Selasa, 24 Maret 2026

thumbnail

Optimisme Masa Depan Pendidikan

 

Saya optimistis dengan masa depan pendidikan di Indonesia. Karena banjir, saya pulang ke rumah orang tua. Di sana, anak saya yang sejak kecil sudah tinggal bersama neneknya kini sudah kelas 2 SMA. Di sana, saya kekurangan buku bacaan. Sehari tidak membaca, saya bisa depresi. Seminggu tidak melakukan itu, mungkin saya sudah bisa dibawa ke Banda.

Saya memperhatikan buku-buku yang tersedia di rumah ibu. Ada Tuntunan Salat. Saya sudah membacanya ribuan kali. Di kamar anak saya, saya menemukan buku pelajarannya. Saya membuka buku fisika. Banyak sekali rumusnya, seperti melihat ke dalam botol tinta. Saya membuka buku Bahasa Indonesia. Materinya luar biasa—tentang persuasi, wacana, narasi, dan sebagainya. Menariknya, setiap materi langsung disajikan dalam bentuk semacam studi kasus. Luar biasa cara belajar sekarang. Dulu, pendekatan kita sangat kaku. Saya juga membuka buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Materinya tentang toleransi dan sebagainya. Saya membaca buku sejarah; isinya sangat menarik, mulai dari imperialisme Eropa hingga Pergerakan Nasional.

Materi-materi dalam buku SMA, bila dipelajari dan dikuasai dengan baik, membuat seseorang yang hanya lulusan SMA memiliki wawasan dan pengetahuan yang setara dengan alumni sarjana di luar negeri. Perbedaannya hanya pada tingkat sarjana yang pembelajarannya lebih spesifik. Saya juga pernah mempelajari seluruh pelajaran SMP. Kedalaman materinya setara dengan SMA di luar negeri.

Dari segi level materi, pembelajaran di Indonesia itu luar biasa. Namun, mengapa kualitas siswa di Indonesia secara umum kurang membanggakan? Itu disebabkan faktor lain, salah satunya pengajar. Secara umum, pengajar di sekolah kurang kreatif dalam menemukan strategi dan pendekatan pembelajaran yang menarik. Peserta didik “nakal” adalah tantangan, bukan hambatan. Namun, reward untuk pengajar masih kurang memadai sehingga belum mendorong mereka mencurahkan segenap potensi dan kemampuannya.

Belakangan ini, hampir semua pengajar telah memperoleh reward yang lebih baik. Semoga hal itu dapat mendukung mereka mengerahkan daya untuk menghasilkan pendidikan dan pengajaran yang lebih berkualitas. Pelatihan dan penguatan keahlian pengajar, baik secara individu maupun kolektif, perlu menjadi perhatian penting. Pengajar tidak layak dibebani administrasi dan laporan dalam berbagai aplikasi yang jumlahnya tak terhitung. Pengajar tidak boleh sibuk dengan berbagai aplikasi. Tugas mereka adalah memperhatikan perkembangan setiap peserta didik. Jika sibuk dengan beragam administrasi dan aplikasi, tidak ada waktu untuk mengasah kompetensi diri dan memantau perkembangan peserta didik.

Ketika kinerja diukur berdasarkan absen dan bukti foto, masalah muncul. Mereka yang sibuk bekerja tidak sempat berfoto. Sebaliknya, mereka yang sibuk berfoto tidak sempat bekerja. Mereka yang fokus mengawal absen tidak sempat bekerja. Dan mereka yang sibuk bekerja tidak sempat mengisi absen.

Saya yakin bahwa yang membedakan kualitas sekolah pada umumnya dengan sekolah internasional berkualitas tinggi di Indonesia bukan terletak pada level materi pembelajarannya, melainkan pada kualitas pengajar dan fasilitas yang dimiliki. Oleh karena itu, selain meningkatkan kualitas tenaga pengajar, fasilitas, sarana, dan prasarana pendidikan juga perlu mendapat perhatian serius.

 

thumbnail

Tanah Ilmu

 Bagi banyak masyarakat, tanah bukan sekadar bentangan harta kekayaan, namun juga merupakan harga diri. Karena itu, seseorang bisa saja rela kehilangan harta, tetapi akan mempertaruhkan darah dan nyawa demi mempertahankan tanahnya. Mereka akan bersikeras jika batas tanah digeser tanpa izin. Ilmu pengetahuan juga demikian kiranya, bukan hanya sekadar suatu atribut personal untuk menunjukkan kepakaran, namun juga merupakan aktualisasi jiwa, yang mana jiwa itu sendiri adalah manifestasi eksistensi Tuhan. Sebab itulah seorang yang berilmu diberikan gelar 'alim yang diambil dari salah satu Asmaul Husna, yakni Al-'Alim.

Tanah merupakan satu jenis material unik karena di dalamnya mengandung ragam potensi berbagai jenis tumbuhan. Demikian pula ilmu pengetahuan, memiliki kandungan ontologis, epistemologi, dan aksiologi berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Tanah merupakan potensi, sumber, dan fondasi ragam tumbuhan. Tanah ilmu berarti sebuah pandangan filosofis tentang hakikat ilmu pengetahuan yang mengandung potensi, menjadi sumber, dan fondasi ontologis, epistemologi, dan aksiologi ragam bidang ilmu pengetahuan.

Dalam filsafat Heidegger, tanah (die Erde) merupakan kekuatan yang terus-menerus membuka kemungkinan segala sesuatu yang aktual sebagai suatu kebenaran (aletheia) yang terbuka. Dalam konteks ini, tanah ilmu merupakan ranah eksplorasi hakikat (ontologi), pembangunan fondasi (epistemologi), dan mengorientasikan bangunan (aksiologi) ragam bidang ilmu pengetahuan (interdisipliner).

Dalam tasawuf Hamzah Fansuri, tanah dianalogikan sebagai Ilmu Basith yang menjadi asal tunggal bagi ragam disiplin pengetahuan, sebagaimana munculnya keberagaman seperti kendi, periuk, buyung, dan tempayan.

Secara historis, tanah ilmu adalah tanah Syahri Nuwi yang menjadi pelopor pengembangan keilmuan Islam pertama di Asia Tenggara. Tanah Syahri Nuwi adalah negeri yang pertama menerima Islam sebagai keyakinan sekaligus menjadi nilai sosial-politik, yakni Kesultanan Peureulak.




Sabtu, 14 Maret 2026

thumbnail

Program Doktor Studi Islam Pascasarjana IAIN Langsa: Membangun Peradaban dengan Ilmu dan Integritas


Pembukaan Program Doktor Studi Islam di IAIN Langsa menandai langkah penting dalam pengembangan keilmuan Islam di Aceh khususnya dan Indonesia secara umum. Program ini hadir tidak sekadar sebagai jenjang pendidikan akademik tertinggi, tetapi juga sebagai ruang pembentukan generasi ulama-intelektual yang mampu menjawab berbagai tantangan zaman melalui pendekatan keilmuan yang mendalam, integratif, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kehadiran program doktor ini merupakan respons nyata terhadap kebutuhan masyarakat akan lahirnya pemikir Islam yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki integritas moral, kepekaan sosial, serta komitmen terhadap pembangunan peradaban yang berkeadaban.

Visi utama Program Doktor Studi Islam diarahkan pada pembentukan ahli ilmu keislaman yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan keluhuran etika. Dalam tradisi intelektual Islam, ilmu tidak pernah dipisahkan dari nilai-nilai moral dan spiritualitas. Oleh karena itu, program ini berupaya melahirkan cendikiawan muslim yang mampu memadukan ketajaman analisis ilmiah dengan kesadaran ruhani yang mendalam. Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan tidak hanya menjadi akademisi yang produktif dalam menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga menjadi figur teladan yang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial dan intelektual.

Selain menekankan kedalaman spiritual dan etika, Program Doktor Studi Islam juga mengusung gagasan harmonisasi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal. Dalam konteks Aceh dan Indonesia yang kaya akan tradisi, Islam berkembang melalui proses dialog kreatif dengan budaya masyarakat setempat. Program ini berupaya memperkuat tradisi tersebut dengan menjadikan budaya lokal sebagai salah satu sumber refleksi akademik dalam memahami dan mengembangkan pemikiran Islam. Pendekatan ini penting agar keilmuan Islam tidak terlepas dari realitas sosial masyarakat, sekaligus mampu menghadirkan solusi yang kontekstual terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Dalam kerangka yang lebih luas, Program Doktor Studi Islam juga diarahkan untuk melahirkan ulama-intelektual, akademisi, peneliti, dan pemimpin pemikiran Islam yang berkarakter kuat serta memiliki wawasan kebangsaan. Di tengah dinamika globalisasi dan kompleksitas sosial-keagamaan kontemporer, Indonesia membutuhkan figur-figur intelektual yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan dan kemanusiaan universal. Oleh karena itu, pendidikan doktoral di bidang studi Islam tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga pada penguatan karakter kepemimpinan intelektual yang berkomitmen pada persatuan, moderasi beragama, dan pembangunan masyarakat yang adil dan harmonis.

Program Doktor Studi Islam di IAIN Langsa juga menempatkan penelitian ilmiah sebagai pilar utama pengembangan ilmu pengetahuan. Para mahasiswa akan didorong untuk melakukan kajian mendalam terhadap berbagai bidang keilmuan Islam, mulai dari kajian Al-Qur’an dan Hadis, pemikiran Islam, hukum Islam, pendidikan Islam, hingga dinamika sosial-keagamaan kontemporer. Pendekatan trandisipliner menjadi ciri penting dalam pengembangan kurikulum, sehingga penelitian yang dihasilkan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memiliki relevansi praktis dalam menjawab persoalan umat dan masyarakat luas.

Melalui berbagai kajian tersebut, program ini berupaya membangun tradisi akademik yang kuat sekaligus relevan dengan kebutuhan zaman. Tantangan modernitas, perkembangan teknologi, serta perubahan sosial menuntut adanya pembaruan cara pandang dalam memahami ajaran Islam. Oleh sebab itu, Program Doktor Studi Islam dirancang sebagai ruang dialog ilmiah yang terbuka, di mana berbagai pendekatan keilmuan dapat dikembangkan secara kritis dan konstruktif. Dengan cara ini, keilmuan Islam dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar nilai-nilai dasarnya.

Lebih dari itu, visi besar yang ingin diwujudkan oleh program doktor ini adalah membangun peradaban melalui ilmu dan integritas. Peradaban yang maju tidak hanya ditopang oleh kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan nilai-nilai moral, spiritualitas, dan kebijaksanaan intelektual. Pendidikan doktoral menjadi salah satu sarana penting untuk melahirkan pemikir-pemikir besar yang mampu memberikan arah bagi perkembangan masyarakat dan bangsa.

Dengan hadirnya Program Doktor Studi Islam IAIN Langsa, Kementerian Agama Republik Indonesia melalui kebijakan pengembangan pendidikan tinggi keagamaan memberikan ruang yang lebih luas bagi para akademisi dan praktisi untuk memperdalam kajian Islam secara lebih komprehensif. Program ini diharapkan menjadi pusat pengembangan pemikiran Islam yang moderat, integratif, dan responsif terhadap berbagai tantangan global maupun lokal.

Akhirnya, kehadiran program doktor ini mengajak para sarjana dan akademisi untuk melanjutkan perjalanan intelektual mereka menuju tingkat yang lebih tinggi. Inilah momentum untuk memperdalam ilmu, memperluas wawasan, dan mengabadikan kontribusi melalui karya ilmiah yang bermakna bagi umat dan bangsa. Saatnya melanjutkan langkah, memperdalam ilmu, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi perkembangan keilmuan Islam serta pembangunan peradaban yang berlandaskan ilmu dan integritas.

 

Sabtu, 21 Februari 2026

thumbnail

Peluk

 


Monyet Jepang yang lagi viral. Ditolak induknya, dia mecari kehangatan pada boneka orangutan. Jagad maya menjadi mewek. Fenomena itu menunjukkan bahwa bagi hewan, apalagi manusia, sentuhan, pelukkan, dekapan, adalah aktualisasi kasih sayang yang lebih dibutuhkan dibandingkan kebutuhan fisik seperti makanan  dan kebutuhan materi lainnya. 

Sebuah riset yang melibatkan banyak ilmuwan selama waktu yang lama telah menunjukkan bahwa eksperimen terhadap primata menunjukkan bahwa, disiapkan dua boneka induk monyet, seekor monyet yang dibesarkan tanpa induknya memilih boneka dengan bulu lebih lembut daripada boneka lainnya yang bisa mengeluarkan air susu dari puting namun tidak memiliki bulu yang lembut. Hasil riset ini dapat membuktikan bahwa sentuhan dan pelukan lebih dibutuhkan sebagai aktualisasi kasih sayang dibandingkan ketercukupan materi. 

Manusia juga begitu adanya. Anak-anak lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayang daripada dibelikan berbagai ma macam mainan dan makanan enak. Anak-anak sebenarnya tidak membutuhkan hape, tetapi benda terkutuk itu diberikan karena orangtua tidak tahu atau kekurangan waktu bahwa dan untuk kebutuhan anak, perhatian, pelukan, dan bermain bersamanya, lebih dibutuhkan daripada hape terkutuk itu. 

Sebenarnya, tidak ada anak yang nakal atau bandel. Anak bandel adalah anak yang pintar namun kekekurangan pelukan, perhatian, dan kasih sayang. 

Kembali kepada bayi monyet itu, banyak netizen yang mengkritik karena tidak sanggup melihatnya dipersekusi monyet-monyet lain di kandang. Menurut saya, si bayi monyet harus terus berasa bersama kelompok meskipun itu keras, karena dia harus bertahan dan belajar hidup dalam komunitas selayaknya primata yang hidup berkelompok agar tidak kehilangan orientasi. Meskipun keras, dia harus bertahan.

Jumat, 20 Februari 2026

thumbnail

Transformasi Bahasa Melayu Pasai menjadi Bahasa Persatuan Nasional

 


Bahasa Melayu Pasai—yang kemudian dikenal sebagai bahasa Jawi—pernah menjadi nadi peradaban intelektual Islam di Nusantara. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan pengetahuan. Para ulama besar seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Al-Sumatrani dengan sadar memilih bahasa ini agar ajaran tasawuf dan pemikiran Islam dapat dipahami oleh masyarakat yang tidak menguasai bahasa Arab atau Persia. Bahasa Pasai menjadi bahasa rakyat—mudah dipelajari, mudah dicerna, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pilihan serupa dilakukan oleh Abdurrauf As-Singkili ketika menulis Mir’at al-Tullab untuk masyarakat Aceh dan dipersembahkan kepada Sultanah Safiatuddin. Dengan bahasa Jawi yang “dibangsakan kepada bahasa Pasai”, kitab hukum itu menjelma menjadi rujukan luas—dari pelajar hingga istana. Di tangan para intelektual seperti Nuruddin Ar-Raniri dan ulama lainnya, bahasa Melayu Pasai naik derajat menjadi bahasa ilmiah dan religius yang otoritatif.

Dari pesisir Pattani hingga Makassar, dari Riau hingga Mindanao, bahasa ini mengalir bersama jaringan dagang dan dakwah. Ia menjadi lingua franca kawasan maritim, menyatukan beragam suku dan budaya. Bahkan di masa kolonial, bahasa Melayu—dalam aksara Jawi—berubah menjadi medium perlawanan. Organisasi seperti Sarekat Islam, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah memanfaatkannya sebagai bahasa kesadaran kolektif.

Warisan kesusastraannya pun gemilang: Asrar al-‘Arifin, Syarabul ‘Asyiqin, hingga Bustanus Salatin memperlihatkan bahwa bahasa ini sanggup memikul gagasan metafisika yang rumit sekaligus kisah sejarah yang agung. Dari rahim tradisi Pasai inilah bahasa Melayu berkembang, dimatangkan, lalu diteguhkan sebagai bahasa persatuan pada momentum Sumpah Pemuda.

Dengan demikian, jauh sebelum Indonesia merdeka, bahasa Melayu Pasai telah merintis persatuan kultural Nusantara. Ia menyatukan ilmu dan iman, pasar dan pesantren, teks dan konteks—hingga akhirnya menjelma menjadi bahasa Indonesia, simpul identitas bangsa yang majemuk.


Lebih lengkapnya kunjungi artikel berikut:

https://jurnal.stainidaeladabi.ac.id/index.php/syaikhona/article/view/368/192




Selasa, 10 Februari 2026

thumbnail

Polsuspas

 


Tadi saya melewati Kuala Simpang yang masih dalam masa pemulihan pasca bencana banjir. Saat melewati lembaga pemasyarakatan Aceh Tamiang, beberapa penumpang membicarakan tentang keputusan melepaskan anggota pemasyarakatan saat air banjir bandang terus meninggi. Setelah listrik mulai membaik dan internet mulai muncul kembali beberapa hari setelah bencana, orang-orang baru bisa menulis, memuat, dan membaca berita tentang keputusan tersebut. Beberapa pembaca mempertanyakan keputusan tersebut karena khawatir bagaimana jadinya bila anggota lembaga pemasyarakatan dilepaskan ke tengah masyarakat sebelum waktunya. Sebagian memahami bahwa keputusan itu harus diambil demi kemanusiaan dan memang sesuai dengan amanat konstitusi. Mereka diberikan hukuman pemasyarakatan, bukan hukuman mati, jadi mana mungkin dibiarkan meninggal secara sengaja dengan membiarkan mereka terjebak di tengah banjir.

Apa yang dikhawatirkan sebagian masyarakat tentang anggota pemasyarakatan ketika harus berada di tengah masyarakat akibat bencana banjir ternyata tidak terjadi. Justru yang berlaku adalah sebaliknya. Beberapa berita melaporkan bahwa tidak sedikit anggota pemasyarakatan yang dilepas agar dapat menyelamatkan diri dari banjir, ternyata saat musibah itu sedang terjadi, mereka memiliki inisiatif untuk menyelamatkan warga yang terjebak banjir. Ada yang membantu evakuasi dan ada yang membantu mencarikan makanan buat masyarakat yang kesulitan mendapatkan makanan arena terjebak banjir yang tinggi.

Mungkin ada yang heran kenapa mereka yang belum waktunya berbaur kembali dengan masyarakat, tetapi justru melakukan aksi heroik bagi masyarakat. Tetapi saya sendiri sepertinya tidak heran. Saya ingat para Polsuspas sebagai pengawas, pembina, pengaman, dan penjaga keselamatan warga pemasyarakatan di Aceh Tamiang tidak sedikit yang telah lulus pendidikan S2. Waktu kuliah magister, mereka juga sangat disiplin, serius, dan bekerja keras meraih hasil yang baik. Saya yakin mereka berhasil membina warga pemasyarakatan dengan baik dan itu tidak lepas dari ilmu yang telah mereka dapatkan pada masa pendidikan magister bidang Hukum Keluarga Islam.

Kenapa Hukum Keluarga Islam? Pilihan ini bukan hanya karena mereka, Polsuspas di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Lebih dari itu, pilihan tersebut memiliki makna esensial.

Setiap peradaban memiliki landasan esensial dalam pembangunan hukum. Dalam peradaban Romawi, esensi hukum mereka adalah keadilan. Keadilan menjadi tonggak tertib sosial di sana. Peradaban India berasas pada keseimbangan. Mereka menghendaki keseimbangan batin dan harmonisme antara manusia dengan alam dan dengan Tuhan. Peradaban Cina berlandaskan kedisiplinan. Setiap anggota keluarga harus dengan disiplin menjalankan tugasnya. Demikian juga sebagai anggota masyarakat, setiap orang harus memiliki prinsip kedirian yang disiplin. Adapun peradaban Nusantara berasaskan pada kekeluargaan. Masyarakat Nusantara senantiasa bergotong-royong, bermusyawarah, dan saling menjaga dan melindungi.

Visi hukum yang berlandaskan kekeluargaan menuntut keseimbangan antara hak dan kewajiban. Setiap orang dapat menuntut haknya dan juga harus taat pada kewajiban yang harus dilaksanakan. Landasan hukum demikian memberikan kebebasan pada individu, namun bersama kebebasan itu ia terikat dengan tanggungjawab. Kebebasan yang tidak diiringi tanggungjawab, sebagaimana dikutip Yudi Latif dari pemikiran Isiah Berlin, adalah kebebasan yang buruk. Karena kebebasan demikian dapat mengorbankan individu lain. Hukum berlandaskan kekeluargaan juga tidak menghendaki sebuah dominasi yang berlebihan.

Dengan demikian, memilih bidang keilmuan Hukum Keluarga Islam merupakan pilihan esensial dalam memahami hukum di Indonesia. Hukum Keluarga Islam secara filosofis menekankan pada pembelajaran ilmu hukum yang sejalan dengan prinsip dasar hukum di Indonesia, sekaligus mengintegrasikan dengan prinsip-prinsip hukum dalam Islam. Pembelajaran ini tidak hanya sesuai dengan landasan hukum nasional, sekaligus sejalan dengan landasan norma masyarakat Muslim yang teguh dengan nilai-nilai Islam.

Bekal keilmuan tersebut menjadi pegangan bagi alumni Pascasarjana Hukum Keluarga Islam yang berkarir pada berbagai bidang termasuk para anggota Polsuspas di Aceh Tamiang yang berhasil mengayomi warga pemasyarakatan di Aceh Tamiang sehingga ketika berada di tengah masyarakat, warga pemasyarakatan memiliki inisiatif tinggi untuk membantu warga yang sedang tertimpa musibah.

Lembaga Pemasyarakatan Aceh Tamiang menjanjikan remisi besar bagi warga pemasyarakatan yang bersedia kembali ke lembaga pemasyarakatan pasca musibah banjir. Saya yakin dengan bekal sumberdaya Polsuspas yang berkualitas, lembaga pemasyarakatan Aceh Tamiang akan menjadi salah satu lembaga pemasyarakatan terbaik dalam usaha mengoptimalkan warga pemasyarakatan yang benar-benar siap untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat.

Minggu, 01 Februari 2026

thumbnail

Siapa Miswari Usman?

 

Miswari Usman adalah seorang peneliti independen dan penulis Indonesia yang aktif dalam bidang filsafat Islam, teologi, tasawuf, pendidikan agama Islam, serta sastra. Ia lahir di Paya Cut, Bireuen, Aceh, pada 12 September 1986. Pendidikan tingginya dimulai dari jenjang sarjana di Universitas Abulyatama, kemudian melanjutkan studi magister Filsafat Islam di ICAS–Paramadina, dan menempuh pendidikan doktoral dengan konsentrasi Filsafat Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada masa pelajar, ia juga pernah terlibat dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII).

Dalam perjalanan akademiknya, Miswari Usman dikenal sebagai akademisi yang mengintegrasikan studi agama, teologi, dan filsafat ke dalam karya-karya intelektualnya. Ia telah menulis puluhan artikel ilmiah yang dipublikasikan di berbagai jurnal akademik, termasuk yang terindeks Scopus dan Sinta, serta aktif sebagai penulis dan peneliti dalam publikasi ilmiah. Selain itu, ia juga produktif menulis buku, dengan jumlah karya yang disebutkan dalam profil akademiknya mencapai sekitar dua puluh judul.

Beberapa buku penting yang ditulisnya antara lain Filsafat Terakhir: Evaluasi Filsafat Sepanjang Masa, sebuah kajian kritis tentang perkembangan pemikiran filsafat dari berbagai aliran sepanjang sejarah; Filsafat Pendidikan Agama Islam, yang membahas konsep dan landasan filosofis pendidikan Islam; Islam Mazhab Tutup Botol, sebuah karya kritis terhadap kecenderungan pemikiran dan praktik keislaman kontemporer; serta Tasawuf Terakhir dan Teologi Terakhir, yang masing-masing mengulas tema tasawuf dan teologi dalam tradisi Islam.

Di bidang penelitian, Miswari Usman banyak menaruh perhatian pada sejarah dan filsafat Islam, khususnya kajian tentang tokoh-tokoh sufi Nusantara. Ia menulis artikel-artikel ilmiah mengenai rekonstruksi kehidupan dan pemikiran Hamzah Fanṣūrī, termasuk analisis atas ajaran Wujūdiyya, yang menunjukkan ketertarikannya pada mistisisme dan tradisi tasawuf Melayu-Islam. Keterlibatannya dalam publikasi jurnal ilmiah menegaskan posisinya tidak hanya sebagai penulis buku populer, tetapi juga sebagai peneliti akademik yang aktif.

Selain karya akademik dan nonfiksi, Miswari Usman juga menulis karya sastra. Beberapa di antaranya adalah novel Sir Teuku Banta Ahmad, kumpulan cerpen Bulat-Bulat Ditipu Kahlil Gibran?, dan kumpulan puisi Gadis Terakhir. Melalui keseluruhan karya tersebut, terlihat bahwa fokus pemikirannya mencakup kajian sejarah pemikiran Islam dari klasik hingga kontemporer, pendekatan tasawuf dan spiritualitas Islam terutama dalam tradisi Nusantara, serta filsafat pendidikan agama Islam baik secara teoretis maupun aplikatif.

 

 

 

About

recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.