Emas Seratus Ribu

 

''Emas Seratus Ribu,'' seru seorang saudara seperguruan dengan suara seperti orang terkejut karena memang tampaknya memang dia sedang begitu. Perlahan aku coba mencerna. Saudara seperguruan lainnya tampak tenang saja. Mereka tenang bukan cuek.

Aku memikirkan sesuatu. Aku punya uang sekitar Seratus Tiga Puluh Ribu.  Tidak ada yang tahu. Bagaimana kalau membeli satu gram emas dan menyimpannya hingga nanti harga emas kembali normal. Tadi saat baru tiba di pasar, aku sempat melirik selembar koran yang tergeletak di atas meja. Sebuah judul menyatakan harga emas Tiga Juta. Sudah sangat mahal rupanya.

Karena aku sangat peka, sempat terpikir bagaimana nasib pemuda yang belum menikah. Namun aku sadar bahwa sekarang adalah jaman edan. Banyak pemuda sekarang tidak suka menikah dan mendapatkan kesenangan pernikahan. Mereka lebih fokus main judi. Kemudian di perjalanan aku sempat menoleh ke dalam sebuah toko emas. Sangat ramai. Kalau aku membeli emas lalu harganya kembali normal, tentu akan untung banyak. Tetapi aku sempat berpikir, akan berapa lama harganya kembali normal.    

''Kita tetap pada rencana awal,'' terdengar sebuah suara.

Rupanya itu adalah kakak Tertua. Lalu kami bergerak dan membeli roti sebanyak-banyaknya. Kami memasukkan roti-roti itu ke dalam baju, merekatkan di kaki, tangan, dada punggung, dan hampir semua anggota tubuh. Semua saudara seperguruan termasuk aku, melakukan itu. Saat berjalan, tidak ada yang mengetahui bahwa kami membawa makanan yang sangat banyak. Pakaian kami sangat longgar.

    Situasi tampak sangat kacau. Orang-orang sepertinya sedang sangat panik.

   ''Kita berjalan agak terpisah,'' perintah Kakak Tertua.

     Aku jaga jarak. Seseorang dengan motor tua berteriak menjajakan dagangannya yang tampak ganjil yakni bibit batang tebu. Dia berputar-putar dengan motor tua hitam dengan sangat lincah antara meja-meja dagangan di tengah orang-orang yang berdesakan. Tubuhnya yang tinggi kurus membuatnya sangat lincah. Dia beberapa kali mengusik seorang pria gemuk yang sudah tua yang juga menjual bibit tebu tetapi di atas sebuah meja dengan ditumpukkan. Sepertinya itu temannya. Pria tua itu tampak duduk saja tidak mempedulikan. Dia hanya diam, sementara si kurus terus berusaha menggoda dengan berputar-putar sekitar dagangannya. Pria tua gemuk tampak sedang gelisah sehingga tidak mempedulikan pria kurus yang sedang meliuk-liukkan motor di depannya.

     Aku nyaris tertabrak motor hitam pria kurus itu. Aku kehilangan rekan-rekanku. Aku tahu tujuan mereka semua adalah ke sebuah lokasi di hutan yang telah direncanakan. Kami punya kesepakatan, jika terpisah dari kawanan, akan pergi ke sebuah kuil tua untuk bertemu di sana. Biasanya dari sana kami berkumpul sebelum beranjak meninggalkan pasar untuk kembali ke padepokan kami. Tetapi kali ini kami tidak akan kembali ke padepokan.

    Aku ke kuil itu dan ternyata semua saudara seperguruan telah berkumpul di sana. Salah seorang saudara, Saudara Kedua, mengambil sebuah benda yang telah dibacakan mantra, api dinyalakan dan benda itu dibakar. Benda tersebut dipersiapkan Guru untuk dinyalakan di kuil tua yang dibangun di tengah kota. Dengan api yang menyala membakar sebuah benda di tangannya, Kakak Kedua menyerahkan benda terbakar itu kepada Kakak Pertama. Kakak Pertama melakukan beberapa jurus, melompat antara satu tempat ke tempat yang lain dengan gerakan-gerakan yang telah diajarkan. Kemudian api itu diletakkan pada salah satu titik depan kuil.

   Kami meninggalkan pasar dan tiba di hutan, pada sebuah tempat yang telah kami persiapkan sejak beberapa waktu yang lalu. Di sana kami tinggal dan bercocok tanam untuk menghasilkan makanan hingga situasi membaik. Kami telah bersepakat bila ada yang mendekati kawasan tempat kami tinggal, dia tidak boleh pulang dengan selamat karena dapat membahayakan kami selanjutnya.

Di suatu tempat, seorang pria tua membeli satu kardus mie instant, satu papan telur, satu kotak sarden, dan sekarung beras. Malam kemarin, malam temannya mengatakan akan terjadi perang. Dia mengajak istri dan anak-anaknya ke hutan dan tinggal di sebuah bungker yang digali semampunya. Setiap hari mereka bertani, menanam biji-bijian dan sayuran, mempersiapkan bekal makanan di masa depan.

   Ketika hujan mereka akan kesulitan karena bungkernya kemasukan air. Pria itu tidak punya pengetahuan yang cukup untuk bertahan hidup di hutan. Mereka hanya mampu menghemat makanan sambil menunggu sayuran dan biji-bijian yang ditanam cepat menghasilkan.

   Putra tertuanya menawarkan diri untuk berburu hewan, namun si pria tua itu melarang. Dia terlalu takut untuk mengizinkan putranya menjelajah hutan. Harimau dan hewan buas lainnya bisa menerkam kapan saja. Lagipula, bila kejauhan, dia takut putranya tersasar di tengah hutan.

    Suatu hari anak tertuanya itu pergi berburu sendiri dan membawa pulang seekor kelinci. Pria itu marah besar karena mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Ibunya tidak bersedia memakan daging hewan itu karena dilihat mirip tikus.

    Aku sangat kangen padepokan dan ingin pulang ke sana. Suatu hari Kakak Ketiga saat sedang mengambil air di sungai, melihat seorang pemuda sedang mencoba berburu ikan. Dari gelagatnya, Kakak Ketiga tahu pemuda itu adalah amatiran. Dia mengamati ikan di sungai dan terus berusaha menombak. Kakak Ketiga sebenarnya tidak tega melaporkan penemuannya atas manusia yang berada di sekitar mereka kepada Kakak Pertama, mengingat pemuda itu tampak sangat polos. Mungkin saja dia adalah pemuda yang coba menyelamatkan diri ke hutan sebagaimana yang mereka lakukan. Tetapi mungkin saja dia adalah intel yang yang menyamar dan berusaha memburu mereka. Tetapi karena tidak ingin mengkhianati saudara seperguruan, Kakak Ketiga akhirnya melaporkan kepada Kakak Pertama.

   Kami ditugaskan memburu pemuda itu dan menyergapnya dalam senyap. Kami menyeberangi sungai dengan mengintai. Rupanya kami menemukan sebuah keluarga yang sedang beraktivitas di hutan. Sama seperti kami, mereka menanam sayuran dan biji-bijian. Tidak seperti kami, mereka menanamnya dalam area yang terbatas. Mungkin kekurangan sumberdaya dan tenaga. Aku jadi malu dengan mereka. Kami yang merupakan orang perguruan di sebuah padepokan suci, tampak serakah dan khawatir dengan kekurangan duniawi. Sementara mereka masyarakat biasa, menanam secukupnya.

    Saat melakukan pengintaian, kami menemukan sebuah keluarga yang terdiri dari suami istri, dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Kami tidak berhasil menemukan pemuda yang kami. Kami mengamati secara seksama gerak-gerik keluarga itu dan dapat menyimpulkan bahwa mereka adalah bukan asli keluarga yang hidup di hutan, melainkan berasal dari kota yang tampak mengungsi ke hutan. Pada saat itu aku  bertanya-tanya dalam hati kenapa keluarga itu bisa mengetahui akan terjadi perang. Tidak mungkin mereka punya visi spiritual sebagaimana guru kami. Mustahil mereka lari setelah perang terjadi mengingat usia tanaman yang telah tumbuh.

    Rupanya hari itu, pemuda yang kami cari sedang berada di pedalaman hutan. Dia selalu memilih untuk berburu ke pedalaman hutan meskipun awalnya ayahnya tidak setuju. Hasil buruan yang dibawa sebenarnya sangat mendukung logistik keluarganya untuk bertahan. Mereka tidak akan kuat meski telah menyiapkan perbekalan logistik dari kota seperti sarden, mie instan, telur, dan beras.

     Hari itu si pemuda yang sedang berburu menyadari dirinya telah tersesat. Dia kehilangan sungai yang dijadikan patokan kediaman mereka. Dalam keadaan bingung, si pemuda menemukan seseorang yang berperawakan pendek namun telah dewasa memikul seikat kayu bakar. Si pemuda terus mengikuti orang itu. Tinggi orang itu lebih pendek dari manusia umumnya yakni sekitar seratus dua puluh lima sentimeter saja. Orang itu berjalan sangat cepat meskipun beban di pundaknya tidak ringan. Si pemuda terus mengikuti hingga mengalami kelelahan.

   Beberapa hari kemudian, pada satu siang saat kami sedang beristirahat, Kakak Kedua dan Kakak Ketiga yang pulang dari berburu malah membawa pemuda yang kami cari itu. Kakak Ketiga mengatakan pemuda itu mereka temukan pingsan di pinggir sungai arah ke hulu, jauh dari kediaman kami. Setelah dua hari dirawat, barulah pemuda itu sadarkan diri. Darinya kami tahu bahwa dia adalah anak pertama keluarga yang berkediaman seberang sungai.

   Pemuda itu menceritakan banyak hal tentang keluarganya. Darinya kami mengetahui bahwa alasan keluarga itu mengetahui perang akan terjadi adalah hasil prediksi ayahnya yang merupakan seorang pengajar dan pengamat politik.

Emas Seratus Ribu Emas Seratus Ribu Reviewed by Miswari on 19.42 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.