengerikan bila sedang melotot.
Kumis tebalnya membuat pria yang waktu mudanya itu adalah seniman orkes yang
kemudian alih profesi menjadi pembawa drama monolog di sebuah radio di Kota
Peusangan itu mirip seperti algojo pada film Bollywood. Mereka berdua kesal
dengan Apa Cantoi yang mau pergi jauh tetapi tidak diberitahu padahal mereka
adalah teman dekat. Sejauh ini memang paling jauh, Apa Rajab dan Apa Subra
adalah teman Apa Cantoi yang paling dekat. Bahkan mereka sudah berteman sejak
remaja, sejak Apa Subra dan Apa Rajab masih magang pada sebuah grup orkes yang
bermarkas di Gelanggang Rabu. Setelah orkes bubar akibat semakin maraknya
kehadiran televisi, Apa Rajab memilih berjualan obat-obatan tradisional. Dia
mangkal pada hari pekan di kota-kota kecamatan.
Saat mereka
sedang mengobrol; Apa Cantoi tiba-tiba mendapatkan panggilan alam. Sebenarnya
ada dua toilet pada dua tangga bagian tengah belakang warung kopi itu, namun
memilih ke toilet lantai dua karena sekalian akan sembahyang. Selesai
sembahyang saat akan menuruni tangga, dia melihat tas Aimaconya di pinggir
dinding dekat tanggal.
Saat turun
mereka mengobrol sejenak dan Apa Subra mengatakan ada keperluan di Kota Bireuen
sehingga Apa Cantoi diharuskan ikut dan nantinya naik angkutan ke Takengon dari
terminal Bireuen. Apa Cantoi yang belum sempat kembali duduk segera mengikuti
Apa Subra menuju Avanza hitam yang diparkir di depan Siang Malam. Apa Rajab
yang masih meneguk kopi teritinggal dan sempat mengambil Aimaco Apa Cantoi yang
diletakkan di atas meja, lalu menyusul.
Tiba di
terminal Bireuen, segera supir L300 putih menjemput dan Apa Cantoi duduk pada
bangku paling belakang. Dia meletakkan tasnya di lantai mobil. Beberapa saat
kemudian, Apa Rajab menyerahkan Aimaco
yang hampir tertinggal di Avanza hitam. Saat mobil melintas depan Masjid Sultan
Jeumpa, Apa Cantoi sadar bahwa dia punya dua Aimaco.
Dibuka Apa
Cantoi tas yang diberikan Apa Rajab dan ternyata isinya memang pakaian dan
beberapa barang lain yang disiapkan Apa Cantoi tadi di rumah. Apa Cantoi
kemudian segera membuka Aimaco satunya lagi yang dia bawa turun dari lantai dua
Siang Malam tadi. Dia mengira itu tasnya meskipun tadi saat hendak diambil
sepersekian detik sempat terlintas
keraguan karena tas itu sedikit kusam.
Setelah dibuka,
Apa Cantoi sempat heran dengan isi tas tersebut. Tetapi dia merasa sedikit
aneh. Kepalanya menggali ingatan, sepertinya dia tidak asing dengan isi tas
tersebut. Betapa terkejutnya Apa Cantoi setelah menggeledah seisi tas tersebut,
isinya antara lain minyak
wangi Casablanca, sampo Clear, minyak rambut Brisk yang terletak di atas beberapa
potong pakaian yang dia beli lebih dua dekade lalu di Bintang Kejora lebih dua
dekade lalu ketika akan ke Medan. Tertegun Apa Cantoi di barisan paling
belakang L300 yang sedang melaju ke Takengon itu. Seharusnya dia sangat
antusias melihat keluar jendela untuk menikmati pemandangan alam sepanjang
jalan. Namun pria itu hanya bisa termenung sambil memagang erat botol minyak
rambut Brisk yang kini tidak bisa ditemukan lagi di pasar.
Ternyata Siang
Malam sudah dua puluh tahun lebih menyimpan Aimaco itu. Ternyata tas Apa Cantoi
tertinggal di sana saat dia hendak ke Medan dulu. Apa Cantoi tidak sempat menduga-duga
tas siapa yang dianggap Aimaconya saat di Langkat dulu.
Bentangan alam indah sepanjang jalan Bireuen-Takengon
berlalu begitu saja. Pikiran Apa Cantoi melayang entah ke mana.
Reviewed by Miswari
on
21.17
Rating:
.jpg)
Tidak ada komentar: