Resensi Buku Filsafat Terakhir: Evaluasi Filsafat Sepanjang Masa

Judul buku: Filsafat Terakhir: Evaluasi Filsafat Sepanjang Masa

Penulis: Miswari
Penerbit: Unimal Press
Tahun terbit: 2016
Tebal: x + 468 halaman

Buku Filsafat Terakhir: Evaluasi Filsafat Sepanjang Masa karya Miswari merupakan sebuah usaha ambisius untuk membaca, merangkum, sekaligus mengevaluasi perjalanan panjang filsafat manusia dari Timur hingga Barat, dari klasik hingga postmodern, dengan perspektif yang kuat pada filsafat Islam dan tradisi hikmah. Buku ini tidak sekadar menjadi buku sejarah filsafat, tetapi juga menawarkan sikap filosofis tertentu yang menempatkan filsafat sebagai jalan menuju pemahaman wujud dan kebijaksanaan, bukan semata permainan konsep rasional.

Sejak bagian awal, penulis sudah menegaskan orientasi utama buku ini: filsafat bukanlah ilmu spekulatif yang berhenti pada debat konsep, melainkan sarana penyucian intelektual dan spiritual. Dalam “Gerbang Filsafat”, Miswari mengkritik cara belajar filsafat yang kering, egoistik, dan hanya berorientasi akademik. Ia menekankan bahwa filsafat sejati menuntut kerendahan hati, kesadaran akan keterbatasan akal, serta keterbukaan hati untuk menerima hikmah. Nada reflektif dan sufistik ini menjadi ciri khas yang konsisten hingga akhir buku.

Secara struktur, buku ini sangat komprehensif. Miswari menyusun pembahasan mulai dari dasar-dasar filsafat dan epistemologi, filsafat Timur, filsafat Barat klasik dan modern, filsafat Islam, hingga postmodernisme dan implikasi filsafat terhadap manusia, pendidikan, sejarah, dan kebangsaan. Cakupan yang luas ini menjadikan buku ini semacam ensiklopedia filsafat dalam satu jilid, khususnya bagi pembaca Indonesia. Keunggulan lainnya adalah keberanian penulis untuk memasukkan filsafat Nusantara sebagai bagian integral dari diskursus filsafat dunia, sesuatu yang jarang dilakukan dalam buku pengantar filsafat konvensional.

Porsi terbesar dan terkuat dalam buku ini tampak pada pembahasan filsafat Islam. Pemikiran tokoh-tokoh seperti Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Suhrawardi, Ibn ‘Arabi, hingga Mulla Sadra diulas tidak hanya secara deskriptif, tetapi juga interpretatif. Miswari secara jelas berpihak pada tradisi filsafat hikmah dan wahdatul wujud, dengan Mulla Sadra sebagai puncak sintesis antara rasio, wahyu, dan intuisi. Dari sinilah makna “filsafat terakhir” dapat dipahami: bukan filsafat baru, melainkan filsafat tertinggi yang menyatukan seluruh jalan pencarian kebenaran.

Meski demikian, keberpihakan ini juga menjadi salah satu kelemahan buku. Pembahasan filsafat Barat modern dan postmodern cenderung bernada kritis dan normatif, bahkan kadang reduktif. Tokoh-tokoh seperti Nietzsche, Derrida, dan Foucault lebih sering diposisikan sebagai gejala krisis makna ketimbang sebagai pemikir yang memiliki kompleksitas internal. Bagi pembaca yang mengharapkan analisis netral, pendekatan ini mungkin terasa kurang seimbang.

Dari segi bahasa, buku ini menggunakan gaya penulisan yang puitis, reflektif, dan kadang menyerupai esai sufistik. Gaya ini menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Bagi pembaca yang telah akrab dengan filsafat Islam dan tasawuf, bahasa tersebut terasa hidup dan menggugah. Namun bagi pemula, gaya ini berpotensi menyulitkan pemahaman, terutama karena minimnya penjelasan teknis dan definisi sistematis pada beberapa bagian.


Filsafat Terakhir
adalah karya yang berani, luas, dan visioner. Buku ini tidak hanya mengajak pembaca memahami sejarah filsafat, tetapi juga merenungkan kembali tujuan terdalam dari aktivitas berfilsafat itu sendiri. Ia sangat layak dibaca oleh mahasiswa, dosen, dan pencinta filsafat yang ingin melihat filsafat sebagai jalan kebijaksanaan, bukan sekadar disiplin akademik.

Dapatkan e-book Filsafat Terakhir secara utuh di sini: 

https://www.miswari.my.id/2026/01/filsafat-terakhir.html

Resensi Buku Filsafat Terakhir: Evaluasi Filsafat Sepanjang Masa  Resensi Buku  Filsafat Terakhir: Evaluasi Filsafat Sepanjang Masa Reviewed by Miswari on 09.51 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.